#1
belajar dalam waktu singkat
kau kini pembawa lakon
di panggung yang riuh,
haru, sesal, dan air mata
siapa pemilik tangis itu?
meski kau hanya bisa berucap
siap, tak tahu, ataupun diam
(lain saat meluncur ucapan
dari lidahmu tak bertulang)
tapi, siapa yang tenggelam?
mungkin, kelak roboh panggung
dan kau ada di dalamnya;
’’aku hanya pelakon dari cerita ini,
bantu aku wahai sutradara
agar aku tidak mati!’’ harapmu
siapa dalam kematian ini,
susi?
---
#2
suatu kali kau bercerita
sangat lancar melebihi
apa yang hendak kutanyakan
jadi temali. amatlah panjang
aku mengira-ngira
kau sesungguhnya membaca
ada tangan lain yang menulis
di kepalamu. ada pelukis dalam
dirimu yang turut menggambar
setiap sudut, tiap jejak cerita
---
#3
katakan sejujurnya,
ah aku teringat lagu
yang dulu didendangkan
kekasihku. saat itu ia tahu
aku dusta dan aku salah
cerita –seharusnya untuk
yang lain– ia pun marah
hanya tak bisa mengutukku
jadi kadal atau ular
aku tak pula jadi malin
yang telah jadi batu
di tepi pantai yang sepi
ketika kubaca kisah
dan kukira dusta
aku teringat kekasihku lagi
yang pernah bernyanyi
tapi kini amat nyaring
suaranya merantau
ke mana-mana
---
#4
setiap kata yang terucap
ingatanku pada lidahmu
dulu sekali kelu. dan aku
memberi setetes air
dari setetes itu menjadi
jutaan tetes lagi. seperti
biji yang berubah batang
lalu pohon. cuma siapa
yang bisa berlindung
di bawah rindang daun itu?
setiap melihat lidahmu
saat berucap, kenanganku
ke masa dulu. kita berhadapan
bukan untuk membuka kesalahan
sebagai sepasang kekasih, kita
saling menatap pada lidah
–menikmatinya bersamaan
segelas kopi di meja–
tak ada curiga
biarpun kau dusta
kauterima tiap ucapku
meski aku mengarang cerita
---
#5
selincah-lincah lidahmu meliuk
suatu waktu tergigit pula
darah pun mengalir, mungkin
bisa jadi banjir –’’air mata
dan sesal?’’– yang tersisa
kau begitu asing. kami sudah
jauh dari dirimu. tanpa depan,
tiada belakang, tak ada lagi
samping kiri ataupun kanan
bahkan lambaian
semakin lunglai
selincah-lincah lidahmu meliuk
mengucap-ucap sumpah,
janji, dan kalimat dusta. suatu
saat berdarah oleh gigi itu
dan kau…
kami tak akan lagi terpukau!
2022
---
ISBEDY STIAWAN Z.S.,
Kelahiran Tanjungkarang, Lampung. Buku puisi terbarunya adalah Nuwo Badik dari Percakapan dan Perjalanan, Masuk ke Tubuh Anak-Anak (Pustaka Jaya), dan Mendaur Mimpi Puisi yang Hilang. Buku puisinya Belok Kiri Jalan Terus ke Kota Tua terpilih sebagai lima besar buku puisi Tempo (2020) dan Kini Aku Sudah Jadi Batu! sebagai lima besar Badan Pengembangan Bahasa Kemendikbudristek 2020.