Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 20 Oktober 2017 | 02.05 WIB

Dunia Diguncang Masalah Obat Antibiotik, WHO Ungkap Fakta Mengejutkan

Ilustrasi - Image

Ilustrasi

JawaPos.com – Antibiotik dikenal juga sebagai antimikroba. Fungsinya adalah untuk melawan bakteri. Namun, penggunaan yang berlebihan atau dosis yang salah bisa membuat tubuh konsumen resistan terhadap antibiotik.


Masalah ini rupanya memang sedang dialami masyarakat dunia. Bekerja sama dengan Indian Institute of Technology (IIT), New Delhi, DSM Sinochem Pharmaceuticals (DSP) berupaya mengupas hal ini.


Untuk memerangi kerugian biaya resistensi atau penolakan antimikroba, yang diperkirakan berkisar USD100 triliun pada ekonomi global dan kerugian hampir 10 juta nyawa setiap tahun pada tahun 2050, PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) melalui Organisasi Kesehatan Dunia WHO, telah menyuarakan aksi yang berkelanjutan.


Menurut laporan WHO, dunia kehabisan antibiotik dan tidak mempunyai cukup antibiotik untuk memerangi ancaman AMR (Antimicrobial Resistance).


“Process Analytical Technology (PAT) menjadi solusi. PAT merupakan sebuah rangka kerja untuk proses dan pemantauan bahan mentah obat dengan menyesuaikan parameter proses untuk memastikan kualitas produk yang konsisten. PAT memastikan pengembangan, manufaktur, kualias farmasi yang inovatif. Sehingga dapat menekan angka resistan antibiotik atau AMR,” kata Pakar Kesehatan dari Biopharmaceutical Technology dan Department of Chemical Engineering dari Indian Institute of Technology-Delhi, New Delhi, Prof. Anurag S. Rathore, Ph.D. dalam keterangan tertulis, Kamis (19/10).


Menurutnya, mayoritas obat yang ada pada jalur klinis saat ini adalah modifikasi dari kelas-kelas antibiotik yang sudah ada dan hanya merupakan solusi sementara.


Selain itu, untuk menjaga potensinya, obat baru harus ditemukan. WHO mendukung Kementerian Kesehatan Indonesia dalam mengembangkan formula mengatasi hal ini.


“Dalam AMR, disebabkan pengelolaan infeksi yang tidak efisien dan tidak efektif karena kurangnya pengetahuan dan pendidikan, pengaturan penggunaan antibiotik yang lemah, tingginya pengobatan sendiri. Resistan terhadap antibiotik adalah masalah besar kesehatan publik saat ini,” katanya.


Selain masalah resistensi antimikroba yang menjadi fokus oleh perusahaan farmasi, mereka juga fokus pada dampak polusi lingkungan oleh perusahaan manufaktur obat di negara berkembang.


Di India dan Tiongkok, yang memproduksi banyak sekali antibiotik, peraturan mengenai pembuangan limbah obat tak diolah sehingga mengotori tanah dan sungai.


Sementara Indonesia, iklim tropis dengan kepadatan penduduk yang tinggi dengan prevalensi penyakit infeksi, menyebabkan beban AMR yang tinggi. Ada juga keprihatinan masalah kualitas obat antibiotik yang murah dan di bawah standar yang beredar di Indonesia.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore