Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 21 Februari 2024 | 00.17 WIB

Kesaksian Muharom Rusdiana, Pemain Inti Persebaya Saat Kalah 12-0 dalam Sepak Bola Gajah Lawan Persipura

Muharom Rusdiana dulu dan sekarang. Dia termasuk pemain inti Persebaya yang ikut sepak bola gajah melawan Persipura. Saat itu Persebaya kalah 12-0.


Posisi Muharom Rusdiana sebagai bek kanan di Persebaya Surabaya tak tergantikan selama belasan tahun. Dia pun mempunyai banyak kenangan di tim tersebut. Salah satunya yang tak akan pernah terlupakan, sepak bola gajah yang membuat Persebaya kalah 12-0.

Sidiq Prasetyo, Surabaya

BERCERITA tentang sepak bola gajah seperti tak ada habisnya. Semua punya versi sendiri-sendiri. Namun, ada seorang pemain Persebaya yang termasuk nekat untuk memutuskan turun ke lapangan dalam pertandingan melawan Persipura Jayapura yang dilaksanakan di Stadion Gelora 10 November, Kota Surabaya, pada Minggu 21 Februari 1988 tersebut.

''Saya satu-satunya pemain inti yang turun ke lapangan. Rekan-rekan lain yang masuk tim inti persebaya tidak diturunkan,’’ kata Muharom Rusdiana, pemain yang membela Persebaya 1978 hingga 1993 itu.

Skenario pada pertandingan itu, Persebaya harus kalah. Sebab, Persipura harus bisa mencetak gol yang lebih banyak dari PSIS Semarang. Itulah kenapa, banyak pemain inti yang tidak dipasang pada pertandingan itu.

Sebenarnya, dia juga tak masuk starter dalam pertandingan yang akhirnya dimenangkan Mutiara Hitam, julukan Persipura, tersebut. Hanya, Muharom minta izin kepada pelatih agar diturunkan. Di musim 1987/1988 itu, Green Force, julukan Persebaya, dilatih oleh tiga orang.

''Dua sudah almarhum sekarang, Misbah dan Kusman. Satu lagi dan sekarang tinggal di Malang, Nino Sutrisno,’’ ungkap Muharom.

Oleh pelatih, laki-laki kelahiran Tabanan, Bali, 1961 itu diberikan izin. Hanya, Muharon tidak menempati posisi aslinya sebagai bek kanan.
''Saya main sebagai gelandang. Saya tampil penuh sampai 90 menit,’’ kenangnya.

Dia termotivasi tampil karena ingin membalasakan sakit hati yang dialami karena sikap PSIS Semarang. Tim asal Jawa Tengah itu dua kali membuat Persebaya yang sudah diperkuatnya sakit.

''Di musim sebelumnya (1986/1987), Persebaya kalah di final oleh PSIS Semarang. Yang lebih sakit musim 1985, PSIS kalah oleh tim lemah dan membuat Persebaya harus ikut playoff yang kalau kalah di sana akan turun ke Divisi I,’’ ujar Muhamaron.

Namun untungnya, Persebaya sukses di Babak Playoff atau yang disebut babak enam kecil dan bisa bertahan di Divisi Utama yang merupakan kasta tertinggi di Kompetisi Perserikatan.

Kejadian itulah yang membuat Muharom ingin tampil dan membalaskan sakit hatinya. Meski, dia tahu bahwa nanti Persebaya akan kalah lebih dari lima gol dan itu merupakan satu-satunya cara mengobati sakit hati itu.

Lelaki yang kini tinggal di kawasan Sepanjang, Taman, Sidoarjo, itu mengakui malam sebelum pertandingan pemain dikumpulkan oleh pengurus. Mereka, ujar Muharonm, tidak mengintruksikan mengalahkan dengan jumlah gol tertentu.

''Saat main di Gelora 10 November, baru ada intruksi lawan main di lain tempat udah cetak lima gol. Kalau Persipura menang yang harus masuk ke gawang Persebaya di atas 5-6 gol dan lebih aman di loos aja,’’ tutur Muharom.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore