
Timnas Indonesia gagal meraih gelar juara pada AWSTC 2017
JawaPos.com - Timnas Indonesia tentu mendapatkan pelajaran pada tiga laga turnamen Aceh World Solidarity Tsunami Cup 2017. Pada turnamen ini Indonesia gagal menjadi juara dimana Kirgistan yang berhasil sebagai kampiun.
Indonesia sebenarnya menang melawan Brunei Darussalam 4-0 dan Mongolia 3-2, sayangnya pada laga penentu melawan Kirgistan, Indonesia kalah 0-1.
Banyak pelajaran yang didapat Indonesia pada turnamen yang notabene tak terlalu besar ini. Dari analisis JawaPos.com, setidaknya ada lima pelajaran yang didapat Indonesia pada turnamen ini.
Febri Hariyadi Semakin Dewasa dan Bisa Diandalkan
Ketika berbicara Febri, kita membayangkan pemain dengan kecepatan luar biasa, eksplosivitas, tapi kadang terlalu egois dan kurang efektif. Permainan Febri di ajang AWSTC 2017 sangat berbeda.
Sang pemain benar-benar mengembangkan umpan tariknya dengan sangat sempurna. Bahkan menurut statistik Labbola, Febri membuat 13 crossing atau umpan tarik sukses pada dua laga melawan Mongolia dan Kirgistan. Itu adalah angka yang sangat menawan untuk pemain yang terbiasa menusuk ketimbang mengumpan. Tambahan atribut tersebut membuat Febri akan semakin diandalkan.
Indonesia Memainkan Pola di Lapangan Becek
Masalah utama pada tiga laga Indonesia di ajang ini adalah Stadion Harapan Bangsa yang sangat becek dan tak layak memainkan sebuah laga seharusnya. Sehingga sistem Indonesia tak terlihat berjalan.
Meski begitu Luis Milla mengaku pada konferensi pers setelah laga melawan Mongolia bahwa para pemain tetap mencoba memainkan pola yang diminta.
"Saya tentu senang dengan kerja keras, perkembangan, dan sikap para pemain di lapangan. Apalagi ini pertandingan yang tidak mudah, dengan lapangan yang seperti tadi dan fisik lawan yang sangat kuat. Tapi saya senang sebab apa yang saya inginkan diterapkan di pertandingan oleh para pemain, itu juga penting," ujarnya.
Spasojevic Masih Mencari Sentuhan Terbaik
Performa striker anyar naturalisasi, Ilija Spasojevic, basih jauh dari kata memuaskan. Sang pemain hanya membuat satu gol pada laga melawan Mongolia itu pun dari titik putih.
Dia terlihat belum padu dengan para pemain menyerang Indonesia. Kondisi lapangan yang tak memadai dirasa juga menjadi alasan pergerakan Spaso tak seluwes biasanya. Dia mungkin butuh adaptasi lebih lagi.
Masih Mudah Termakan Emosi Ketika Dikasari
Indonesia adalah tim yang sangat sensitif. Ketika tim ini dikasari emosi para pemain sangat mudah meledak hingga akhirnya permainan mereka menjadi berantakan.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
