Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 7 Agustus 2022 | 18.01 WIB

Unik, Artistik, dan Sarat Kritik

SIMBOL: Patung Elephant Man karya Jogen Chowdhury merupakan salah satu karya yang dipasang di Gajah Gallery Jakarta. (SALMAN TOYIBI/JAWA POS) - Image

SIMBOL: Patung Elephant Man karya Jogen Chowdhury merupakan salah satu karya yang dipasang di Gajah Gallery Jakarta. (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)

Kritik tak harus lantang dan pedas. Namun, kritik bisa juga diutarakan dengan penyampaian yang indah. Gajah Gallery Jakarta mempersembahkan edisi kedua Navigating Entropy yang memamerkan berbagai karya seni yang tak sekadar indah. Namun juga sarat makna dan kritik sosial.

---

NAVIGATING Entropy digelar di Gajah Gallery Jakarta, Casa Domaine, Jakarta, mulai 23 Juli hingga 21 Agustus mendatang. Navigating Entropy adalah sebuah pameran kelompok yang menghadirkan seniman-seniman yang bekerja sama dengan Yogya Art Lab (YAL). Pameran itu menyoroti seniman dari berbagai penjuru dunia. Termasuk Amerika, Asia Tenggara, Asia Timur, dan Asia Selatan. Baik yang telah lama berkarya dengan medium patung maupun yang baru-baru ini merambah ke bentuk tiga dimensi.

Para seniman bekerja dengan mengeksplorasi berbagai material untuk membuat karya. Mulai resin, kaca, aluminium, lensa, hingga perunggu. Misalnya, Suzann Victor yang melapisi lukisan Singapore River dengan bahan lensa sehingga menyajikan beragam perspektif jika dilihat dari setiap sisi yang berbeda. Karya Suzann itu berjudul River of Returning Gazes.

Manajer Galeri Gajah Gallery Jakarta Liza Markus menjelaskan, Singapore River ibarat sebuah portal pertemuan berbagai budaya di masa lampau. Waktu yang terus berjalan hingga saat ini menciptakan sejarah terhadap cerita di sepanjang sungai Negeri Singa itu.

Perjalanan waktu yang panjang memunculkan beragam cerita sejarah. Berbeda pencerita, beda pula versinya. Dari karya itu, Suzann memaknai bahwa sejarah membuat banyak figur menjadi buram.

’’Banyak figur yang menjadi lebih besar daripada kenyataannya. Begitu pula sebaliknya. Tak sedikit figur yang menjadi lebih kecil daripada kenyataannya,” terang Liza. Dengan begitu, media lensa dan kaca itu seperti metafora. Bahwa sejarah yang dipakemkan membuat beberapa figur tersembunyi.

Perupa Ashley Bickerton memamerkan patung perunggu berjudul Shark yang memperlihatkan garis dan lekuk anggun dari ikan pari dan hiu martil. Kental nuansa ekologi laut. Berbicara mengenai rantai kehidupan yang harmonis. Setiap organisme dan lingkungan bertautan secara unik.

Patung juga dibuat agak miring. Menyimbolkan keseimbangan ekologi itu sangat rentan. ’’Salah sedikit saja akan ambruk,” tutur Liza. ’’Ashley memiliki pandangan yang unik. Karya-karyanya kental akan kritik,” tambah Liza. Memang Ashley yang merupakan seniman Amerika Serikat dan kini menetap di Bali tersebut melihat turisme tanpa konservasi justru malah akan merusak ekosistem alami destinasi itu.

Patung Elephant Man karya Jogen Chowdhury juga menarik perhatian. Tak sedikit orang yang mengira patung tersebut adalah Ganesha. Itu salah besar.

Liza menjelaskan, patung Elephant Man merupakan bentuk kritik politik di Bengali, India. Gajah yang biasanya identik dengan badan besar justru dipadukan dengan badan manusia yang kurus.

Dari Indonesia, perupa Yunizar menghadirkan koleksi patung perunggunya. Baik yang terbaru maupun karya lampau yang dianggap signifikan. Hal itu menunjukkan pencapaian penjelajahan artistiknya bersama YAL selama satu dekade.

Mulai patung Garuda yang ekspansif hingga beragam hewan fantastis yang mengaburkan batas antara mangsa dan pemangsa. Karya-karya tersebut merupakan bukti kekuatan imaji Yunizar yang terus berkembang.

Photo

Patung Shark karya Ashley Bickerton. (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)

Mayoritas karya patung Yunizar merupakan refleksi dari lukisannya. Ada kucing, macan, ikan, dan apa saja yang dilihat sehari-hari. Walaupun sederhana, jika diamati lebih jauh, memiliki nilai paradoks. Misalnya, penjudulan ikan predator. Tapi, karya patung ikannya justru dibuat imut dengan bentuk yang pipih.

’’Seperti ada makna di balik makna. Yunizar mengajak audiens yang melihat karyanya untuk berasumsi sesuai perspektif masing-masing,” ungkap Liza.

Yunizar ingin memberikan kebebasan kepada audiens untuk mengartikan karya seninya. Dia mengaku hanya bermain dengan imajinasinya. Lalu, merefleksikan pikiran itu dengan caranya sendiri. ’’Seperti melihat ikan, misalnya, kalau secara lukis secara realis begitu saja, kurang puas bagi saya,” kata Yunizar.

Seniman yang berdomisili di Jogja itu berkarya hanya untuk memenuhi kebutuhan rasa. Meski, tidak semua orang sepakat. Bebas. Setiap orang memiliki perspektif masing-masing.

Yunizar menyadari bahwa bekerja di YAL adalah proses baru dalam menciptakan seni. Sebelumnya, dia hanya menghabiskan waktu melukis di studio pribadi, rumahnya. Setelah bekerja dengan tim di YAL, semakin banyak ide yang digali.

Dalam berkarya dengan seni rupa tiga dimensi, seniman asal Sawahlunto, Sumatera Barat, itu tidak membatasi pemilihan media atau material. Biasanya membuat model dengan tanah liat. Kemudian dicetak dengan resin fiberglass, aluminium, maupun perunggu.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore