
Jermaine Pennant saat berseragam Liverpool. (@jermaine7pennant)
JawaPos.com–Kekalahan dari Wolverhampton Wanderers di liga Inggris bukan sekadar kehilangan tiga poin bagi Liverpool. Lebih dari itu, hasil tersebut memicu perdebatan serius tentang identitas permainan The Reds yang dinilai mulai memudar.
Secara statistik, Liverpool mendominasi jumlah tembakan dengan 19 percobaan ke gawang. Namun dominasi itu terasa semu. Wolves justru tampil lebih efektif di aspek yang paling menentukan dalam sepak bola liga Inggris yakni duel, intensitas, dan ketegasan.
Meski Liverpool menguasai bola dan lebih sering menembak, kiper Wolves Jose Sa jarang dipaksa melakukan penyelamatan luar biasa secara beruntun. Penguasaan bola dan volume tembakan tak berarti banyak tanpa presisi dan determinasi.
Data yang dikutip dari laporan Empire of the Kop menunjukkan Wolves memenangkan 56 persen duel, berbanding 44 persen milik Liverpool. Mereka juga mencatat 25 tekel sukses, jauh di atas 16 milik tim tamu. Angka-angka tersebut menjelaskan mengapa kemenangan akhirnya berpihak kepada tuan rumah.
Kritik tajam datang dari mantan pemain Liverpool Jermaine Pennant yang menyebut performa tim saat ini jauh dari identitas yang selama ini melekat pada klub. Menurut dia, Liverpool kehilangan agresivitas dan tekanan tinggi yang dulu menjadi ciri khas.
Dalam beberapa musim terakhir, The Reds dikenal dengan pressing tanpa henti yang membuat lawan kesulitan mengembangkan permainan. Namun melawan Wolves, tim yang sedang berjuang di papan bawah Liverpool justru terlihat lamban dan kurang menggigit.
Mantan bek Stephen Warnock bahkan menyebut penampilan Liverpool di beberapa fase pertandingan sebagai lambat dan membosankan. Komentar tersebut mempertegas kekhawatiran bahwa tempo dan energi permainan The Reds mulai menurun.
Ketika Pennant mengatakan ini bukan Liverpool, itu bukan sekadar nostalgia. Itu adalah kritik terhadap perubahan gaya yang dianggap menjauh dari identitas asli klub.
Sorotan tentu mengarah pada pelatih Arne Slot yang mewarisi fondasi permainan kuat dari era sebelumnya. Mengubah filosofi tim memang bukan perkara mudah. Selalu ada garis tipis antara evolusi dan kehilangan jati diri.
Pennant menilai versi Liverpool saat ini terlalu jauh meninggalkan elemen yang dulu membuat mereka ditakuti oleh tekanan tinggi, kecepatan transisi, dan agresivitas tanpa kompromi.
Kekalahan dari Wolves terasa makin menyakitkan karena kedua tim akan kembali bertemu dalam waktu dekat di ajang FA Cup. Itu berarti Liverpool punya kesempatan cepat untuk membalas, tetapi sekaligus menghadapi tekanan yang lebih besar.
Jika kembali tampil datar, kritik terhadap arah taktik Slot dipastikan akan semakin keras. Liverpool masih mampu menciptakan peluang. Itu bukan persoalan utama. Masalahnya terletak pada ketajaman dan ferositas yang dulu membuat lawan gentar bahkan sebelum pertandingan dimulai.

Prediksi Skor Amerika Serikat vs Bosnia dan Herzegovina di Piala Dunia 2026: The Stars and Stripes Tak Ingin Malu!
Prediksi Skor Swiss vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Granit Xhaka Cs Siap Libas El Khadra Demi Tiket 16 Besar
Prediksi Skor Spanyol vs Austria di Piala Dunia 2026: Lamine Yamal Jadi Pembeda
Prediksi Skor Belgia vs Senegal di Piala Dunia 2026: Setan Merah Emoh Angkat Koper Lebih Dulu!
Brasil vs Norwegia: Memori 1994 dan 1998, Misi Balas Dendam Generasi Emas Erling Haaland di Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Portugal vs Kroasia di 32 Besar Piala Dunia 2026: Joao Felix Pede Singkirkan Skuad Vatreni!
Prediksi Skor Inggris vs RD Kongo: Bursa Jagokan Three Lions, Opta Beri Peluang Menang 73,9 Persen
Silaturahmi dengan Suporter PSIS, Malut United Pastikan Tak Pakai Nama Semarang dan Siap Mengalah soal Stadion
Ditunggu Saja! Persebaya Surabaya Siapkan 7 Pemain Asing Baru Usai Rombak Skuad Musim Lalu
Prediksi Skor Portugal vs Kroasia di Piala Dunia 2026: Misi Berat Cristiano Ronaldo Cs Lolos ke 16 Besar
