Selasa, 12 Dec 2017
Logo JawaPos.com
Travelling

Wow, Festival Pesona Gunung Kawi Bikin Heboh Wisatawan

| editor : 

Penampilan juara 1 lomba cipta tari khas Gunung kawi dari Kecamatan Wagir

Penampilan juara 1 lomba cipta tari khas Gunung kawi dari Kecamatan Wagir (soejatmiko/jawapos.com)

JawaPos.com- Perhelatan Lomba cipta tari khas Gunung kawi pada Gumebyar Pesona Gunung Kawi (GPGK) yang berakhir Kamis (21/9) benar-benar sukses luar biasa. Setidaknya ada sekitar 15 ribuan pengunjung menyaksikan grand final yang memadati lapangan Desa Wonosari Kecamatan Wonosari.

Acara GPGK itu dikemas menjadi satu dengan Festival Pesona Gunung Kawi Desa Wonosari, yang sudah menjadi agenda acara setiap bulan Suro. Para wisatawan domestik maupun mancanegara memadati   venue yang mengelilingi lapangan yang memang sering digunakan untuk berbagai pertunjukan kesenian rakyat. Tak heran bila  GPGK dan Festival Gunung Kawi benar-benar sukses luar biasa.

Penampilan Lima grand finalis GPGK di lapangan terbuka itu, membuat penonton antusias menikmati suguhan tarian yang telah terseleksi dari 33 grup tari dari seluruh Kabupaten Malang. Penampilan para finalis itu mengawali pertunjukkan 14 tarian  yang menjadi ajang tahunan warga Desa Wonosari.

Para pengunjung yang membanjiri venue pertunjukkan benar-benar melihat pemandangan tersendiri pada festival kali ini.’’ Ini baru festival rakyat. Saya kagum dengan warga disini, bisa memberikan tontonan menarik bagi para wisatawan,’’ kata Hari, salah seorang pengunjung dari Bandung.

Acara itu sendiri dimulai dengan pembukaan Festival Pesona Gunung Kawi di areal terminal Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, sekitar pukul 10.00. Bupati Rendra Kresna membuka acara usai seratusan penari tampil membawakan  tarian selamat datang dengan musik campur sari (mamadukan gamelan jawa, keyboard, dan drumband).

Tari penutupan Festival Pesona Gunung Kawi 2017 (sudjatmiko/jawapos.com)

Hadir pada kesempatan tersebut Okto Irianto, Asisten Deputi Jasa Kemaritiman, Kemenko Maritim. Arief Khumaidy, Asdep Kepariwisataan, Ristek dan Lingkungan Maritim, Sekretariat Kabinet Kemenkomaritim. Endang Listyaningsih Kabid Kepariwisataan Setkab. Trisno Sudigdho, Fasilitator Destinasi BTS (Bromo Tengger Semeru) Kemenpar.

Setelah dibuka Okto Irianto, Asisten Deputi Jasa Kemaritiman, Kemenko Maritim, dengan ayunan bendera start, para peserta yang terdiri dari 14 RW di Desa Wonosari mulai menyusuri rute dengan jalan menanjak sepanjang hampir 2 km.  Mereka mengikuti rute menanjak menuju lokasi venue terbuka.  Iring-iringan itu mengikuti ruti menuju pemakaman Kyai Zakaria atau kondang juga disebut Eyang Djugo dan RM Imam Soedjono.

Setiap peserta pawai yang merupakan perwakilan dari 14 RW di Desa Wonosari terdiri atas satu jollen yang ditandu 10 sampai 15 orang. Bentuknya bermacam-macam. Ada prototype rumah, candi, hewan, atau pun tokoh Anoman. Selain itu, satu rombongan diiringi 20 - 50 penari. Kemudian mereka juga diiringin musik dengan berbagai instrumen seperti gong, kenong, mandolin, seperangkat drumband, keyboard. Pembawa insturmen berbeda beda bisa berkisar antara 10 -15 personil.

Tak hanya itu, dalam rombongan itu juga ada salah satu pembawa nasi tumpeng. ‘’Nasi tumpeng ini setelah sampai di atas, langsung menuju makam Eyang Djugo. Sedangkan lainnya menuju lapangan untuk menampilkan atraksi tariannya,’’ kata Kades Wonosari Kuswanto.

Untuk itulah  jumlah tumpeng yang menuju ke makam Eyang Djugo berjumlah berjumlah 14 tumpeng. Setelah didoakan juru kunci makam, tumpeng itu dibagi lagi 4 tumpeng untuk panitia festival. Sedangkan 10 tumpeng tetap berada di makam dan dibagikan pada para pengunjung makam.

Sesampainya mereka di venue pertunjukkan yang diapit Masjid Agung RM Imam Soedjono dan Klenteng, para peserta itu langsung melakukan demo tarian sesuai tema yang mereka bawa.

Puncaknya selain pengumuman para peserta lomba cipta Tari, Kades Wonosari Kuswanto melakukan prosesi pembakaran ogoh ogoh raksasa, yang dirupakan dalam bentuk raksasa yang sedang menaiki seekor harimau dengan mulut menyeringai. ‘’Pembakaran ini merupakan simbol bahwa angkara murka dan perbuatan jahat harus dimusnahkan dari bumi Wonosari,’’ kata Kades Wonosari Kuswanto, saat memulai prosesi pembakaran Ogoh-ogoh.

Sementara itu Kadisparbud Kabupaten Malang, Made Arya Wedhantara menegaskan bahwa festival tari dan festival Gunung Kawi akan disatukan ke depannya. Sehingga pertunjukkan tari yang menjadi tari khas Gunung Kawi ini bakal mengawali berbagai jenis tarian dari 14 RW di Desa Wonosari. ‘’ Nah, mudah-mudahan dalam setahun ini sudah tercipta tari khas Gunung Kawi. Sumbernya ya dari kompetisi lomba tari khas ini,’ katanya.

Menurut Made, tarian yang berasal dari lima peserta yang lolos ke grand final ini nantinya akan digodok bersama para seniman tari Malang dan Wonosari serta dikonsultasikan juga pada maestro tari Didik Nini Thowok. ‘’Saya yakin dalam setahun sudah selesai penggarapannya. Sehingga bakal menjadi tari khas Gunung Kawi yang bisa dibawakan secara massal untuk acara berbagai even khususnya di Gunung Kawi. Tari itu juga bakal ditampilkan di acara kabupaten melengkapi tarian khas daerah lainnya yang dimiliki Kabupaten Malang,’’ pungkasnya.

Dalam lomba cipta tari khas Gunung Kawi keluar sebagai juara masing-masing, juara 1 kelompok tari Sanggar Tari Kecamatan Wagir, juara II sanggar tari Puspita Sari,  Kecamatan Sumber Pucung. Juara III Sanggar Tari Wonosari dari Desa Wonosari Kecamatan Wonosari, Juara harapan 1 sanggar tari Kencana, Pakis Haji, juara Harapan II grup tari Sekar Ayu Gunung Kawi dari Kecamatan Kesambon.

(mik/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP