Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 11 Oktober 2017 | 21.23 WIB

Hapus Disparitas Harga dengan Jembatan Udara

Grafis - Image

Grafis

JawaPos.com- Tol laut ternyata belum sepenuhnya menjadi solusi disparitas harga di Indonesia. Daerah-daerah pedalaman yang jauh dari pelabuhan tetap tidak bisa mendapatkan manfaat dari program unggulan pemerintahan Jokowi-JK tersebut. Karena itu, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) meluncurkan senjata berikutnya, jembatan udara.


Jembatan udara tersebut adalah angkutan udara kargo yang akan dijalankan pemerintah untuk melakukan distribusi bahan pokok di daerah terpencil. Untuk tahap awal akan dilakukan di Papua. Sebab, sebagian besar wilayah di tempat itu tidak terhubung jalur darat. ”Jembatan udara efektif untuk daerah yang terpencil, terluar, dan daerah perbatasan,” kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.


Ada tiga kota di Papua yang diplot untuk menjadi titik start jembatan udara tersebut, yaitu Timika, Dekai, dan Wamena. ”Sebagian besar Papua sebenarnya medannya sulit. Namun, tiga kota itu akan kami jadikan pilot project tahun ini,” lanjut Budi.


Dalam jembatan udara tersebut, pemerintah akan menyubsidi biaya angkutan udara kargo. Karena yang dituju adalah distrik, penerbangannya bersifat perintis kargo. Pesawat yang digunakan pun telah disesuaikan dengan kapasitas maksimum yang dapat dioperasikan di bandara asal maupun tujuan. Tahun ini, dari tiga titik start itu, Kemenhub akan menjalankan 12 rute angkutan udara perintis kargo. Pesawat yang digunakan adalah Boeing 737 Freighter.


Budi Karya yakin jembatan udara itu akan menggerakkan ekonomi di daerah pedalaman. Tidak hanya membawa barang kebutuhan pokok menuju pedalaman, tapi juga membawa produk dari pedalaman untuk dipasarkan ke luar.


Jembatan udara itu nanti terintegrasi dengan beberapa lokasi pelabuhan yang akan terkoneksi dengan program tol laut yang juga sedang dijalankan pemerintah. ”Kami ingin sekali produktivitas angkutan balik dari Indonesia bagian timur ke Indonesia bagian barat menjadi lebih baik,” terangnya.


Kesenjangan harga di Papua dengan kawasan Indonesia lainnya memang tinggi. Terutama di kawasan pedalaman. Jawa Pos sempat berkeliling di beberapa kota di Papua awal Agustus lalu. Kota yang sempat Jawa Pos sambangi adalah Wamena, Jayapura, Waisai di Raja Ampat, dan Merauke. Di antara kota-kota tersebut, Wamena merupakan daerah yang kebutuhan hidupnya lebih mahal jika dibandingkan dengan kawasan lain.


Misalnya saja harga premium. Di Wamena, harganya bisa Rp 15.000 hingga Rp 20.000 per liter. Membeli premium pun harus ke pengecer. Sebab, ibu kota Kabupaten Jayawijaya itu hanya memiliki satu SPBU.


Harga premium di sana jauh lebih mahal daripada kota lain di Papua yang memiliki akses lebih bagus. Di Jayapura, misalnya, harga premium hanya Rp 10.000 jika membeli di SPBU. Jika membeli di pengecer, selisih harganya Rp 2.000.


Harga semen juga jauh lebih mahal. Satu sak bisa mencapai Rp 500.000. Karena itu, lebih banyak rumah di wilayah tersebut yang menggunakan kayu. Hanya rumah-rumah di kota yang berdinding semen, meski sekat ruangan di dalam rumah tetap menggunakan kayu.


Disparitas harga di Wamena lebih tinggi lagi untuk harga makanan atau minuman. Air mineral 1,5 liter bisa dibanderol Rp 20.000. Padahal, jika beli di Jawa, air mineral sebesar itu hanya dihargai Rp 5.000 hingga Rp 7.000. Jangan kaget juga jika Anda jajan makanan berat di kota yang berada di Lembah Baliem tersebut. Nasi ayam penyet bisa dihargai Rp 50.000. Tentu ayam penyet sekadarnya dengan jumlah yang sedikit.


Harga mahal di kawasan itu memang wajar. Sebab, menurut penduduk sekitar, seluruh kebutuhan harus diangkut dengan pesawat terbang. Belum ada jalur darat yang menembus kawasan tersebut. Selain medan yang berbukit serta jalan yang sebagian besar tanah, wilayah sekitar masih rawan konflik.


Akses pesawat pun tidak bisa sembarangan. Pilot Trigana Air Denny Jigibalom mengungkapkan, cuaca sangat memengaruhi penerbangan. ”Kalau berkabut, tidak berani terbang karena khawatir menabrak bukit,” ujar pilot asli Wamena itu.


Fasilitas landasan pun, menurut Denny, kurang maksimal. Apalagi jika menjangkau pedalaman. Terkadang tak ada petugas darat yang memandu. Landasan pacu pun bisa jadi hanya tanah. Panjangnya juga tidak standar. ”Biasanya pilot berkomunikasi dengan pesawat sekitarnya kalau mau landing atau terbang agar tidak tabrakan,” ucapnya.


Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore