
Para pembalap Iran asal tim Pishgaman Cycling Team mengenakan sarung dan kopiah.
JawaPos.com - Ada yang berbeda dan menarik pada etape keempat International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) 2017, Sabtu (30/9) siang. Etape keempat mengambil start di Pondok Pesantren di Pondok Pesantren Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.
Sejak pertama kali digelar pada tahun 2012 silam, untuk kali pertama ITdBI mengambil start di sebuah pondok pesantren. Rupanya ada misi toleransi beragama yang ingin disampaikan penyelenggara ITdBI ketika memutuskan untuk menunjuk Ponpen Darussalam sebagai titik start.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, ITdBI sangat cocok dan efektif untuk dijadikan sarana pengenalan dan promosi terhadap tradisi pesantren yang merupakan ikon pendidikan asli nusantara, sekaligus mengampanyekan nilai-nilai toleransi beragama.
"Kami perkenalkan ke publik global bahwa tradisi pendidikan Islam di Indonesia cukup khas dan punya sejarah panjang dalam menyemaikan nilai-nilai Islam yang penuh damai," kata Anas.
Anas penambahkan, anak-anak muda Banyuwangi yang menjadi pendamping tim-tim luar negeri telah diminta untuk menjelaskan kepada pembalap tentang apa itu pesantren dan perannya di Indonesia.
Sebelum balapan dimulai, para pembalap serta panitia lomba dari Persatuan Balap Sepeda Internasional (UCI) diajak ikut mengenakan sarung dan kopiah.
Pembalap asal Selandia Baru Matthew Zenovich nampak terkesan dengan pengalaman pertamanya mengenakan sarung dan kopiah. Pembalap 23 tahun ini sempat bertanya kegunaannya, dan santri-santri tersebut lalu menerangkan.
"Nyaman juga dipakai. Sedikit seperti orang Skotlandia," aku Zenovich
Sementara itu, Pesantren Darussalam dipilih sebagai lokasi start karena lokasinya berada di daerah heterogen. Di sekitar pesantren juga terdapat masyarakat yang memeluk agama Hindu dan agama lainnya.
"Meski demikian, tak pernah ada konflik karena perbedaan agama. Mereka saling menghormati, gotong-royong membangun daerahnya," imbuh Anas.
Pengasuh Ponpes Darussalam KH Hisyam Syafaat mengatakan, perbedaan agama bukanlah sekat yang harus memisahkan antar masyarakat. "Prinsip menjaga kerukunan tidak hanya untuk mereka yang ada di lingkungan pesantren saja, tapi juga diajarkan kepada masyarakat luas. Sehingga prinsip tersebut menjadi budaya yang baik di tengah masyarakat," tuturnya.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
