
Legenda Chelsea John Terry. (Istimewa)
JawaPos.com–Nama John Terry kembali menjadi perbincangan publik. Kali ini bukan karena kiprahnya di lapangan, melainkan aktivitasnya di media sosial yang menuai kontroversi.
Mantan kapten Chelsea itu diketahui kerap menyukai sejumlah unggahan dari partai politik sayap kanan Restore Britain beserta pemimpinnya, Rupert Lowe. Aksi tersebut langsung memicu reaksi beragam dari warganet.
Banyak yang menilai aktivitas Terry itu sebagai bentuk dukungan terhadap agenda politik Restore Britain. Partai ini dikenal memiliki sejumlah kampanye yang cukup kontroversial, seperti larangan penggunaan burqa dan niqab di ruang publik, penghapusan metode penyembelihan hewan sesuai syariat Islam, serta sikap tegas terhadap kebijakan imigrasi di Inggris.
Meski Terry belum memberikan pernyataan resmi terkait hal ini, sorotan publik terus menguat. Di era digital seperti sekarang, interaksi sederhana seperti like di media sosial kerap diartikan sebagai bentuk preferensi atau dukungan terhadap suatu isu.
Hal inilah yang membuat figur publik seperti Terry menjadi lebih rentan terhadap interpretasi luas dari masyarakat. Bagi sebagian penggemar, tindakan tersebut mengecewakan. Mereka menganggap Terry sebagai sosok panutan yang seharusnya lebih berhati-hati dalam menunjukkan sikap, terutama terkait isu sensitif yang menyangkut agama dan keberagaman.
Namun, ada pula yang menilai bahwa setiap individu, termasuk atlet profesional, memiliki hak untuk menentukan pandangan politiknya sendiri. Kontroversi ini juga mengingatkan publik pada kasus lama yang pernah melibatkan Terry.
Pada 2011, dia sempat tersandung kasus dugaan rasisme terhadap Anton Ferdinand, adik dari mantan rekan setimnya di Timnas Inggris, Rio Ferdinand. Kasus tersebut sempat mencoreng reputasinya, meski dia tetap melanjutkan karir hingga pensiun sebagai salah satu bek terbaik Inggris.
Kini, sorotan kembali datang, bukan dari aksi di lapangan, melainkan dari aktivitas digitalnya. Peristiwa ini menjadi contoh bagaimana jejak digital seorang figur publik dapat memicu diskusi luas, bahkan kontroversi, di tengah masyarakat yang semakin kritis.
Di tengah derasnya arus informasi, publik pun diingatkan untuk bijak dalam menilai dan memahami konteks sebuah tindakan. Terutama di dunia maya yang kerap menghadirkan persepsi berbeda dari realitas.
