
SENI: Reog merupakan kesenian khas Ponorogo.
JawaPos.com- Sisa-sisa keperkasaan masih membekas di wajah Ghani, warga Desa Pulung, Kecamatan Pulung, Ponorogo. Tangannya bergerak lincah. Lelaki itu memainkan gerakan adu jotos secara lugas. Salah satu adegan yang wajib muncul saat warok tampil.
’’Tari itu melambangkan tujuan tertentu. Gerakannya adalah simbol yang mewakili niat,’’ tutur mantan warok itu saat ditemui di rumahnya. Meski hidup 30 kilometer dari kota, ilmu filsafat lelaki tua tersebut masih cukup mumpuni. Ghani memaparkan nilai-nilai sosial dalam kesenian reog.
Soal reog, otak Ghani yang berusia 60 tahun memang ngelonthok. Sejak usia SD, dia aktif sebagai penggiat seni. Tari jathilan hafal di luar kepala. Dia pernah beratraksi lucu saat dipercaya membawakan tari bujanganom. Mbarong pun pernah dilakoninya.
Nah, aktivitas sebagai seniman masih mengalir hingga saat ini. Namun, bukan lagi sebagai pemain. Ghani aktif mengajari anak-anak menari reog. Dia pelatih paguyuban di Pulung. ’’Saya masih sering kangen main. Kalau mbarong nggak kuat, pilih ngendang saja,’’ paparnya. Gara-gara kiprahnya, dia pernah diminta melatih kendang di Suriname.
Namun, Ghani tak kerasan. Dia ngebet pulang kampung. Pengalaman di luar negeri menguatkan kecintaan pada reog. Kini dia punya aktivitas baru. Statusnya berubah jadi perajin yang kondang secara nasional.
Entah, sudah berapa hasil karyanya yang dikirim ke luar negeri. Lelaki itu pernah mengirim reog ke Tiongkok. Dia jadi jujukan wisatawan. ’’Satu pesanan belum rampung. Nanti dikirim ke Sulawesi,’’ katanya. Sat ditemui, dia tengah merampungkan sebuah kepala reog. Catnya masih tampak baru. Untuk kulit harimau, Ghani mengaku mengambilnya dari luar negeri. Sebab, bahannya kian sulit.
Reog Ponorogo adalah salah satu kesenian tari paling komplet. Gerakan tari, karya topeng, dan musik berpadu. Setiap penari punya kiprah masing-masing.
Berdasar buku Babad Ponorogo karya Purwowijoyo, reog Ponorogo versi Bantarangin lahir dari kegandrungan Prabu Kelono Sewandono kepada Dewi Songgolangit. Pemilik takhta Kerajaan Bantarangin itu ingin mempersunting putri asal Kediri tersebut.
Tapi, Dewi Songgolangit mengajukan syarat. Dia meminta Kerajaan Bantarangin membuat kesenian untuk menghibur hatinya. Kesenian yang tak boleh meniru. Semacam tarian yang diiringi tabuhan dan gamelan. Dilengkapi barisan kuda kembar sebanyak 140 ekor dan harus dapat menghadirkan binatang berkepala dua.
Budayawan Ponorogo Sutejo punya cerita berbeda. Peraih gelar doktor dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu melihat reog bukan hanya kesenian. Ada nilai sosial dalam barongan.
’’Dasarnya, versi lain asal usul reog Suryangalam,’’ paparnya. Menurut Sutejo, reog lahir dari pemberontakan Ki Ageng Kutu. Saat itu, dia ingin memberontak pada Kerajaan Majapahit. Namun, tidak berani terang-terangan karena kalah armada.
Saat itu, Majapahit di abad ke-15 dipimpin Prabu Bhre Kertabhumi. Ki Ageng Kutu melihat rajanya kurang bijaksana. Keputusannya selalu kalah oleh perempuan. Yakni, istrinya yang berdarah Tiongkok. Ki Ageng Kutu protes. Dia membuat kesenian berwujud barongan dengan simbol merak di atasnya. ’’Merak jadi gambaran putri asal Tiongkok. Istri raja Majapahit,’’ kata Sutejo.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Cara Ampuh Mengatasi HP Lemot Tanpa Harus Ganti Baru
Pengurus NU Laporkan Dugaan Politik Uang Muktamar ke KPK, Uang Rp 40 Juta Dikembalikan
Prediksi Skor Persik Kediri vs Madura United: Laskar Sape Kerap Punya Kans Menang di Brawijaya!
Jokowi Temui Prabowo saat Sidang Putusan Gibran, Ajudan Ungkap Isi Pertemuan
Prediksi Skor Persipura vs RANS Nusantara: Produktivitas Gol Jadi Pembeda
Prediksi Skor Malaga vs Espanyol: Los Periquitos Bidik Poin, Tuan Rumah Terpuruk
Fraksi PKB Usulkan Pembentukan Pansus Tindak Lanjuti Putusan MK soal Ijazah Gibran
Prediksi Skor JDT vs Svay Rieng di ACC Cup: Harimau Selatan Diunggulkan Menang
Prediksi Lion City Sailors vs CAHN di ACC: Adu Kuat Tuan Rumah dengan Wakil Vietnam
Peringati Hari Kesaktian Pancasila, Alfa Penyintas Stroke Jalan Kaki 21 KM Dengan Rute Garuda

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022