
Anak-anak sanggar sedang berlatih menjelang tampil dalam pagelaran tari karya Gusmiati Suid. (ISTIMEWA)
JawaPos.com - Sumatera Barat memiliki seorang maestro tari, yaitu Gusmiati Suid. Ada dua karyanya yang terkenal sebagai tari tradisional dari Ranah Minang. Yaitu, Tari Rantak dan Tari Cewang.
Pamong Budaya dari Dinas Kebudayaan Sumater Barat Yosi Nofa mengatakan, Gusmiati Suid memang sudah wafat. Namun, karya-karya yang diwariskannya sangat membumi dan mewarnai khasanah tari di Tanah Air, yaitu Tari Rantak dan Tari Cewang. Dua tari itu sangat terkenal di Sumatera Barat, nasional, dan luar negeri.
"Kita harus memotivasi pada koreografer dan penari muda, terutama di Sumbar ini untuk mengikuti jejak Gusmiati dan memahami filosofi tari sang maestro," ujar Yosi di sela-sela diskusi budaya yang digelar Dinas Kebudayaan Sumbar, Sabtu (10/9).
Diskusi budaya itu mengambil tema tentang karya-karya masterpiece Gusmiati Suid. Selain itu, terdapat pagelaran tari yang diikuti 14 sanggar tari di Sumbar. Penari dari setiap sanggar menampilkan Tari Cewang dan Tari Rantak karya Gusmiati Suid dalam bentuk asli.
Yosi Nofa diskusi budaya dan pagelaran seni tersebut bertepatan dengan bulan wafatnya sang maestro, Gusmiati Suid, pada 28 September. “Kegiatan ini juga diharapkan mampu memberi motivasi pada koreografer dan penari, terutama di Sumbar ini, untuk mengikuti jejak Gusmiati,” jelas Yosi.
Untuk diketahui, Gusmiati Suid merupakan maestro tari dunia. Pada 1991, dia menerima penghargaan ‘Bessies Award’ dari New York Dance and Performance. Penghargaan itu sebelumnya belum pernah diberikan keada seniman luar Amerika Serikat.
Gusmiati Suid lahir di Batusangkar pada 16 Agustus 1942, dan wafat pada 28 September 2001. Dia telah melahirkan sejumlah karya penting dan dianggap berhasil mengembangkan secara kreatif gerak dari berbagai aliran silek Minang menjadi bentuk tari.
Contohnya, Tari Rantak dianggap sebagai pembaharu dalam khazanah tari Minangkabau. Karya itu dinobatkan sebagai salah satu tari kreasi terbaik di tingkat nasional pada 1975. Selain itu, karya itu pernah menjadi mata pelajaran wajib di SMKI di seluruh Indonesia.
Di samping itu, bersama sanggar Gumarang Sati yang dibentuk Gusmiati, dia telah menampilkan karya-karya itu di berbagai tempat di belahan dunia, seperti Swiss, Jerman, India, serta Jepang.
Sanggar Cahayo Bundo adalah salah satu peserta pagelaran tari karya-karya Gusmiati. Menurut Reni Devia selaku pimpinan sanggar Cahayo Bundo, anak-anak yang tergabung dalam sanggar tari selama ini banyak belajar tari, baik tari kotemporer atau tari-tari karya maestro. "Sosok sang maestro perlu diperkenalkan lebih dalam lagi ke generasi muda. Contohnya dengan menampilkan tari yang diwariskan sang maestro dalam versi asli."

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
