
Ketua Umum HKTI Moeldoko
JawaPos.com - Di tengah cuaca ekstrem dan perkembangan teknologi, petani masih dihadapkan dengan sejumlah persoalan. Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) meningidentifikasi ada lima masalah yang dialami petani dan pertanian belakangan ini.
Ketua Umum HKTI Moeldoko menyebut, kelima persoalan pertanian di Indonesia itu di antaranya masalah tanah, modal, teknologi, manjerial, dan pascapanen. Untuk persoalannya tanah saat ini jumlah tanah yang bisa digarap untuk pertanian di Indonesia semakin sempit. Hal itu akibat perubahan fungsi lahan dari pertanian menjadi lahan perumahan dan minimnya dukungan perairan terhadap aliran petani.
"Rata-rata petani hanya punya tanah 0,2 ha. Sudah begitu kondisi tanahnya rusak karena penggunaan pestisida dan pupuk anorganik yang berlebihan," ujar Moeldoko dalam keterangan persnya yang diterima JawaPos.com, Sabtu (27/1).
Sementara untuk permodalan, kata Kepala Staf Presiden itu, petani pada saat mau menanam sudah pusing karena tanaman sebelumnya gagal. Ketika gagal itu petani berusaha mencari modal agar bisa bercocok tanam.
Kondisi ini dimanfaatkan oleh tengkulak dan pengijon yang pada akhirnya petani dalam kondisi lemah, kalah dan terlilit utang. "Saya sempat kelakar dengan Presiden, saat akan panen, petani itu sudah mau kelelep," tutur mantan Panglima TNI ini.
Lebih jauh mantan Panglima itu menyebut, di bidang teknologi pertanian, hingga kini para petani lebih suka menggunakan cara lama meski sudah jelas hasilnya rata-rata hanya 4-5 ton per ha.
Faktanya dengan memertahankan cara lama, petani tidak bisa meningkatkan jumlah produksinya. Perhatian dari pendamping kerap disepelekan.
Masalah kelima, yakni masalah masa setelah panen. Kebanyakan petani hingga saat ini tidak terbiasa untuk mengelola. Akibatnya harga dari panen tidak pernah berubah dari waktu ke waktu.
"HPP enggak tahu, tenaga enggak dihitung. Kalau dia bertani jagung, kedelai, apalagi padi. Padi itu 6 jam setelah panen harus dikeringkan, kalau tidak akan rusak. Ada kira-kira 10 persen yang lolos saat panen dengan cara tradisional. Dengan teknologi mekanisasi, lost-nya berkurang menjadi 3 persen," papar Moeldoko.
Persoalan-persoalan itulah yang membuat mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) itu memutuskan terjun ke pertanian untuk turut mencari solusinya.
Sejak menjabat Ketum HKTI, Moeldoko kerap bekerja sama dengan para peneliti. Moeldoko menyebut, setelah pensiun terus berbuat sesuatu. Pertama ingin mengubah mindset petani. Bagaimana mengajak petani berpikir progresif, bukan tradisional. Bukan yang pasrah dan berpikir ingin kaya saja tidak berani.
Kedua, mengubah metode petanian. Metode dijalankan dengan tagline "mudah, murah, melimpah". Mudah know how-nya, murah modal kerjanya, dan melimpah hasilnya," terang Moeldoko.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
