Gianluca Prestianni meluruskan kasus rasisme yang dialami pemain Real Madrid, Vinicius Jr. (Dok. Benfica)
JawaPos.com - Kontroversi mewarnai duel sengit antara Benfica dan Real Madrid pada leg pertama play-off Liga Champions.
Winger muda Benfica, Gianluca Prestianni, mengakui kepada penyelidik UEFA bahwa dirinya melontarkan kata bernada homofobik kepada Vinicius Junior, namun membantah tuduhan rasisme.
Insiden terjadi tak lama setelah Vinicius mencetak gol yang membawa Madrid unggul di Estadio da Luz, Lisbon.
Selebrasi sang winger disebut memicu emosi pemain tuan rumah. Adu argumen pun tak terhindarkan di tengah lapangan sebelum Vinicius menghampiri wasit dan melaporkan ucapan yang ia dengar.
Wasit kemudian mengaktifkan protokol anti-diskriminasi UEFA. Pertandingan sempat terhenti sekitar 10 menit. Situasi di lapangan memanas, sementara Vinicius terlihat menepi ke bangku cadangan untuk menenangkan diri sebelum laga kembali dilanjutkan.
Dalam pernyataan awalnya, Prestianni menegaskan ia tidak melakukan tindakan rasis. Ia menyebut terjadi kesalahpahaman atas kata-kata yang diucapkannya.
Namun, dalam perkembangan terbaru, laporan media internasional menyebut pemain berusia 20 tahun itu mengakui menggunakan istilah homofobik, bukan kata bernuansa rasial seperti yang ramai dibicarakan sebelumnya.
Rekaman tambahan dari momen tersebut juga beredar dan memperlihatkan Prestianni berbicara tanpa menutup mulutnya. Hal itu memperkuat penyelidikan yang kini ditangani langsung oleh UEFA.
Dari kubu Madrid, klub memastikan telah menyerahkan seluruh bukti yang dimiliki kepada otoritas sepak bola Eropa.
Rekan setim Vinicius, Kylian Mbappe, bahkan mengaku mendengar langsung ucapan bernada diskriminatif tersebut.
Sementara itu, pelatih Benfica, Jose Mourinho, ikut menyoroti ketegangan di lapangan. Ia menilai selebrasi Vinicius berlebihan dan memancing reaksi pemainnya, meski tak membenarkan adanya ucapan yang melanggar aturan.
UEFA kini mengacu pada Pasal 14 regulasi disiplin mereka. Aturan tersebut menyebut setiap bentuk penghinaan terhadap martabat seseorang, baik berdasarkan ras maupun orientasi seksual, dapat berujung sanksi berat, termasuk larangan bermain minimal 10 pertandingan.
Kasus ini pun menjadi perhatian luas di panggung sepak bola Eropa. Keputusan akhir UEFA akan sangat menentukan nasib Prestianni, sekaligus menjadi pesan tegas bahwa segala bentuk diskriminasi tak mendapat tempat di kompetisi elite seperti Liga Champions.

Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Mentan Amran Terbang ke Jatim Pukul 06.00 WIB, Borong Inovasi ITS: Benih Jagung, Traktor Amfibi, hingga Alat Panjat Kelapa
Roberto Carlos Ungkap Tiga Pemain Terbaik Sepanjang Masa, Lionel Messi dan Pele Tak Masuk!
2 Alasan Vicky Prasetyo Belum Menjenguk Fangfang yang Sudah Melahirkan Buah Hatinya
Komentar Pedas Zlatan Ibrahimovic di Piala Dunia 2026 Bikin Heboh, Ini Deretan Frasa Ikoniknya
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Mediasi Ruben Onsu dan Sarwendah Digelar Tertutup, Ini yang Terjadi di Dalam Ruangan
