Perjalanan Mencari si Hilang, Salah Satu Variasi
Jeka sedang mempersiapkan kebunnya untuk musim hujan,
untuk menyambut berkat ibu bumi sepanjang musim tanam,
ketika ia melihat dari arah timur empat orang –Maja,
Pulodo, Kenuhe, dan Ibu– bergegas ke arahnya.
’’Apa yang kalian cari?’’ tanya si Petani.
’’Kucari putraku, pelepah dari pohonku,
buah pertama yang terjulur dari tangkaiku,’’
jawab Ibu, dalam gulana.
’’Yang ada di sini hanya seorang penggarap
yang mengharapkan air susu ibu ditumpahkan
untuk anak-anak bumi yang sedang mendekam
dalam rahim gelap dan rahasia,’’ jawabnya
sambil menunjuk rumah kebunnya.
’’Jika kau berkenan meminjamkan lidahmu,
tenagamu, dan keberanianmu untuk perjalanan
kami, maukah kau mengikuti kami
mencari si Hilang?’’ tanya Kenuhe.
’’Betapa terhormat kudengar jawaban dari pengantara
kami dengan para leluhur. Tentulah pertanyaan itu
adalah bagian dari rencana leluhur untuk memuliakan
kaumku dan segala keturunanku nanti dan
mustahil rasanya kuabaikan kesempatan bakti
berharga ini. Izinkan aku menjadi mata bagi perjalanan
kalian. Karena pertanyaanmu berasal dari para leluhur,
aku pun kehilangan kebunku. Alam akan merawatnya.
Pada musim hujan nanti ia akan mengembalikan hidup
tumbuhan-tumbuhan yang telah kupangkas.’’
Dua gembala dan sepasang kawanan kambing
dan kerbau dilewati mereka berlima sebelum
Ibu memperoleh jawaban terbaik atas pertanyaannya
dari orang ketiga.
’’Telah kulihat seseorang begitu letih dan kering.
Dibopong tiga orang ke Raenadega. Di sana ada rumah
yang paling gelap, bahkan sinar matahari pun tak
mampu menembusnya. Di sana bayang-bayang kematian
mengancam setiap detik, di dalam gelap yang pekat.
Itu berjaga-jaga para pengikut si Penculik. Cerita ini
tentu tak akan bisa kusampaikan kepada kalian.
Jika anak seekor kerbauku tidak tersesat, dan aku
mesti mencarinya dengan berkeliling membunyikan
gong. Tepat ketika kulihat tali anak kerbauku, muncul
pula dari kejauhan tiga orang yang membopong
seorang pria yang begitu letih dan kering. Kupikir
kematian sedang mengisapnya,’’ kisah orang ketiga.
’’Pria yang pernah kaulihat itu adalah putraku. Si Penculik
mengambilnya dariku ketika malam paling gelap turun
di timur, ketika air susuku tidak bisa kugunakan untuk
menangkal mara dan maut. Dua orang sebelummu telah
kuganjar hadiah sebagai ungkapan terima kasih atas
jawaban yang mereka berikan. Terimalah imbalan
sebagai ungkapan terima kasihku atas cahaya harapan
yang telah kaubawakan,’’ balas Ibu.
Ini kisah terkenal, dan akhirnya menjadi sangat menggembirakan.
Ibu menyelamatkan si Hilang dari maut, dan membinasakan
gelap yang menaungi rumah si Penculik. Di sebuah tempat
di tenggara, akan kautemukan lebih banyak variasi,
Termasuk perhentian-perhentian yang ditempuh kelompok
tersebut setelah mereka menemukan si Hilang.
Dalam versi lain, si Hilang dikabarkan naik ke langit bersama
para pengikutnya dari puncak tertinggi pulau. Cerita
memuai dan menyusut, tetapi kita, kau dan aku, masih
perlu memutuskan, apa hadiah yang pantas diberikan
Ibu kepada orang ketiga?
---
MARIO F. LAWI
Bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora. Puisi-puisi ini adalah bagian dari manuskrip terbarunya berjudul Homo Narrans. Buku terbarunya adalah Rumah Kertas, Toko Buku dan Punica (Dusun Flobamora, 2019).