
Jose Mourinho saat menjuarai Liga Champion bersama Inter Milan di musim 2009/2010. (persources.com)
JawaPos.com - Dunia sepakbola yang sudah modern ini tentu membutuhkan taktik agar permainan menjadi lebih teroganisir dan memudahkan dalam meraih kemenangan.
Berbagai macam taktik telah berkembang dan bisa menjadi ciri khas suatu klub, misal Barcelona dengan tiki-taka, Real Madrid dengan serangan balik cepatnya dan Liverpool dengan taktik counter-pressing.
Di antara semua taktik yang sudah disebutkan di atas, ada satu taktik/strategi yang membuat tim lawan putus asa dalam mencari peluang untuk mencetak gol, ini biasa disebut dengan parkir bus
Parkir bus sendiri merupakan gaya bermain pertahanan tingkat tinggi tanpa membuka celah sedikitpun di area pertahanan.
Sebuah tim yang memainkan strategi ini pasti akan menarik mundur tujuh hingga sembilan pemainnya dan membiarkan satu pemain di depan untuk memaksimalkan serangan balik.
Pemain lawan dibiarkan untuk main di area pinggir lapangan tanpa bisa menembus area tengah yang berbahaya. Fokus utama dari taktik ini adalah bertahan dan jangan sampai tim lawan mencetak gol.
Maka dari itu, ini biasa dilakukan saat tim unggul dan waktu tersisa hanya beberapa menit saja. Ada juga pelatih yang menggunakan strategi ini untuk melawan taktik-taktik tim besar.
Jose Mourinho adalah pelatih yang terlintas pertama kali dalam pikiran saat membicarakan strategi parkir bus. The Special One merupakan pelatih berkebangsaan Portugal yang lahir pada 26 Januari 1963.
Contoh nyata dari strategi parkir bus ala Jose Mourinho saat melatih Inter Milan di Liga Champion musim 2009/2010 melawan FC Barcelona.
Pada menit ke-28 leg kedua di kandang Barcelona, Thiago Motta mendapat kartu merah yang memaksa Inter Milan bermain dengan sepuluh orang.
Setelah kartu merah itu terjadi, Mou memaksa semua pemainnya untuk berada di daerah pertahanannya sendiri untuk meminimalisir terjadinya gol.
Strategi ini membuat Barcelona hanya berhasil mencetak satu gol yang membuat agregat menjadi 2-3 untuk keunggulan Inter Milan. Pada Liga Champion musim itu, Inter Milan juga menjadi juara setelah mengalahkan Bayern Muenchen di pertandingan final.
Ia dikenal dengan gaya bermain bertahan yang efektif, selain itu Mou merupakan pelatih yang bisa membangun mental juara di dalam tim yang diasuhnya.
Mou mengawali karir kepelatihannya dengan menjadi penerjemah pelatih Bobby Robson di Sporting CP, Porto dan Barcelona. Setelah itu, ia menjadi asisten pelatih dari Bobby Robson dan Louis van Gaal di Barcelona.
Setelahnya, ia menjadi pelatih kepala di beberapa klub besar eropa, seperti Benfica, Porto, Inter Milan, Real Madrid, Chelsea, Manchester United, Tottenham, dan AS Roma.

Breaking News! Rival Veda Ega Pratama Didiskualifikasi dari Moto3 Catalunya 2026
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Surat Satir Sony Sanjaya ke Kepala BGN Baru Bikin Heboh, Netizen: Nanik Deyang Cepu ya Pak?
Resmi Jadi Tersangka Korupsi MBG, Sony Sonjaya Kirim Surat Satir ke Kepala BGN Baru: 'Terima Kasih Hadiah Indahnya'
Dikabarkan Deal! Persebaya Surabaya Gaet Lima Pemain Anyar, Empat Legiun Asing dan Satu Striker Lokal
