Di Tanganmu Kata-Kata Menjadi Semesta; Kepada Wiratno
yang kau buat
barangkali kecil
tapi menjadi kesumat paling amanat
yang kau ucap
barangkali sekadar cakap
tapi istimewa bagi umat sejagat
yang kau pikir
barangkali jauh dari zikir
tapi menjadi cahaya bagi alam yang makin fakir
itu menurutmu, Wir
entah apa katamu
entah apa pikirmu
cintamu pada bumi
lebih kekar dari akar-akar yang memeluk tanah
pedulimu pada rimba
lebih ranggi dari semah dan rupa-rupa mantra
sayangmu pada sesama
yang kau sebut tamu semesta
di laut, di hutan, di sungai, di gunung,
bahkan di rimba tak berupa, tak bernama sekalipun
kata sulit menjengkalnya
Wir,
untukmu,
daun-daun menengadah ke langit
melantunkan doa paling amit
sungai-sungai mengalir membawa wasiatmu
sampai ke hilir waktu
akar-akar mencekam menguatkan inginmu
untuk sampai ke anak cucu
alam memelukmu dengan rindu
Wir, kaulah penjaga itu
tak ada yang lebih puisi
sebab,
kata-kata di tanganmu menjadi semesta
Pekanbaru, 2020
---
Menimang Ibu Laut
jika ada yang lebih pasang dan surut
kaulah itu, ibu dari segala laut
dadamu tempat sembunyi segala rahasia
asin kau tebar, debur kau tepikan
sejuk di kedalaman kau kenyam sendirian
pulang, pulanglah ke dadaku segala aduh
katamu diam-diam
tundukku paling pelan
menghunjam ke dalam paling liang
aku telah menjadi laut, tempat pulang pasang dan surut
akulah itu, hanya ibu setepi laut
sedang kau, ibu dari segala laut
ku timang sepanjang kenang
Pekanbaru, 2020
---
Purnama Ungu Syakban
tak seperti biasa
bulan di langit bercahaya ungu
bundar
tengah Syakban telah pun tiba
kami, memandangnya dari teras rumah paling atas
sambil bersantai
atau menyisir satu per satu tumpukan tugas
bulan paling sempurna
biasanya,
mereka menimbang purnama dari tepi-tepi rimba
dalam gemercik arus sungai paling manja
atau sekadar duduk, menikmati secangkir kopi di depan tenda
kadang juga dari taman-taman kota
sambil melihat anak-anak bermain, berlari, bernyanyi
tu bulan tu bintang tu pucuk mali-mali
tu bulan tu bintang tu pucuk mali-mali
tapi
kali ini cukup dari teras rumah paling atas
sambil bercanda
banyak hal istimewa ketika di rumah saja
bulan di langit Syakban, bundar dan bercahaya
; April yang ungu
kami mengeja musim hari ini
tentang lorong dan jalan-jalan sunyi
tentang orang-orang yang kehilangan pekerjaan
tentang para suster dan dokter yang sekarat tiba-tiba
tentang mereka yang kehilangan orang-orang tersayang
sambil terus menafsir segala mungkin
begitu juga ketika purnama Syawal nanti tiba
masihkah kami menimangnya dari teras rumah saja
maka, yang paling langit adalah syukur
yang paling lubuk adalah doa
Pekanbaru, 2020
KUNNI MASROHANTI
Lahir di Bandar Sungai, Siak Sri Indrapura, Riau, 11 April 1974. Berdomisili di Pekanbaru. Kunni adalah pendiri dan pembina Komunitas Seni Rumah Sunting sejak 2012. Dia juga merupakan ketua Wanita Penulis Indonesia (WPI) Riau (2018–sekarang) dan ketua Penyair Perempuan Indonesia (2018–sekarang).
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=KktEAdTG6GU&ab_channel=JawaPos