Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 13 September 2024 | 18.03 WIB

Profil Peter Gontha, Sosok Kontroversial yang Viral karena Kritik Pedas Naturalisasi Timnas Indonesia

Peter Gontha mendadak viral karena kritik pedasnya terhadap PSSI dan Timnas Indonesia yang tengah berjuang lolos ke Piala Dunia 2026. (Dery Ridwansah/JawaPos.com) - Image

Peter Gontha mendadak viral karena kritik pedasnya terhadap PSSI dan Timnas Indonesia yang tengah berjuang lolos ke Piala Dunia 2026. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

JawaPos.com — Nama Peter Gontha mendadak menjadi viral di kalangan penggemar sepak bola Indonesia. Mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Polandia ini menjadi sorotan setelah melayangkan kritik pedas terhadap program naturalisasi Timnas Indonesia.

Kritik yang disampaikan melalui media sosial, khususnya Instagram, berhasil memancing banyak perhatian, baik dari pendukung program naturalisasi maupun mereka yang skeptis.

Peter Gontha bukanlah figur asing di dunia diplomasi dan bisnis Indonesia. Sebelum dikenal karena kritiknya terhadap kebijakan PSSI, dia memiliki karier panjang di berbagai bidang. Sosok kelahiran Semarang, 4 Mei 1948 ini juga merupakan seorang pengusaha sukses yang pernah terlibat dalam pendirian beberapa perusahaan besar di Indonesia.

Dalam beberapa waktu terakhir, Peter Gontha sering menggunakan akun Instagram pribadinya untuk menyampaikan kritik terhadap kebijakan naturalisasi pemain sepak bola di Indonesia.

Dia merasa bahwa kesuksesan Timnas Indonesia, khususnya di era pelatih Shin Tae-yong, banyak diperoleh secara instan melalui pemain naturalisasi. Kritik tersebut terasa pedas bagi sebagian pendukung Timnas yang merasa program naturalisasi adalah solusi untuk meningkatkan daya saing Indonesia di kancah internasional.

Ungkapan Peter Gontha tidak hanya menyulut perdebatan di dunia maya, tetapi juga membuatnya viral di platform media sosial, terutama di Twitter (X). Tagar #dubes bahkan ramai digunakan, dengan lebih dari 1.500 cuitan yang menyeret namanya.

Kritik yang disampaikan Peter menyoroti bagaimana Indonesia seolah bergantung pada pemain keturunan untuk mencapai prestasi, yang menurutnya bisa merusak proses pembinaan pemain lokal jangka panjang.

Bagi Peter, seharusnya ada kebanggaan lebih ketika Indonesia meraih kemenangan dengan pemain-pemain lokal hasil pembinaan dari berbagai klub di Tanah Air. Sentimen ini pun menimbulkan reaksi beragam di kalangan netizen, dengan beberapa mendukung pandangannya dan yang lainnya merasa kritik tersebut berlebihan.

Jauh sebelum viral dengan kritiknya terhadap sepak bola Indonesia, Peter Gontha dikenal sebagai sosok yang berpengaruh di berbagai sektor. Kariernya yang gemilang dimulai saat dia muda, di mana dirinya sempat menjadi kelasi di kapal pesiar mewah Holland-American Line. Pengalaman bekerja di lingkungan internasional membuatnya pandai dalam beradaptasi dan belajar.

Peter pun memperoleh kesempatan beasiswa dari Shell untuk belajar akuntansi di Praehap Institute, Belanda. Setelah menyelesaikan studinya, dia kemudian bekerja di Citibank New York. Keahliannya dalam dunia keuangan membuatnya terus menanjak, hingga akhirnya menjadi Vice President American Express (AMEX) Bank untuk Asia pada 1983.

Selain itu, Peter juga memiliki peran penting dalam pendirian Grup Bimantara bersama dengan Bambang Trihatmodjo pada 1981. Grup ini menjadi salah satu konglomerasi besar di Indonesia, dengan berbagai sektor bisnis mulai dari media hingga properti. Pada saat itu, Peter bahkan dijuluki sebagai "Rupert Murdoch Muda Indonesia" karena kiprahnya yang dominan di industri media.

Di dunia musik, Peter Gontha juga dikenal sebagai penggagas Jakarta International Java Jazz Festival. Festival ini menjadi salah satu acara musik tahunan terbesar di dunia, menarik musisi-musisi jazz terkenal dari berbagai belahan dunia untuk tampil di Jakarta. Keterlibatannya di bidang musik ini membuat Peter semakin dikenal sebagai figur serba bisa yang memiliki banyak kontribusi untuk Indonesia.

Pada 15 Oktober 2014, Peter Gontha dilantik oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Duta Besar Indonesia untuk Polandia. Selama masa jabatannya, Peter fokus pada pengembangan hubungan ekonomi dan budaya antara Indonesia dan Polandia.

Meskipun tidak memiliki latar belakang khusus di bidang diplomasi, pengalamannya di sektor bisnis dan jaringan internasionalnya membuat Peter menjalankan tugasnya dengan baik.

Namun, masa jabatannya sebagai Dubes RI untuk Polandia berakhir pada awal 2019, di mana dia digantikan oleh Siti Nugraha Mauludiah. Setelah meninggalkan dunia diplomasi, Peter lebih aktif dalam kegiatan politik, khususnya melalui Partai NasDem yang dipimpin oleh Surya Paloh. Dia juga masih terlibat dalam dunia bisnis dan terus memberikan pandangan kritisnya terhadap berbagai isu sosial dan politik di Indonesia.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore