Fakhri Husaini memberikan instruksi kepada siswa Akademi Deltras FC di Sidoarjo.
Sudah sekitar tiga bulan Fakhri Husaini memimpin Akademi Deltras FC. Dia turun langsung memantau bakat-bakat muda yang berlatih serius di Lapangan Siwalanpanji, Buduran, Sidoarjo, itu.
BAGUS PUTRA PAMUNGKAS, Sidoarjo
ADA satu ungkapan yang tidak dipercayai oleh Fakhri Husaini: pelatih bisa menciptakan pemain. Kalimat itu dianggap tidak pas oleh direktur Akademi Deltras FC itu.
’’Yang ada, pelatih bisa menemukan pemain berbakat. Kemudian dia poles dan diperbaiki bakat itu sehingga pemain tumbuh sebagai sosok yang potensial,’’ beber pelatih asli Lhokseumawe tersebut kepada Jawa Pos.
Hal itu dipegang teguh oleh Fakhri. Dari situ pula, dia begitu yakin ketika mendapat telepon dari Amir Burhannudin, CEO Deltras FC.
’’Dengan semangat itulah, saya mau bergabung sebagai direktur Akademi Deltras FC. Saya yakin Indonesia ini tidak kekurangan pemain berbakat,’’ tutur mantan kapten timnas Indonesia itu.
Sebagai pemimpin tertinggi akademi, Fakhri ingin mewujudkan keinginannya. Bukan menciptakan, tapi menemukan pemain berbakat di Sidoarjo. Selama sekitar tiga bulan menjabat, Fakhri selalu turun gunung.
Dia melihat langsung progres Deltras U-13 dan U-15. Apakah ada pemain yang benar-benar berkualitas?
’’Kalau ditanya apakah ada pemain potensial, saya jawab ada. Malah setidaknya ada tiga atau empat pemain yang punya bakat istimewa. Posisinya gelandang, striker, winger. Semuanya kelahiran 2010,’’ beber mantan pelatih tim sepak bola Aceh pada PON XX/2021 tersebut.
Cuma, bakat-bakat itu terancam mentok di klub. Kenapa? Fakhri menyebut ada problem serius di federasi. ’’Karena kami nggak punya kompetisi. Harusnya setiap askab atau aksot yang merupakan kepanjangan tangan PSSI di daerah harus menggelar kompetisi untuk kelompok umur,’’ beber pelatih 58 tahun tersebut.
Fakhri heran kenapa tidak ada kompetisi reguler untuk ke lompok umur di daerah. ’’Masalahnya apa? Apakah karena uang? Uang kan bisa dicari. Harusnya kompetisi kelompok umur tetap digelar,’’ ucapnya.
Dia berharap askab dan askot tidak perhitungan. Sebab, output dari kompetisi kelompok umur itu adalah untuk timnas. ’’Misal di Jatim saja, saya yakin banyak pemain berbakat yang tidak teridentifikasi. Kenapa? Ya karena kita tidak punya kompetisi. Coba kalau setiap kabupaten atau kota punya kompetisi, saya rasa tidak sulit mencari pemain berkualitas,’’ beber pelatih yang membawa timnas U-16 juara AFF U-16 pada 2018 itu.
Tapi, Fakhri sadar kalau semua keputusan ada di federasi. Dia memilih fokus menemukan bakat melalui Akademi Deltras FC saja. Saat ini dia ingin memben tuk Deltras U-17.

Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
13 Rekomendasi Tempat Liburan di Malang dengan Pilihan Wisata Alam, Hiburan, dan Spot Santai yang Membuat Pikiran Lebih Fresh
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
