Dan si perempuan berkata, ’’jangan pernah kau berbuat serong,
sebab di kampungku, para leluhur telah mengguyur kutuk.
Dan kau tidak akan bisa hidup dengan kelamin terayun-ayun
di keningmu. Bayangkan!’’
Tapi bagaimanapun, si lelaki hanya membayangkan
umbut pakis, hijau pandan hutan,
sulur bajakah bunting, tembilung, dan tiga unting lagu
gunung. Segala yang indah di imajinasi seorang pendatang.
Dan si lelaki, kini, mencoba membayangkan itu semua, masih
membayangkannya.
Namun tiap ia membuka mata, ia lihat paras perempuan itu,
dan ia terkenang empat hari kemarin, sewaktu ia buntuti
si perempuan yang menyelinap ke wisma ulin bersama
seorang lelaki entah siapa.
Dan ia menunggu kutuk itu bekerja.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
