
Firman Utina
ADA satu pemain yang saya cari ketika Indonesia kalah 1-3 oleh Iraq di laga perdana Piala Asia 2023: Ramadhan Sananta.
Namanya tercantum di daftar susunan pemain (DSP). Tapi, dia masuk dalam list khusus: not playing or not eligible .
Bagaimana bisa striker lokal tersubur di Liga 1 dianggap tidak layak masuk tim? Jujur saya bingung.
Ayo terbuka saja. Lihat statistik Sananta. Dia sudah tampil dalam 17 laga. Semuanya sebagai starter. Total dia sudah mengemas 7 gol. Di tengah gempuran striker asing, ’’bocah’’ 21 tahun tersebut mampu mencatatkan statistik seperti itu. Kurang apa lagi?
Tapi ya balik lagi. Semua kan keputusannya coach Shin Tae-yong. Cuma, ayolah! Banyak yang menunggu Sananta. Kapan dia dimainkan? Lawan Vietnam malam ini seharusnya jadi kesempatan. Sananta harus diturunkan. Kenapa? Ya karena performa Sananta lagi bagus.
Jangan sampai dia malah dicadangkan. Ini kesempatan Sananta untuk unjuk gigi di level internasional. Kalau soal komposisi pemain lain, rasanya sudah oke. Cuma satu kekurangan yang terlihat: tidak ada chemistry.
Pemain belum bisa menangkap sepenuhnya keinginan coach STY. Tapi, saya bisa maklum. Wong pemainnya juga masih baru. Banyak yang naturalisasi. Saya sih berharap adanya pemain naturalisasi bisa membawa banyak perubahan. Mereka bisa menopang pemain lokal.
Yakob Sayuri dan Marselino Ferdinan sudah bagus. Kolaborasi keduanya menghasilkan gol luar biasa. Prosesnya cukup apik. Dan, saya rasa Marsel dan Yakob bisa mengulanginya lagi. Syukur-syukur jika pemain lain bisa melakukan aksi serupa.
Toh Vietnam ini bukan lawan asing. Kita sering bertemu dengan mereka. Sudah paham karakter bermain mereka. Jadi, ini adalah kesempatan emas untuk menang. Saya percaya tim ini bisa menang. Mungkin tidak dengan skor besar. Paling-paling timnas menang dengan skor tipis, 1-0 atau 2-1.
Kita butuh tiga poin. Setidaknya untuk modal ke laga berat selanjutnya: melawan Jepang. Cuma, saya mewanti-wanti betul kepada para pemain. Sepanjang pengalaman saya, ada satu hal yang harus diwaspadai dari Vietnam: provokasi.
Caranya, main keras. Menunggu pemain lawan melakukan balasan. Kemudian terjadi konflik antarpemain. Itu strategi mereka agar emosi pemain lawan semakin naik. Jadi, jangan sampai terpancing. Tetap fokus pada taktik yang disiapkan pelatih. (*/c17/ttg)

11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
