FK Hajduk 1912 bersama suporter militannya. (Instagram @zulu.shop.kula)
JawaPos.com — Dejan Tumbas, salah satu bintang sepak bola Persebaya Surabaya musim ini, memulai perjalanannya di dunia sepak bola bersama FK Hajduk 1912, sebuah klub kecil di Serbia yang memiliki sejarah panjang dan penuh perjuangan.
Bukan sekadar klub sepak bola biasa, Hajduk lahir dari tekad untuk melawan ketidakadilan sosial dan diskriminasi, sekaligus menjadi simbol kebanggaan masyarakat Kula, Serbia.
Pada awal abad ke-20, sepak bola mulai diperkenalkan di kota kecil Kula, Serbia, oleh dua pemuda bernama Andras Futo dan Veljko Jerkov Ljubisa. Dengan bola sederhana yang mereka beli dari Budapest, mereka membawa permainan ini ke komunitas lokal.
Sepak bola dengan cepat menarik perhatian generasi muda Kula, meskipun pada masa itu, olahraga ini dianggap sebagai hiburan bagi kalangan tertentu saja.
Namun, pecahnya Perang Dunia Pertama (1914) menghentikan kegiatan sepak bola di Kula, termasuk aktivitas klub lokal saat itu, yaitu KAFK (Klub Atletik dan Sepak Bola Kula).
Setelah perang berakhir, masyarakat setempat bangkit kembali. Pada 1925, beberapa warga yang merasa KAFK tidak inklusif memutuskan untuk memisahkan diri dan mendirikan FK Hajduk 1912, sebuah klub baru yang lebih terbuka bagi semua kalangan.
FK Hajduk berdiri sebagai jawaban atas ketidakadilan sosial yang terjadi saat itu. Pada masa tersebut, sepak bola dianggap sebagai olahraga eksklusif yang hanya bisa dimainkan oleh kalangan atas, seperti pejabat, pengacara, dan pemilik pabrik.
Anak-anak dari keluarga buruh dan petani sering kali tidak dapat ikut serta karena mahalnya biaya untuk membeli perlengkapan sepak bola.
Hajduk membawa perubahan dengan membuka pintu bagi semua kalangan, terutama mereka yang berasal dari keluarga pekerja. Meski sering menghadapi keterbatasan sumber daya, para pemain dan pendukung Hajduk memiliki semangat yang luar biasa.
Mereka bahkan harus menyewa lapangan sendiri dan mendanai perlengkapan seadanya. Namun, solidaritas dan kecintaan terhadap sepak bola membuat Hajduk tetap bertahan.
Pada tahun-tahun awal berdirinya, Hajduk mulai bersaing di liga-liga lokal. Momen penting terjadi pada musim 1955/1956 ketika Hajduk memenangkan liga Subotica-Sombor.
Kemenangan ini membawa klub ke zona ketiga kompetisi sepak bola Yugoslavia, sebuah prestasi besar bagi klub kecil seperti Hajduk. Dengan masuknya Hajduk ke zona ini, klub berhasil menempatkan diri di antara 75 klub terbaik di Yugoslavia pada waktu itu.
Namun, perjalanan Hajduk tidak selalu mulus. Klub ini harus berhadapan dengan tantangan finansial dan berbagai hambatan lainnya.
Salah satu masa paling sulit adalah selama Perang Dunia Kedua, ketika Hajduk dipaksa untuk bermain di bawah nama lain, yaitu "Ifjusag" (yang berarti "Pemuda") karena tekanan politik.

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Profil Irjen Pipit Rismanto, Pati Polri yang Diungkap IPW Diduga Diperiksa Propam Polri Terkait Dugaan Korupsi Pertambangan
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
Resmi! Veda Ega Pratama Kena Long Lap Penalty, Peluang Podium Moto3 Hungaria 2026 Terancam?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Isu Reshuffle Kabinet Sempat Mencuat, Siapa Saja Menteri Berpotensi Diganti oleh Presiden Prabowo?
