Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 5 September 2017 | 19.28 WIB

Saya dan PSIM

SETIA: Brajamusti saat mendukung PSIM di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya. - Image

SETIA: Brajamusti saat mendukung PSIM di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya.

PSIM Jogjakarta adalah teror buat simbah kakung saya. Buat almarhum, tim sepak bola kebanggaan warga Jogja itu merisaukannya. Aksi-aksi suporter PSIM yang sering mbleyer-mbleyer knalpot sepeda motor, tanpa helm, dan konvoi di jalanan membuat almarhum selalu berpesan: rasah nonton bal-balan!

Maka jadilah saya pemuda tanggung kuper pada akhir dekade 90-an di kampung bantaran Kali Code, Jogjakarta. Kawan-kawan seusia saya selalu ngomong bal-balan saat sore hari sebelum masuk ngaji. Atau sebelum main bal-balan di belakang Kantor Depnaker lawas.


Hampir semua dapat izin dari bapak atau ibunya nonton bal-balan di Mandala Krida, Jogjakarta, kandang PSIM. Kadang mereka bayar tiket, kadang menek pager. Tapi, ada juga diantara mereka ngamen dulu di sekitar perempatan Tugu Jogja buat dapat uang.


Lha saya? Hanya bisa membaca berita PSIM di KR (Kedaulatan Rakyat, Red). Atau kalau bertemu cah-cah yang habis pulang dari laga kandang PSIM di Mandala Krida saya bertanya ”PSIM kalah po menang?”. Kalau menang, saya gembira. Kalau kalah, lemas.


Era reformasi ikut membakar semangat saya buat melakukan pemberontakan kepada simbah kakung saya. Maka saya putuskan harus kenal PSIM. Pikiran pertama saya adalah datang ke kandang PSIM dan menonton situasi Mandala Krida. Satu hari sepulang sekolah SMP -SMP saya di sekitar Kotabaru-, saya langsung bablas nggenjot sepeda ke Mandala Krida.


Karena baru pertama datang ke sana, saya kagum dan hampir tiga jam disana. Sepeda saya tuntun dan jalan berkeliling Mandala Krida. Walau tidak ada suporter, maka saya berimajinasi sedang ada di tengah kerumumunan suporter PSIM dan ikut sorak sorai. Sebelum berganti menjadi Brajamusti, nama pendukung PSIM adalah PTLM (Paguyuban Tresno Laskar Mataram).


Setelah datang ke Mandala Krida, maka saya menyusun rencana pemberontakan kedua kepada simbah kakung saya. Membeli kaos Brajamusti. Dan kebetulan di kampung saya, suporternya menamakan diri sebagai Brajamusti Bajing Kota. Tapi, desain kaosnya lucu. Bergambar kartun Alvin and The Chipmunks, namun bertulis Laskar Bajing Kota. Klop dengan desain itu, kemudian bulatlah niat saya membeli kaos suporter. Untungnya oleh koordinator di kampung saya, pembayaran kaos boleh dicicil.


Tahu saya ikut nyicil, sang koordinator Mas Manyul, bertanya kepada saya. ”Kowe ora wedi diseneni simbahmu po ndra? Engko aku diseneni Mbah Tris nek kowe melu urunan kaos Brajamusti,” kata Mas Manyul. ”Ora mas, aku wes ngomong kok karo simbah, rapopo mas,” jawab saya berbohong.


Meski masih sangsi kebenaran kata yang saya ucapkan, Mas Manyul tetap menerima uang iuran saya.


Dan sesuai prediksi Mas Manyul, ketika kaos rampung dan diantar ke rumah saya, maka simbah kakung marah besar. Saat itu saya tak ada di rumah. Simbah minta kaos tidak usah diberikan kepada saya dan dibawa pulang oleh Mas Manyul. Mas Manyul kena damprat simbah kakung saya. Kaos pun batal diberikan kepada saya.


”Njaluk ngapura mas. Aku ngerepoti kowe mergo kowe sing diseneni simbahku,” ucap saya ketika saya datang ke rumah Mas Manyul. Namun keputusan saya sudah bulat, kaos akan tetap saya bawa pulang. Saya akan memakainya di luar rumah satu saat. Juga ketika satu saat saya menonton PSIM.


Dan gairah nonton bal-balan di stadion semakin tinggi ketika saya duduk di bangku SMA. Cuma kultur di SMA saya yang terletak di barat kota Jogja, bukan PSIM yang jadi idola. Seteru PSIM, PSS Sleman adalah idola diantara kawan-kawan SMA. Saya sempat kecewa dengan kondisi tersebut. Asu, batin saya. Tapi apa daya, gairah nonton bal-balan di stadion tak terbendung.


Akhirnya saya melepas status perjaka untuk nonton bal-balan di stadion, bukan datang di Mandala Krida melainkan di Stadion Tridadi, Sleman, kandang PSS. Tim berjuluk Super Elang Jawa itu sedang dalam tren apik di awal 2000-an. Sang bupati Pak Ibnu menjadikan PSS kendaraan meraih popularitas. Slemania pun mengelu-elukan nama Ibnu. Apalagi APBD masih boleh untuk membiayai klub sepak bola. Maka jadilah PSS tim favorit Divisi Utama.


Gaston Castano, pacar Jupe (Julia Perez), merintis karir di PSS. Kemudian ada Seto Nurdiantoro, Kahudi, dan M.Ansori yang permainannya ciamik. Demi PSS, saya ikut bolos sekolah dan antri tiket di Stadion Tridadi sejak siang.


Perselingkuhan saya dengan PSIM kian menjadi. Pacar saya saat SMA adalah keponakan salah satu Exco PSSI yang juga petinggi PSS. Maka demi hubungan yang langgeng, saya pun mendukung PSS. Putusnya hubungan dengan pacar SMA saat saya memasuki bangku kuliah pun ikut mempengaruhi identitas kesuporteran saya. Saya kembali ke cinta lama. Di bangku kuliah, saya ajeg nonton PSIM di Mandala Krida.


Suasana pertandingan kandang PSIM tidak seramai yang saya dapati saat nonton PSS. Namun saya menikmatinya. Bersama cah-cah kampung saya, nonton PSIM bukan soal kalah menang. Ini soal kesenangan.

Editor: Administrator
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore