Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 30 September 2017 | 23.36 WIB

Kampanye Toleransi di Etape Empat ITdBI 2017

Para pembalap Iran asal tim Pishgaman Cycling Team mengenakan sarung dan kopiah. - Image

Para pembalap Iran asal tim Pishgaman Cycling Team mengenakan sarung dan kopiah.

JawaPos.com - Ada yang berbeda dan menarik pada etape keempat International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) 2017, Sabtu (30/9) siang. Etape keempat mengambil start di Pondok Pesantren di Pondok Pesantren Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.


Sejak pertama kali digelar pada tahun 2012 silam, untuk kali pertama ITdBI mengambil start di sebuah pondok pesantren. Rupanya ada misi toleransi beragama yang ingin disampaikan penyelenggara ITdBI ketika memutuskan untuk menunjuk Ponpen Darussalam sebagai titik start.


Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, ITdBI sangat cocok dan efektif untuk dijadikan sarana pengenalan dan promosi terhadap tradisi pesantren yang merupakan ikon pendidikan asli nusantara, sekaligus mengampanyekan nilai-nilai toleransi beragama.


"Kami perkenalkan ke publik global bahwa tradisi pendidikan Islam di Indonesia cukup khas dan punya sejarah panjang dalam menyemaikan nilai-nilai Islam yang penuh damai," kata Anas.


Anas penambahkan, anak-anak muda Banyuwangi yang menjadi pendamping tim-tim luar negeri telah diminta untuk menjelaskan kepada pembalap tentang apa itu pesantren dan perannya di Indonesia.


Sebelum balapan dimulai, para pembalap serta panitia lomba dari Persatuan Balap Sepeda Internasional (UCI) diajak ikut mengenakan sarung dan kopiah.


Pembalap asal Selandia Baru Matthew Zenovich nampak terkesan dengan pengalaman pertamanya mengenakan sarung dan kopiah. Pembalap 23 tahun ini sempat bertanya kegunaannya, dan santri-santri tersebut lalu menerangkan.
"Nyaman juga dipakai. Sedikit seperti orang Skotlandia," aku Zenovich


Sementara itu, Pesantren Darussalam dipilih sebagai lokasi start karena lokasinya berada di daerah heterogen. Di sekitar pesantren juga terdapat masyarakat yang memeluk agama Hindu dan agama lainnya.


"Meski demikian, tak pernah ada konflik karena perbedaan agama. Mereka saling menghormati, gotong-royong membangun daerahnya," imbuh Anas.


Pengasuh Ponpes Darussalam KH Hisyam Syafaat mengatakan, perbedaan agama bukanlah sekat yang harus memisahkan antar masyarakat. "Prinsip menjaga kerukunan tidak hanya untuk mereka yang ada di lingkungan pesantren saja, tapi juga diajarkan kepada masyarakat luas. Sehingga prinsip tersebut menjadi budaya yang baik di tengah masyarakat," tuturnya.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore