
Xabi Alonso. (Istimewa)
JawaPos.com – Eks pelatih Tim Nasional Inggris, Gareth Southgate, buka suara tentang kepergian Enzo Maresca, Ruben Amorim, dan Xabi Alonso baru-baru ini, yang mengindikasikan bahwa "perebutan kekuasaan" adalah "akar penyebab" dari kejatuhan ketiga sosok itu.
Setelah kepergian para manajer papan atas dunia tersebut, Southgate menggunakan halaman LinkedIn pribadinya untuk membagikan pesan panjang tentang masalah ini, sambil juga menyentuh kompleksitas yang menyertai seorang manajer di era sepak bola modern.
"Dalam dua minggu terakhir, tiga klub sepak bola terbesar di Eropa, Real Madrid, Manchester United, dan Chelsea, telah berpisah dengan pelatih kepala mereka. Dari ketiganya, Maresca menjabat paling lama, yaitu selama 18 bulan," Southgate memulai.
“Meskipun setiap pelatih pergi dengan keadaan yang sedikit berbeda dan karena lebih dari satu alasan, perebutan kekuasaan baik dengan eksekutif klub (Amorim), karyawan klub (Maresca), atau pemain (Alonso) pada akhirnya menjadi akar penyebab berakhirnya jabatan masing-masing," ungkapnya.
Mantan pelatih timnas Inggris itu tampaknya sangat menyadari bahwa performa di lapangan dan hasil hanyalah sebagian kecil dari tolok ukur seorang manajer modern. Ia juga mengakui bahwa peran juru taktik telah berevolusi dalam beberapa waktu terakhir.
“Erosi otoritas seorang manajer telah menjadi proses bertahap selama bertahun-tahun. Proses ini dipercepat dengan diperkenalkannya secara luas direktur sepak bola, teknis, atau olahraga, yang sekarang mengawasi strategi sepak bola jangka panjang,” lanjut pelatih 55 tahun ini.
“Bahkan melapor langsung kepada CEO atau pemilik (atau keduanya), dan secara struktural (mereka) berada di atas pelatih kepala. Secara pribadi, saya tidak memiliki masalah dengan evolusi ini,” tutur Southgate lagi.
Ia juga menjelaskan bahwa strategi, budaya, perencanaan, dan kesinambungan sangat penting untuk kesuksesan di organisasi (tim) mana pun dan klub sepak bola tidak berbeda. Seorang pelatih kepala tidak memiliki waktu untuk mengelola kontrak pemain yang kompleks.
"Selain itu, mengawasi jaringan pencarian bakat dunia, atau menjalankan operasi data yang canggih. Demikian pula, tidak masuk akal untuk membubarkan departemen medis atau ilmu olahraga setiap kali ada pergantian pelatih," bebernya lagi.
Meskipun Southgate mengindikasikan bahwa manajer saat ini memiliki otoritas yang lebih kecil dalam pengambilan keputusan untuk klub, ia juga percaya ada sejumlah faktor lain yang membuat peran tersebut lebih sulit dari sebelumnya.
“Bertentangan dengan keyakinan sebagian penggemar (sepak bola) bahwa peran tersebut (menjadi manajer) menjadi lebih sederhana (‘mereka hanya perlu melatih’), justru sebaliknya,” tambah pria kelahiran Watford tersebut.
“Tambahkan kompleksitas dalam mengelola pemain modern (pada dasarnya tergantung individu), di samping taruhan finansial bagi klub, dan pengawasan dari media tradisional dan media sosial, Anda akan menemukan perpaduan masalah dan tekanan yang signifikan (sebagai seorang manajer," katanya.
“Pelatih kepala modern sekarang mendapati diri mereka mengelola skuad yang lebih besar, tim pendukung yang lebih besar, tuntutan analitis yang jauh lebih besar, dan kewajiban media dan komersial yang terus meningkat. Hal ini diperparah oleh pergeseran kekuasaan dan status yang halus, terkadang tanpa disengaja, yang tersirat dari perpindahan dari jabatan manajer ke pelatih kepala,” pungkasnya.

Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
Taruhan 3 Hektar Kebun Sawit Rp 420 Juta demi Final Spanyol vs Argentina Viral, Vincent jadi Saksi
Sarwendah Dikabarkan Hengkang dari Rumah Cilandak, Begini Komentar Pihak Ruben Onsu
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Atlet Golf Putri Indonesia Diduga Diculik, Sedang Rayakan Ultah Nenek di Restoran Tiba-tiba Disergap 5 Pria
Menlu Iran Ungkap Dugaan Kebocoran Intelijen di Jantung Kekuasaan, Serangan yang Tewaskan Khamenei Dinilai Sudah Diketahui Musuh
Hotman Paris Sampaikan Permintaan Maaf usai Diduga Hina Wartawan "Lu punya otak enggak sih?"
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Polisi Periksa Saksi dan CCTV, Ungkap Dugaan Penculikan Atlet Golf Putri Indonesia Jesslyn Wijaya
