Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 18 Desember 2022 | 17.42 WIB

Edisi Spesial Rubrik Puisi Majalah Anak

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS - Image

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS

1/


Meski telah berusia 10 tahun,

aku masih malu-malu bermain kata.

Namun selalu kepada ibu dan guru,

aku menulis dua larik valid dan presisi:

terima kasih,

sungguh besar jasamu!

2/


Oh, gunung.

Oh, laut.

Oh, pagi.

Oh, rembulan.

Oh, mentari.

Oh, sahabat.

Oh, ibu.

Oh, guru.

Setelah melewati masa kanak yang terang dan redup

aku mulai mengerti bagaimana guru bahasa Indonesia ber(sem)bunyi.

3/


Ini tidak seperti saat aku menggemari godam Thor

atau batu waktu yang dijaga oleh penyihir ngepop dari Amerika.

Hero-hero superfiktif mengajariku dua hal yang sangat kontradiktif:

hidup atau menang.

Namun di halaman rubrik puisi sebuah majalah anak, aku selalu menemukan

pahlawan tidak bernama dan tidak dikenal mati, terkadang dikalahkan, lalu dikuburkan.

Mereka sedikit dikenang dalam hening yang sengaja diciptakan Senin pagi.

Selesai!

4/


Setelah berkenalan dengan wahai dan andai, aku ingin mencicipi sedikit ilustrasi yang selalu muncul pada pelajaran mengarang dan menulis puisi. Ilustrasi itu sesekali menerangi imajinasi yang selalu baik pada saat tata bahasa sering berakhir buruk.

Bocah laki-laki membaca di bawah pohon sambil menggembala kerbau.

Kutilang berkicau di antara pucuk-pucuk ranting.

Matahari pagi menyapa dari pertemuan dua lereng gunung di ufuk timur.

Hamparan padi bak permadani hijau membentang.

Ombak bergemuruh memecah karang.

Tamat!

5/


Pada petak kecil di halaman majalah,

aku menanam bahasa.

Semoga, dia tumbuh seperti pohon

jambu biji di depan sekolah

yang waktu kecil dulu ramai-ramai

kami gantungi cita-cita.

6/


Tata upaya mengirim puisi:

• Boleh menjiplak dari suara imajinasi dalam relung diri.

• Karya harus seperti rasa snack angin yang biasa kamu temui di indomaret: orisinal.

• Jangan lupa menulis nama lengkap, alamat rumah, nomor ponsel, dan alamat digital jika punya (mimpi-mimpi literasi dan masa depan sastra Indonesia tidak perlu ditulis!).

• Kirim ke alamat digital redaksi dengan ikhlas, ceria, dan penuh harapan.

• Jika belum beruntung, coba lagi!

• Jika tetap belum beruntung, belum terlambat mengubah karier profesional (sembari menjadi pegawai negeri, kamu tetap boleh menulis puisi).

---

SETYANINGSIH, Penulis emerging UWRF 2021 dan pengelola situs dokumentatif akademitinggaldua.com
Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore