Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 8 Januari 2023 | 17.44 WIB

Lidah Susi dalam Beberapa Sisi

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS - Image

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS

#1


 

belajar dalam waktu singkat

kau kini pembawa lakon

di panggung yang riuh,

haru, sesal, dan air mata

 

siapa pemilik tangis itu?

 

meski kau hanya bisa berucap

siap, tak tahu, ataupun diam

(lain saat meluncur ucapan

dari lidahmu tak bertulang)

 

tapi, siapa yang tenggelam?

 

mungkin, kelak roboh panggung

dan kau ada di dalamnya;

 

’’aku hanya pelakon dari cerita ini,

bantu aku wahai sutradara

agar aku tidak mati!’’ harapmu

 

siapa dalam kematian ini,

susi?

---

#2


 

suatu kali kau bercerita

sangat lancar melebihi

apa yang hendak kutanyakan

jadi temali. amatlah panjang

 

aku mengira-ngira

 

kau sesungguhnya membaca

ada tangan lain yang menulis

di kepalamu. ada pelukis dalam

dirimu yang turut menggambar

setiap sudut, tiap jejak cerita

---

#3


 

katakan sejujurnya,

ah aku teringat lagu

yang dulu didendangkan

kekasihku. saat itu ia tahu

aku dusta dan aku salah

cerita –seharusnya untuk

yang lain– ia pun marah

hanya tak bisa mengutukku

jadi kadal atau ular

 

aku tak pula jadi malin

yang telah jadi batu

di tepi pantai yang sepi

 

ketika kubaca kisah

dan kukira dusta

aku teringat kekasihku lagi

yang pernah bernyanyi

tapi kini amat nyaring

 

suaranya merantau

ke mana-mana

---

#4


 

setiap kata yang terucap

ingatanku pada lidahmu

dulu sekali kelu. dan aku

memberi setetes air

dari setetes itu menjadi

jutaan tetes lagi. seperti

biji yang berubah batang

lalu pohon. cuma siapa

yang bisa berlindung

di bawah rindang daun itu?

 

setiap melihat lidahmu

saat berucap, kenanganku

ke masa dulu. kita berhadapan

bukan untuk membuka kesalahan

sebagai sepasang kekasih, kita

saling menatap pada lidah

–menikmatinya bersamaan

segelas kopi di meja–

 

tak ada curiga

biarpun kau dusta

kauterima tiap ucapku

meski aku mengarang cerita

---

#5


 

selincah-lincah lidahmu meliuk

suatu waktu tergigit pula

darah pun mengalir, mungkin

bisa jadi banjir –’’air mata

dan sesal?’’– yang tersisa

kau begitu asing. kami sudah

jauh dari dirimu. tanpa depan,

tiada belakang, tak ada lagi

samping kiri ataupun kanan

 

bahkan lambaian

semakin lunglai

 

selincah-lincah lidahmu meliuk

mengucap-ucap sumpah,

janji, dan kalimat dusta. suatu

saat berdarah oleh gigi itu

 

dan kau…

 

kami tak akan lagi terpukau!

 

2022

---

ISBEDY STIAWAN Z.S.Kelahiran Tanjungkarang, Lampung. Buku puisi terbarunya adalah Nuwo Badik dari Percakapan dan Perjalanan, Masuk ke Tubuh Anak-Anak (Pustaka Jaya), dan Mendaur Mimpi Puisi yang Hilang. Buku puisinya Belok Kiri Jalan Terus ke Kota Tua terpilih sebagai lima besar buku puisi Tempo (2020) dan Kini Aku Sudah Jadi Batu! sebagai lima besar Badan Pengembangan Bahasa Kemendikbudristek 2020.
Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore