Michael Carrick memberi arahan kepada Bruno Fernandes. (Neal Simpson/Sportsphoto/Allstar)
JawaPos.com–Masa depan kursi manajer Manchester United masih menjadi bahan diskusi di jajaran internal manajemen klub. Namun performa tim bersama pelatih interim Michael Carrick membuat satu pertanyaan besar mulai mengemuka justru lebih berisiko jika Setan Merah tidak memberinya kontrak permanen?
Kemenangan 2-1 Manchester United atas Crystal Palace di Old Trafford, Minggu (1/3) waktu setempat, menjadi titik penting. Untuk pertama kali dalam periode keduanya sebagai pelatih sementara, Michael Carrick menghadapi situasi tertinggal hingga turun minum. Palace tampil disiplin dan unggul lebih dulu, memaksa tuan rumah mencari respons berbeda.
Di ruang ganti, Michael Carrick menantang para pemain Manchester United untuk menunjukkan karakter. Respons itu datang di babak kedua.
Penalti Bruno Fernandes menyamakan skor sebelum sundulan Benjamin Sesko memastikan tiga poin. Bagi Sesko, itu adalah gol ketujuh dalam delapan pertandingan terakhir, statistik yang menguatkan peran pentingnya sejak pergantian pelatih awal Januari lalu.
Hasil tersebut mengangkat United ke posisi tiga klasemen Premier League. Posisi ini menjadi yang tertinggi bagi klub sejak penutupan musim 2022-23.
Dengan persaingan papan atas yang masih ketat, peluang tampil di Liga Champions musim depan kini sepenuhnya ada di tangan mereka. Secara keseluruhan, Carrick membukukan enam kemenangan dan satu hasil imbang dari tujuh laga terakhirnya.
Jika ditarik sejak periode pertamanya sebagai caretaker pasca-kepergian Ole Gunnar Solskjaer pada 2021, catatannya mencapai tujuh kemenangan dan dua kali seri dari sembilan pertandingan awal. Angka tersebut menyamai salah satu start terbaik manajer dalam sejarah Premier League.
Meski begitu, manajemen United tentu tidak ingin terburu-buru. Nama-nama seperti Thomas Tuchel, Carlo Ancelotti, hingga Roberto De Zerbi kerap dikaitkan dengan kursi pelatih di Old Trafford. Namun stabilitas yang mulai terbentuk di bawah Carrick menjadi pertimbangan tersendiri.
Di luar itu, laga kontra Palace juga menyisakan kontroversi. Pelatih Palace Oliver Glasner menilai penalti United sebagai keputusan yang merugikan timnya. Namun wasit tetap pada pendirian setelah meninjau tayangan ulang.
Carrick sendiri memilih meredam sorotan. Dia menegaskan bahwa keberhasilan tim adalah hasil kerja kolektif.
Dukungan suporter yang menyanyikan namanya seusai laga diakui memberi energi tambahan, tetapi fokus utamanya tetap pada konsistensi performa.
Dengan tren positif dan ruang ganti yang tampak solid, United kini berada di persimpangan penting. Jika performa ini terus berlanjut hingga akhir musim, keputusan terbesar manajemen mungkin bukan soal siapa yang harus ditunjuk, melainkan apakah berani mengambil risiko dengan tidak mempertahankan sosok yang sudah membawa arah baru bagi tim.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Soal Penolakan Pembangunan Gereja di Citraland, Wali Kota Eri: Tidak Sesuai Site Plan
Prediksi Skor Singapura vs Thailand: Ilhan Fandi Jadi Ancaman, Tuan Rumah Bisa Bikin Kejutan
Prediksi Skor Sabah FC vs Persib Bandung: Pangeran Biru Bidik Puncak Dewata Challenge Series 2026
Prediksi Skor Malaysia vs Vietnam: Superkomputer Jagokan The Golden Star Warriors
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kasus Penjahit Rasis Bali Kembali Diperbincangkan, Diduga Ada Intimidasi Saat Audiensi
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Pembangunan Gereja di Citraland Surabaya Ditolak Warga, Ternyata karena salah soal Perizinannya
Jadwal Siaran Langsung Sabah FC vs Persib Bandung di Dewata Challenge Series 2026: Live di Indosiar
5 Weton Aras Kembang yang Bisa Memikat Lawan Jenis karena Kharismatik danMempesona Menurut Primbon Jawa
