
Jefrianto
Sastra Jawa dalam Media Online
SEPULUH tahun lalu, kita mungkin hanya bisa menemukan geguritan pada sejumlah buku antologi atau buku pelajaran. Kini ketikkanlah ”geguritan” pada mesin pencarian di internet. Maka akan muncul ratusan atau bahkan mungkin ribuan geguritan yang tersebar pada blog maupun media sosial. Kemajuan internet memang membawa perubahan besar-besaran pada segala sendi kehidupan. Tak terkecuali di sastra Jawa.
Dalam ranah penciptaan, misalnya, dulu orang harus mengirimkan karya-karya ke media massa. Baru setelah dimuat, karya bisa dibaca khalayak. Di zaman ini, cara tersebut bukanlah upaya satu-satunya dalam publikasi karya. Cukuplah buka media sosial, lalu ketikkanlah baris-baris geguritan secara langsung. Setelah diunggah, karya bisa sampai kepada khalayak.
Cara demikian pernah menjadi tren dalam berkarya sastra Jawa. Dan tren macam itu mendapat sambutan positif. Lalu muncullah grup-grup kepenulisan sastra Jawa, yang mana tiap anggotanya dapat berunjuk karya setiap saat.
Pada peristiwa tersebut, dapatlah dibayangkan betapa deras arus kesusastraan Jawa di zaman ini. Biarpun deras, tetap saja ia harus menjumpa sejumlah aral. Salah satunya adalah sejumlah pihak yang menyangsikan mutu-mutu karya sastra dari media online.
Mereka yang sangsi menganggap karya pada media online tidak tersaring dulu, tidak pernah dinilai seorang redaktur. Mereka sepertinya lupa bahwa karya-karya besar pun senyatanya tak luput dari penolakan redaktur, bahkan kritik tajam seorang kritikus. Seperti yang terjadi pada Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan sebelum menjadi karya yang mendunia.
Tren berkarya sastra Jawa di media online terus berkembang. Di tahun 2018 muncullah nyonthong.com. Situs web itu merupakan media online yang menyiarkan geguritan dan cerkak (berhonor). Sayangnya, situs web tersebut hanya bertahan beberapa edisi.
Untungnya, di tahun yang sama, mojok.co mulai menerima kiriman esai berbahasa Jawa. Dengan begitu, eksistensi sastra Jawa di ranah online serasa mendapat lahan baru. Lahan itu pun sejatinya hanyalah bagian kecil dari kemungkinan ekspansi peradaban Jawa di ranah digital.
Lelaku Baru
Gerak progresif sastra Jawa di ranah online ternyata tidak hanya terjadi pada penciptaan karya. Tercatat, ada dua komunitas sastra Jawa yang bergerak aktif di ranah online. Mereka adalah Bala Jawa dan Jawasastra Culture Movement.
Di tahun 2019 Bala Jawa mengadakan sayembara menulis geguritan bagi kalangan pelajar. Program itu jadi terasa baru karena pelaksanaannya, mulai publikasi, pengumpulan karya, hingga pengumuman juara, dilaksanakan secara online.
Tak kalah inovatifnya, Jawasastra Culture Movement mulai merambah podcast. Melalui podcast, Jawasastra Culture Movement menyajikan konten-konten audio berbahasa Jawa. Isinya pun unik karena membahas kejawaan dari sudut pandang masa kini.
Dalam bahana itu, kehadiran kelas menulis online juga layak dicatatkan. Sepanjang 2019, muncul beberapa kelas menulis online yang meliputi kepenulisan geguritan, cerita cekak, dan esai berbahasa Jawa. Muaranya, empat buku antologi berhasil dilahirkan. Salah satunya bahkan telah menjadi koleksi Leiden University Library.
Sampai di sini, yang patut dipertanyakan justru bagaimana para ”pemain lama” merespons perkembangan digital. Sejauh ini respons terbaik ditunjukkan Panjebar Semangat. Sejak tahun 2015 majalah berbahasa Jawa tertua itu telah memiliki situs web. Panjebar Semangat juga telah menghadirkan layanan e-paper yang bisa didapatkan dengan cara sistem langganan berbayar.
Dalam media sosial seperti Facebook, Panjebar Semangat juga terbilang eksis. Mereka telaten dalam menyiarkan kabar mengenai program kegiatan maupun cuplikan edisi baru di tiap minggunya.
Hingga kini Panjebar Semangat masih menjadi satu-satunya ”pemain lama” yang digdaya. Media massa berbahasa Jawa lainnya rupanya masih asyik dengan gaya lama. Seolah-olah mereka telah amat yakin tak akan ditinggalkan pandhemen (penggemar setia). Padahal, masyarakat Jawa kian waktu kian karib dengan perkembangan teknologi dan berbagai perangkatnya.
Pokok terpenting dari sejumlah fenomena-fenomena itu sejatinya adalah kemampuan beradaptasi. Mereka yang mampu beradaptasi, kini dan selanjutnya, akan terus berekspansi sekaligus melahirkan inovasi-inovasi bagi perkembangan peradaban Jawa. Dan bagi mereka yang lambat, atau bahkan enggan beradaptasi, teknologi masa kini seperti sedang menghantarkan mereka pada disrupsi yang mematikan.
Perubahan memang tak hanya patut untuk direnungkan. Ia ada untuk dilakoni dengan penuh kesadaran. (*)
Baturraden, 2019
Jefrianto, penggiat Sastra Jawa

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
