1/
Meski telah berusia 10 tahun,
aku masih malu-malu bermain kata.
Namun selalu kepada ibu dan guru,
aku menulis dua larik valid dan presisi:
terima kasih,
sungguh besar jasamu!
2/
Oh, gunung.
Oh, laut.
Oh, pagi.
Oh, rembulan.
Oh, mentari.
Oh, sahabat.
Oh, ibu.
Oh, guru.
Setelah melewati masa kanak yang terang dan redup
aku mulai mengerti bagaimana guru bahasa Indonesia ber(sem)bunyi.
3/
Ini tidak seperti saat aku menggemari godam Thor
atau batu waktu yang dijaga oleh penyihir ngepop dari Amerika.
Hero-hero superfiktif mengajariku dua hal yang sangat kontradiktif:
hidup atau menang.
Namun di halaman rubrik puisi sebuah majalah anak, aku selalu menemukan
pahlawan tidak bernama dan tidak dikenal mati, terkadang dikalahkan, lalu dikuburkan.
Mereka sedikit dikenang dalam hening yang sengaja diciptakan Senin pagi.
Selesai!
4/
Setelah berkenalan dengan wahai dan andai, aku ingin mencicipi sedikit ilustrasi yang selalu muncul pada pelajaran mengarang dan menulis puisi. Ilustrasi itu sesekali menerangi imajinasi yang selalu baik pada saat tata bahasa sering berakhir buruk.
Bocah laki-laki membaca di bawah pohon sambil menggembala kerbau.
Kutilang berkicau di antara pucuk-pucuk ranting.
Matahari pagi menyapa dari pertemuan dua lereng gunung di ufuk timur.
Hamparan padi bak permadani hijau membentang.
Ombak bergemuruh memecah karang.
Tamat!
5/
Pada petak kecil di halaman majalah,
aku menanam bahasa.
Semoga, dia tumbuh seperti pohon
jambu biji di depan sekolah
yang waktu kecil dulu ramai-ramai
kami gantungi cita-cita.
6/
Tata upaya mengirim puisi:
• Boleh menjiplak dari suara imajinasi dalam relung diri.
• Karya harus seperti rasa snack angin yang biasa kamu temui di indomaret: orisinal.
• Jangan lupa menulis nama lengkap, alamat rumah, nomor ponsel, dan alamat digital jika punya (mimpi-mimpi literasi dan masa depan sastra Indonesia tidak perlu ditulis!).
• Kirim ke alamat digital redaksi dengan ikhlas, ceria, dan penuh harapan.
• Jika belum beruntung, coba lagi!
• Jika tetap belum beruntung, belum terlambat mengubah karier profesional (sembari menjadi pegawai negeri, kamu tetap boleh menulis puisi).
---
SETYANINGSIH, Penulis emerging UWRF 2021 dan pengelola situs dokumentatif akademitinggaldua.com