Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 3 Oktober 2017 | 18.26 WIB

Lebih dari Sejuta Anak Belum Terlindungi

MERINGIS: Salah seorang pelajar MTsN 1 Sidoarjo mengikuti imunisasi MR. - Image

MERINGIS: Salah seorang pelajar MTsN 1 Sidoarjo mengikuti imunisasi MR.

JawaPos.com- Pemerintah harus berjuang lebih keras untuk mewujudkan kekebalan kolektif terhadap penyakit measles-rubella (MR) atau campak-rubela. Sebab, ada beberapa provinsi yang capaian vaksinasinya di bawah 95 persen. Padahal, angka itu merupakan angka minimal untuk terciptanya kekebalan kolektif.


Hingga Senin (2/10), cakupan imunisasi MR mencapai 98,43 persen atau 34.964.397 anak sudah divaksin. Itu di atas target 95 persen. Namun, karena beberapa provinsi masih di bawah 95 persen, tetap ada pencapaiannya yang tidak bagus. Tanpa adanya kekebalan kolektif, bisa jadi kelak mewabah lagi campak dan rubela.


Adalah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten yang belum bisa mencapai partisipasi imunisasi MR 95 persen. Tiga provinsi lain, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DI Jogjakarta, berhasil melampaui target. Bahkan, Jatim menembus angka 106 persen. Paling tinggi di antara enam provinsi yang ikut program imunisasi saat ini.


Berdasar data yang dirilis Kementerian Kesehatan, lebih dari sejuta anak belum diimunisasi MR. Yang paling banyak di Jawa Barat dengan 841.345 anak. Sementara itu, di Banten, yang belum diimunisasi mencapai 308.397 anak.


Karena masih ada provinsi yang belum mencapai 95 persen, kampanye imunisasi diperpanjang dua pekan. Jika awalnya diakhiri pada 30 September, kini tenggat masa kampanye diundur menjadi 14 Oktober. ”Kami optimistis perpanjangan waktu ini akan membuat seluruh provinsi bisa mencapai target,” kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit M. Subuh. ”Awalnya banyak pengamat yang pesimistis, ternyata pencapaiannya sudah bagus seperti ini,” lanjutnya.


Subuh menjelaskan, ada banyak kendala di lapangan. Bukan hanya perbedaan pendapat mengenai kehalalan vaksin. Kendala teknis seperti ketidaksesuaian jumlah anak berdasar data pemerintah dengan di lapangan juga cukup menyulitkan. ”Di masing-masing provinsi kendalanya berbeda,” jelasnya.


Di Jakarta misalnya, masih banyak orang tua yang enggan mengikutkan anaknya imunisasi karena merasa telah memberikan vaksin serupa. ”Ada yang katanya sudah vaksin di luar negeri,” tuturnya.


Padahal, pemerintah dalam kampanye vaksin MR tersebut tidak memandang apakah si anak telah diimunisasi atau belum. Selama anak masih berusia 9 bulan hingga 15 tahun, mereka wajib diberi vaksin MR.


Pemberian vaksin secara berulang tersebut tidak membuat overdosis. Berbeda dengan pemberian obat. Setelah kampanye vaksin MR selesai dilakukan di Pulau Jawa, setiap anak yang berusia 9 bulan, 18 bulan, dan kelas I SD harus kembali divaksin.


Permasalahan lainnya adalah banyak anak yang masih berusia 15 tahun atau kurang yang sudah masuk SMA. Padahal, dalam kampanye selama Agustus hingga September, vaksin maksimal diberikan kepada siswa SMP.


Menghadapi masalah itu, Subuh menuturkan bahwa kepala dinas kesehatan di setiap provinsi sudah diperintahkan untuk melakukan sweeping. Dengan demikian, target seluruh anak tervaksin diharapkan bisa tercapai.


Permasalahan yang muncul selama kampanye imunisasi MR di Pulau Jawa akan dijadikan panduan bagi Kementerian Kesehatan untuk kampanye di luar Jawa. Rencananya, tahun depan pada bulan yang sama, dilaksanakan kampanye vaksin MR serentak seluruh pulau di luar Jawa.


Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore