Klub elite menentang rencana aturan keuangan baru Premier League. (X/@ManCity)
JawaPos.com - Rencana Premier League untuk menerapkan aturan pembatasan gaji pemain mendapat tentangan keras dari beberapa klub. Asosiasi Pesepakbola Profesional (PFA) bahkan mengancam akan menempuh jalur hukum jika kebijakan itu disahkan.
Langkah ini dinilai dapat merusak daya saing dan status Premier League sebagai liga terbaik di dunia.
Premier League tengah menyiapkan sistem baru bernama Top to Bottom Anchoring Rule (Sistem Batas Belanja dari Klub Tertinggi ke Terendah) yang membatasi jumlah pengeluaran klub untuk gaji, biaya pelatih, serta komisi agen.
Berdasarkan rancangan aturan, setiap klub hanya boleh mengeluarkan maksimal lima kali lipat dari pendapatan klub peringkat terbawah liga dalam hal pendapatan siaran dan hadiah kompetisi.
Dengan hitungan musim 2023/2024, batas pengeluaran itu diperkirakan sekitar GBP 550 juta (sekitar Rp 12 triliun).
Dilansir dari Daily Mail, Rabu (12/11), aturan itu akan menggantikan sistem Profit and Sustainability Rules yang selama ini memperbolehkan klub mengalami kerugian hingga GBP 105 juta (sekitar 2,3 triliun) dalam tiga tahun.
Jika disahkan, kebijakan ini akan diterapkan mulai musim depan setelah dilakukan pemungutan suara pada 21 November 2025.
Namun, rencana itu memicu reaksi keras dari banyak pihak. PFA menegaskan pihaknya akan menggugat Premier League jika kebijakan ini diputuskan tanpa kesepakatan bersama.
“Kami sudah menjelaskan kepada Liga Premier bahwa pengenalan batasan gaji melalui aturan Top to Bottom Anchoring merupakan sesuatu yang akan kami tolak,” ujar PFA dikutip dari Daily Mail.
Selain PFA, dua klub besar yakni Manchester United dan Manchester City juga menolak keras gagasan itu. Kedua klub itu menilai aturan ini justru akan melemahkan klub-klub Inggris dalam bersaing dengan raksasa Eropa seperti Real Madrid, Barcelona, Bayern Munchen, dan PSG.
Salah satu pemilik Manchester United, Sir Jim Ratcliffe, menilai kebijakan itu absurd dan berpotensi membuat Premier League kehilangan daya tarik globalnya.
“Klub-klub besar Premier League tidak bisa bersaing dengan Real Madrid, Barcelona, Bayern, atau PSG, itu hal yang absurd. Jika sampai terjadi, maka Premier League tidak lagi menjadi liga terbaik di dunia,” kata Sir Jim Ratcliffe.
Para kritikus berpendapat, pembatasan ini akan mendorong pemain bintang meninggalkan Inggris menuju klub-klub dengan bayaran lebih tinggi di Eropa atau Timur Tengah.
Selain itu, aturan itu juga dapat memperburuk kesenjangan antara Premier League dan Championship, karena klub promosi akan kesulitan memenuhi batas keuangan baru.

11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
