Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 21 Maret 2018 | 21.38 WIB

Upaya Ponpes Mambaul Ulum Bata - Bata Pamekasan Lestarikan Manuskrip

HARTA KARUN: Naskah-naskah kuno yang disimpan di Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan. - Image

HARTA KARUN: Naskah-naskah kuno yang disimpan di Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan.


Di Pamekasan, Madura, Jawa Timur, ternyata "tersimpan" banyak naskah kuno. Anehnya, kebanyakan berhuruf pegon, Arab gun­dul dengan bahasa Jawa lama. Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan, pun tergerak untuk melestarikan "harta karun" peninggalan nenek moyang ratusan tahun silam itu.


DEBORA DANISA SITANGGANG, Pamekasan


---


KITAB - KITAB itu sudah tidak keruan bentuknya. Sebagian sobek-sobek di bagian tepi, dimakan rayap. Bahkan, ada yang bolong di tengah. Ada juga yang lengket. Warnanya sudah lusuh, kuning kecokelatan. Mungkin dulu berwarna putih.


Untung, huruf-huruf di atasnya masih bisa terbaca dengan jelas Hanya, kebanyakan manuskrip ditulis dengan aksara Arab gundul (pegon), sebagian dalam huruf Jawa (hanacaraka). Juga, hampir semua berbahasa Jawa. Karena itu, selain harus tahu sistem penulisan huruf pegon dan hanacaraka, pembacanya mesti menguasai bahasa Jawa bila ingin tahu makna manuskrip tersebut.


Itulah tantangan yang dihadapi para pengasuh dan santri Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, ponpes yang tergerak untuk menerjemahkan dan melestarikan naskah-naskah kuno tersebut. Sebab, kebanyakan dari mereka tidak bisa berbahasa Jawa. Meski begitu, mereka mengaku ingin sekali mempelajari manuskrip yang belum diketahui tahun pembuatannya dan peninggalan siapa itu. Naskah-naskah tersebut kini memang disimpan di salah satu sudut ponpes yang terletak di Desa Panaan, Palengaan, Pamekasan, tersebut.


Tak tanggung-tanggung, demi mengetahui makna naskah kuno itu, sebagian santri dikirim ke Indramayu, Jawa Barat. "Karena di sana (Indramayu, Red) kami kenal dengan seorang ahli manuskrip Jawa kuno," kata Kepala Pendidikan Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata Ahmadi saat ditemui di aula pesantren Sabtu lalu (17/3).


Ahli manuskrip itu bernama Ki Tarka Sutarahardja. Tarka diperkenalkan kepada pengurus ponpes oleh pemerhati manuskrip kuno di Pamekasan, KH Ilzamuddin. Tarka kemudian membantu Ilzam menerjemahkan naskah kuno yang dia simpan.


Tentu saja, dibutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk bisa menerjemahkan naskah kuno. Menurut Ilzam, untuk bisa mengerti naskah kunonya secara utuh, biaya yang dikeluarkan bisa jutaan rupiah. Hitungannya per lembar.


''Tinggal dikalikan saja dengan jumlah lembarnya,'' tutur Ilzam sambil menunjukkan naskah terjemahannya yang sudah berbentuk buku ukuran A4. Buku setebal 90 halaman itu berjudul Hikmah yang Tersembunyi. Bukan hanya satu, melainkan dua jilid (buku).


Yang pertama merupakan penulisan ulang naskah dari huruf Jawa kuno Gagrak Surakarta di manuskrip aslinya ke huruf Latin. Sementara itu, buku kedua adalah terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Isinya dialog antara Samun Ibnu Salam dan Muhammad SAW. Naskah tersebut ditulis oleh Kiai Bendara Dellegan pada 1749.


Ilzam menjelaskan, usia manuskrip bisa dilihat dari jenis tulisan yang terpampang dan jenis media yang digunakan. Manuskrip dengan daun lontar sudah pasti berusia paling tua. Manuskrip dengan bahan kulit kayu berusia lebih muda. Namun, untuk lebih pastinya, harus melalui penelitian lebih lanjut. ''Biasanya, dilakukan uji karbon. Nah, itu biayanya tidak murah juga," tuturnya.


Manuskrip-manuskrip tua yang kini disimpan di Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata umumnya didapat dari masyarakat. Menurut Ahmadi, sebenarnya banyak warga yang menyimpan manuskrip kuno itu. Ada yang mengaku warisan dari nenek moyang mereka, tapi ada juga yang hasil penemuan di gedung-gedung tua di Pamekasan.


Belum diketahui bagaimana bisa naskah-naskah kuno berbahasa Jawa tersebut sampai di tangan masyarakat Madura. Ahmadi sendiri menyatakan keheranannya.


Pengurus ponpes kemudian menunjukkan salah satu naskah dari daun lontar milik warga. Jumlahnya 72 lembar. Setiap lembarnya lalu difoto untuk dokumentasi. Bila ada yang ingin melihat atau meneliti, tinggal melihat di file foto. Naskah aslinya masih tersimpan di rumah pemiliknya di Buju' Gheru', Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan. Agak jauh dari lokasi pondok.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore