
Aktifitas penjemuran buah pinang di Sumatera Barat (Sumbar)
JawaPos.com - Sejak awal tahun 2018, harga komoditas pinang di wilayah Sumatera Barat (Sumbar) merosot tajam. Harga jual buah pinang hanya di angka Rp 7.100/kg. Padahal, tahun 2017 lalu, harga jual pinang sempat melejit hingga Rp18.300/kg.
Ketua Gabungan Asosiasi Petani Perkebunan Indonesia (Gapperindo) Sumbar Irman mengatakan, salah satu faktor yang menjatuhkan harga pinang disebabkan karena minimnya permintaan pinang. Biasanya, negara yang menjadi tujuan ekspor pinang yakni India dan Pakistan.
Tahun 2017, India menaikkan harga pinang hingga 100 persen. Kenaikan tersebut juga terjadi pada produk CPO sawit. Konon, mahalnya bea masuk menutup pasar pinang produksi Indonesia ke India. "Minimnya permintaan dari negara-negara ini jelas membuat harga domestik menurun," kata Irman, Selasa (10/4).
Kondisi ini lanjut Irman, memaksa eksportir enggan menyerap lebih banyak produk pinang dari petani. Menurutnya, kebijakan kenaikan bea masuk oleh India bermaksud melindungi produsen komoditas sejenis di negara tersebut. Namun, imbasnya sangat dirasakan petani-petani lokal yang selama ini bergantung pada kegiatan ekspor.
Lain lagi alasan dari negara Pakistan. Di sini, merosotnya permintaan pinang disebabkan merebaknya isu jika pinang berdampak buruk bagi kesehatan. Menurut Irwan, isu tersebut diduga sebuah upaya kampanye hitam untuk merusak pasaran pinang Indonesia.
Atas hal itu, Gapperindo mendesak pemerintah pusat melakukan diplomasi terhadap India dan Pakistan untuk membuka lagi pasar pinang. Selain itu, Irman juga berharap makin banyak lagi investor yang melirik industri pengolahan pinang. "Baik yang matang atau muda untuk diekspor ke pasar potensial lain. Pasar ekspor Cina dan Singapura masih cukup potensial bagi komoditas pinang asal Indonesia," jelasnya.
Dari catatan Gapperindo, harga pinang di Sumbar sendiri menunjukkan tren peningkatan sejak 2015 lalu. Pada 2015, harga pinang tercatat Rp11.600/kg. Tahun 2016 harganya naik menjadi Rp13.200/kg dan puncaknya pada 2017 mencapai Rp18.300/kg.
Jumlah produksi pinang petani Sumbar juga mengalami kenaikan. Tahun 2014 lalu, Sumbar memproduksi sebanyak 9.201 ton pinang. Tahun 2015 menjadi 9.370 ton, pada 2016 produksi meningkat sebanyak 9.446 ton dan 2017 mencapai 9.575 ton.
"Daerah yang banyak menghasilkan pinang di Sumbar antara lain, Kabupaten Agam, Pesisir Selatan, Padang Pariaman, Limapuluh kota, Pasaman, Sijunjung, Solok Selatan dan Mentawai," tandasnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) sempat mencatat, India masih menjadi yang paling unggul sebagai negara tujuan ekspor Sumatra Barat dengan nilai 44,14 juta dolar AS. Negara tujuan berikutnya adalah Amerika Serikat sebesar 24,41 juta dolar AS, dan Singapura 17,19 juta dolar AS.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
