
Masamah TKW asal Desa Buntet, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon menceritakan kisah pilunya bekerja sebagai TKW di Tabuk, Arab Saudi, Minggu (1/4).
JawaPos.com - Mimpi Masamah untuk mendulang pundi-pundi Rupiah dari jeripayahnya menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi, pupus seketika. Tuduhan kasus pembunuhan anak majikannya membuat rencana Masamah membangun rumah di kampung halamannya buyar.
Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Desa Buntet, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon itu mengaku, dirinya menginginkan punya rumah untuk ditinggali bersama anak dan suaminya. Hal itulah yang mebuat Masamah bekerja sebagai TKW di Arab Saudi.
"Niat saya berangkat ke Saudi karena kepingin punya, bangun rumah sendiri di kampung," ujar Masamah di kediamannya, Minggu (1/4).
Ia mengungkapkan, selama bekerja di Tabuk, Masamah mengaku tidak pernah punya masalah dengannya. Bahkan Masamah sempat diberi uang pesangon dari mantan majikannya. Namun, uang itu ia tolak.
Akan tetapi, sejak polisi menyatakan dia sebagai pelaku pembunuhan anak majikannya, hubungan menjadi tidak harmonis.
"Sama majikannya saya, saya nggak punya masalah apa-apa. Setelah proses hukum berjalan, dia mau menerima bahwa saya bukan pelakunya," paparnya.
Setelah bertemu dengan sanak keluarganya Masamah mengatakan, dirinya hanya ingin selalu bersama-sama dengan suami dan anaknya. Dia belum punya rencana apa pun setelah kembali ke kampung halaman. Di pikirannya, hanya ingin bisa membahagiakan anak dan suaminya.
"Suami saya itu punya usaha cuci motor. Jadi, sementara ini mungkin saya ingin membantu suami dulu. Nggak mau ngapa-ngapain lagi. Apalagi balik lagi ke Saudi, saya nggak mau," tuturnya.
Sementara ayah Masamah, Raswa, 71, mengaku bahagia tak terbayar apapun usai melihat dan memeluk anaknya kembali ke kampung halaman dengan sehat. Dia sempat tak ingat makan minum sejak keberangkatan menuju Bandara Soekarno Hatta untuk menjemput Masamah.
"Pokoknya dari hari Jumat kemarin saya nggak ingat makan, nggak ingat tidur sebelum ketemu anak saya. Saya juga ketar-ketir menunggu satu jam di bandara," tutur Raswa.
Raswa mengatakan, dia dan sekeluarga berangkat ke Jakarta bersama pukul 03.00 Sabtu (31/3) kemarin. Kemudian, setelah menjemput anaknya di Bandara Soekarno Hatta, mereka langsung pulang dan baru sampai rumah pada Minggu 04.00 WIB pagi.
"Kami bersyukur, seneng. Bisa selamat sampai rumah. Saya juga nggak bolehin kalau Masamah jadi TKW lagi," terangnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
