Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 13 Februari 2018 | 20.52 WIB

Fadli Zon Duga Ada Oknum yang Berupaya Mengadu Domba Indonesia

Fadli Zon - Image

Fadli Zon

JawaPos.com - Rangkaian penyerangan kepada tokoh pemuka agama terus menjadi sorotan. Sebelumnya, serangan dialami oleh tokoh dan pemuka agama Islam, kini penyerangan menimpa Gereja Santa Lidwina, Sleman, Yogyakarta.


Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Fadli Zon mengatakan, dirinya mengecam atas aksi penyerangan yang diketahui telah melukai jemaah dan pimpinan Misa gereja tersebut.


Fadli juga menegaskan, dirinya mendesak Polri untuk mengusut tuntas aksi-aksi brutal ini. Apalagi, saat ini motif yang dilakukan oleh pelaku masih belum jelas.


“Aksi penyerangan terhadap jemaah dan pimpinan Misa di Gereja Lidwina Sleman, Yogyakarta, jelas melukai kita. Saya mengecam tindakan tak beradab tersebut. Tindakan itu sama sekali tak mencerminkan ajaran agama manapun.” kata Fadli kepada JawaPos.com, Selasa (13/2).


Di sisi lain, Fadli menambahkan, jika menelisik rentetan kejadian yang masih terus berulang di seluruh Indonesia, maka dirinya menduga ada oknum yang tengah berusaha mengadu domba pada kasus ini.


Untuk itu, kata Fadli, dirinya mengajak masyarakat untuk lebih jeli dalam menilai suatu kejadian. Sebaliknya, jangan sampai kasus ini justru memecah belah persatuan Indonesia.


“Jangan sampai kita gampang menuduh seolah aksi terhadap kelompok A pastilah disebabkan kelompok B, atau sebaliknya,” ungkapnya.


Menurut pandangan Fadli, saat ini serangan demi serangan yang tengah dilakukan oleh oknum tidak bertanggung jawab terlihat memiliki pola target yang sama. Yakni, sasarannya adalah tokoh atau kelompok keagamaan.


Menariknya, kata Fadli, sejumlah penyerang yang berhasil diidentifikasi juga memiliki identitas tunggal, yaitu diduga sebagai orang gila.


"Kejadian-kejadian tadi jadi ada polanya. Sehingga, jangan heran jika ada sebagian dari kita yang menduga bahwa saat ini sedang ada semacam upaya adu domba antarumat beragama di sini, apapun kepentingannya.” tuturnya.


Oleh karena itu, Fadli menegaskan, dirinya mengajak aparat kepolisian harus bekerja cepat dan transparan. Sehingga tidak muncul spekulasi dan prasangka yang bisa memicu konflik di tengah masyarakat.


“Terlebih di tahun-tahun politik seperti sekarang. Upaya-upaya yang mengarah kepada adu domba, membentur-benturkan masyarakat, akan semakin banyak. Itu sebabnya pemerintah, dalam hal ini aparat keamanan, harus bisa mengantisipasi agar peristiwa serupa tak terulang lagi.” pungkasnya.


Sebagai Informasi, dalam dua pekan terakhir, setidaknya ada empat kali penyerangan terhadap tokoh agama. Pertama, penganiayaan terhadap pimpinan Pondok Pesantren Al Hidayah Cicalengka, Kabupaten Bandung, KH Umar Basri (Mama Santiong) yang diserang usai salat subuh pada 27 Januari 2018 lalu.


Selang beberapa hari kemudian, Komando Brigade PP Persis Ustad Prawoto juga dianiaya pada 1 Februari lalu di Bandung. Nahas, Ustas Prawoto akhirnya meninggal dunia.


Sedangkan di Biksu Mulyanto Nurhalim asal Desa Babat, Tangerang, Banten menghadapi persekusi warga pada Sabtu (10/2) lalu. Nurhalim dipaksa menandatangani surat perjanjian supaya tak menggelar kegiatan peribadatan di desanya sendiri.

Editor: Kuswandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore