Namun tak ada apa-apa.
Tak ada apa-apa
selain ia yang terus membayangkan
umbut pakis, hijau pandan hutan,
sulur bajakah bunting, tembilung, dan tiga unting lagu
gunung. Apa-apa yang membikin damai orang kota.
Dan berusaha yakin bahwa semua baik-baik belaka.
---
Ada memang yang bilang, di Palaran, semua terbuat dari debu.
Seorang daeng di kedai Acil Niah, misalnya. Yang seperti pendongeng,
yang berkata bahwa gedung-gedung dibangun sepanjang siang
dan angin malam meruntuhkannya. Atau bangunan-bangunan terbit
bersama fajar dan luruh pelan-pelan seiring tamatnya hari.
’’Kenakan masker, Bung,’’ katanya. ’’Kenakan masker atau debu
akan menyusup ke paru-parumu. Dan begitu saja kau luluh dan

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
