Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 3 April 2018 | 22.23 WIB

Mengulas Kejahatan Call-Back Scam, Sedot Pulsa Modus Missed Call

Ilustrasi kejahatan call-back scam atau wangiri. (WHSV) - Image

Ilustrasi kejahatan call-back scam atau wangiri. (WHSV)

JawaPos.com – Panggilan telepon tidak terjawab atau missed call di ponsel memang lumrah terjadi. Apalagi jika kita sedang sibuk dan tidak sempat mengangkat panggilan masuk tersebut. Namun apa jadinya jika panggilan tak terjawab itu berasal dari nomor tidak dikenal. Apalagi nomor asing atau tidak umum digunakan di wilayah tanah air.


Mendapat panggilan masuk dari nomor yang diduga dari luar negeri saat ini sedang marak dibincangkan warganet melalui jejaring sosial media. Jika kamu memiliki relasi atau keluarga yang menetap di luar negeri mungkin hal tersebut tidak masalah mendapat panggilan dari nomor luar. Namun jika tidak, kamu patut waspada. Sebab ini adalah salah satu modus kejahatan Call-Back Scam atau dikenal dengan Wangiri.


Belasan tahun silam, saat ponsel menjadi benda umum yang dimiliki oleh banyak orang, kejahatan ini sudah ada. Malahan masih kerap terjadi sampai hari ini. Modus yang digunakan pun mirip-mirip Call-Back Scam. Yakni memanfaatkan rasa ingin tahu pengguna ponsel akibat panggilan tak terjawab yang ada di ponselnya.


Kejahatan yang memanfaatkan layanan telekomunikasi ini dikenal dengan istilah Wangiri. Wangiri mulanya berasal dari kejahatan Call-back Scam yang diartikan menjadi bahasa setempat di negara Jepang.


One ring-and-cut atau sekali berdering kemudian putus juga disebut menjadi asal usul penamaan kejahatan Wangiri. Menurut ScamAlerts sebagaimana JawaPos.com lansir pada Selasa (3/4), menjelaskan bahwa Wangiri berasal dari dua suku kata, yakni ‘One’ dan ‘Giri’ yang dalam bahasa Jepang memiliki arti menggantung. Karenanya jika diterjemahkan secara bahasa memiliki arti satu panggilan yang menggantung alias tidak terjawab.


Kejahatan ini mulanya menyasar pengguna ponsel untuk melakukan panggilan kembali atau Call-back yang kemudian dialihkan kepada layanan telepon premium. Melalui layanan tersebut pengguna akan mendapati suara-suara tertentu atau bahkan iklan yang tanpa disadari membuat kamu mengeluarkan uang melalui pulsa yang kamu miliki.


Menurut laman TheIrishTimes, kejadian serupa pernah terjadi hampir merata dialami pengguna layanan telekomunikasi seluler di Irlandia. Pada waktu itu, pihak otoritas terkait menyebut bahwa insiden Call-Back Scam ditargetkan sekelompok orang untuk mengganggu pengguna ponsel di Irlandia dengan Wangiri. Dari nomor telepon yang berhasil masuk, kemudian dicari asal-usul nomor tersebut dan didapati nomor tersebut berada di wilayah Afrika yakni Liberia, Tunisia, dan Komoro.


Kejadian yang sama belum lama ini juga menimpa sejumlah warga Australia. Pada Februari 2018 kebanyakan warga Australia mendapati ponsel mereka menerima panggilan telepon misterius dari nomor internasional yang berujung missed call. Saat itu, warga Australia melapor dapat missed call dari nomor Papua Nugini, Kongo, Slovenia, hingga Belgia.


"Ini adalah penipuan telepon premium. Mereka menelepon Anda, membiarkan telepon berdering 1 kali dan mematikannya. Mereka melakukan itu berulang kali agar Anda menelepon balik," kata Komisi Kompetisi Usaha dan Konsumen Australia Delia Rickard yang ditulis laman ABC.


Sementara di Indonesia, Pakar Digital Forensik Ruby Alamsyah turut memberikan tanggapan perihal teror missed call yang menimpa masyarakat belakangan ini. Dia menjelaskan bahwa kejahatan Wangiri ini sebenarnya bisa diantisipasi. “Kita harus cermat, dari sini kita bisa mengambil pelajaran bahwa nomor ponsel itu saat ini penting,” katanya ketika dihubungi JawaPos.com, Senin (2/4).


Dia menerangkan bahwa aksi kriminal ini memang terbilang kejahatan lama. Modus dan caranya hampir sama dan berulang. Kejahatan Call-Back Scam marak kembali lantaran perkembangan teknologi saat ini yang semakin canggih.


Terlebih dengan media internet yang sangat bebas penggunaannya. Untuk mendapat nomor di suatu negara menjadi semakin mudah dan cepat. Hal tersebut tentu membuka peluang kelompok atau oknum penjahat telekomunikasi menjadi semakin beringas.


Pelaku biasanya menggunakan tools sederhana yang tersedia bebas di internet atau perangkat yang sengaja mereka buat sendiri. “Apalagi jika ditambah dengan kecerobohan masyarakat yang memperlakukan nomornya dengan sembarangan,” jelas Ruby.


Dia mengaku pernah mengalaminya sendiri. Kejadiannya menimpa nomor ponselnya yang pernah ditulis pada akun jual beli, sosial media, dan lainnya. "Namun tidak bagi nomor saya yang memang sengaja saya jaga baik-baik. Artinya apa, kita bisa mencegah sendiri sebenarnya. Dengan apa? Dengan tidak sembarang menaruh nomor telepon yang punya celah untuk diretas orang lain,” pungkas Ruby.

Editor: Fadhil Al Birra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore