Jackson Irvine, kapten Australia, bela Palestina meski terancam tinggalkan St. Pauli akibat kontroversi politik. (@jacksonirvine_)
JawaPos.com - Jackson Irvine, kapten Timnas Australia sekaligus gelandang kunci FC St. Pauli, tengah menghadapi masa depan yang tak pasti di klub Bundesliga tersebut. Sosok yang pernah menjadi mimpi buruk bagi Timnas Indonesia dalam Kualifikasi Piala Dunia 2026 ini kini terlibat kontroversi besar di Jerman akibat sikap politiknya yang terang-terangan mendukung Palestina.
Irvine memainkan peran vital dalam kemenangan 5-1 Australia atas Indonesia pada laga yang berlangsung di Sydney Football Stadium, Maret 2025. Tak hanya mencetak dua gol, pemain berusia 31 tahun itu juga menunjukkan kepemimpinan yang membawa Socceroos mengunci tiket ke Piala Dunia 2026 dengan menuntaskan putaran ketiga di posisi kedua.
Namun, sinarnya di lapangan kini dibayangi oleh dinamika di luar lapangan. Keberpihakan Irvine pada isu kemanusiaan di Gaza memunculkan ketegangan dengan manajemen St. Pauli dan sebagian kelompok suporter. Puncaknya terjadi ketika sang istri, Jemilla Pir, mengunggah foto Irvine mengenakan jersey Palestina di Instagram Story, yang langsung memantik kontroversi luas di Jerman.
Beberapa kelompok suporter dan media menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk anti-Semitisme. Namun, Irvine pernah menegaskan bahwa sikapnya bukan politik semata, melainkan panggilan kemanusiaan.
"Saya dukung setiap tujuan kemanusiaan. Kematian warga sipil dalam konflik apa pun harus menjadi prioritas dalam diskusi ini," ujar Irvine dalam wawancaranya bersama ESPN.
Sejak November 2023, Irvine telah aktif menyuarakan dukungannya untuk Palestina. Bahkan, ia termasuk salah satu tokoh yang bersama Federasi Sepak Bola Australia memberikan bantuan melalui Oxfam bagi warga Gaza.
Tekanan dari pihak klub dan sebagian suporter yang tidak sejalan membuat situasi Irvine di St. Pauli menjadi semakin sulit. Laporan dari akun X @Antifa_Ultras menyebutkan bahwa Irvine kemungkinan besar akan meninggalkan klub dalam waktu dekat.
Meski pernyataan resmi tersebut menyebut perbedaan pandangan politik sebagai alasannya, akar masalah sesungguhnya diyakini adalah sikap tegas Irvine yang menolak bungkam atas tragedi kemanusiaan di Gaza.
Ironisnya, FC St. Pauli selama ini dikenal sebagai klub dengan ideologi progresif dan dukungan kuat terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Namun, kasus Irvine justru memperlihatkan konflik internal antara idealisme klub dan reaksi publik terhadap isu sensitif global.
Walau demikian, tak sedikit pula pendukung St. Pauli yang berdiri bersama Irvine dan membela haknya menyuarakan solidaritas untuk Palestina. Kini, nasib sang kapten berada di ujung tanduk antara terus memperjuangkan nilai kemanusiaan atau mencari pelabuhan baru yang lebih selaras dengan suaranya.
Jika hengkang dari St. Pauli, masih menjadi tanda tanya, ke mana Jackson Irvine akan berlabuh selanjutnya?

Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
13 Rekomendasi Tempat Liburan di Malang dengan Pilihan Wisata Alam, Hiburan, dan Spot Santai yang Membuat Pikiran Lebih Fresh
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
