Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 20 September 2017 | 03.27 WIB

Seni Simbol Sosial Politik

SENI: Reog merupakan kesenian khas Ponorogo. - Image

SENI: Reog merupakan kesenian khas Ponorogo.

JawaPos.com- Sisa-sisa keperkasaan masih membekas di wajah Ghani, warga Desa Pulung, Kecamatan Pulung, Ponorogo. Tangannya bergerak lincah. Lelaki itu memainkan gerakan adu jotos secara lugas. Salah satu adegan yang wajib muncul saat warok tampil.


’’Tari itu melambangkan tujuan tertentu. Gerakannya adalah simbol yang mewakili niat,’’ tutur mantan warok itu saat ditemui di rumahnya. Meski hidup 30 kilometer dari kota, ilmu filsafat lelaki tua tersebut masih cukup mumpuni. Ghani memaparkan nilai-nilai sosial dalam kesenian reog.


Soal reog, otak Ghani yang berusia 60 tahun memang ngelonthok. Sejak usia SD, dia aktif sebagai penggiat seni. Tari jathilan hafal di luar kepala. Dia pernah beratraksi lucu saat dipercaya membawakan tari bujanganom. Mbarong pun pernah dilakoninya.


Nah, aktivitas sebagai seniman masih mengalir hingga saat ini. Namun, bukan lagi sebagai pemain. Ghani aktif mengajari anak-anak menari reog. Dia pelatih paguyuban di Pulung. ’’Saya masih sering kangen main. Kalau mbarong nggak kuat, pilih ngendang saja,’’ paparnya. Gara-gara kiprahnya, dia pernah diminta melatih kendang di Suriname.


Namun, Ghani tak kerasan. Dia ngebet pulang kampung. Pengalaman di luar negeri menguatkan kecintaan pada reog. Kini dia punya aktivitas baru. Statusnya berubah jadi perajin yang kondang secara nasional.


Entah, sudah berapa hasil karyanya yang dikirim ke luar negeri. Lelaki itu pernah mengirim reog ke Tiongkok. Dia jadi jujukan wisatawan. ’’Satu pesanan belum rampung. Nanti dikirim ke Sulawesi,’’ katanya. Sat ditemui, dia tengah merampungkan sebuah kepala reog. Catnya masih tampak baru. Untuk kulit harimau, Ghani mengaku mengambilnya dari luar negeri. Sebab, bahannya kian sulit.


Reog Ponorogo adalah salah satu kesenian tari paling komplet. Gerakan tari, karya topeng, dan musik berpadu. Setiap penari punya kiprah masing-masing.


Berdasar buku Babad Ponorogo karya Purwowijoyo, reog Ponorogo versi Bantarangin lahir dari kegandrungan Prabu Kelono Sewandono kepada Dewi Songgolangit. Pemilik takhta Kerajaan Bantarangin itu ingin mempersunting putri asal Kediri tersebut.


Tapi, Dewi Songgolangit mengajukan syarat. Dia meminta Kerajaan Bantarangin membuat kesenian untuk menghibur hatinya. Kesenian yang tak boleh meniru. Semacam tarian yang diiringi tabuhan dan gamelan. Dilengkapi barisan kuda kembar sebanyak 140 ekor dan harus dapat menghadirkan binatang berkepala dua.


Budayawan Ponorogo Sutejo punya cerita berbeda. Peraih gelar doktor dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu melihat reog bukan hanya kesenian. Ada nilai sosial dalam barongan.


’’Dasarnya, versi lain asal usul reog Suryangalam,’’ paparnya. Menurut Sutejo, reog lahir dari pemberontakan Ki Ageng Kutu. Saat itu, dia ingin memberontak pada Kerajaan Majapahit. Namun, tidak berani terang-terangan karena kalah armada.


Saat itu, Majapahit di abad ke-15 dipimpin Prabu Bhre Kertabhumi. Ki Ageng Kutu melihat rajanya kurang bijaksana. Keputusannya selalu kalah oleh perempuan. Yakni, istrinya yang berdarah Tiongkok. Ki Ageng Kutu protes. Dia membuat kesenian berwujud barongan dengan simbol merak di atasnya. ’’Merak jadi gambaran putri asal Tiongkok. Istri raja Majapahit,’’ kata Sutejo.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore