
A.S. Laksana
MEMBACA cerita yang bagus membuat saya putus asa mengenai keterampilan saya menulis. Namun, membaca cerita buruk membuat saya marah, sebab ia menular.
Dan saya sendiri adalah penulis yang tersendat-sendat, dengan tingkat produktivitas yang menyedihkan. Sebagai pemalas, saya selalu sanggup menemukan apa yang bisa disalahkan. Anda tahu, setiap pemalas selalu bisa menemukan kambing hitam.
Saya pikir, saya tersendat-sendat karena waktu dan perhatian saya tersita oleh media sosial. Saya menyalahkan media sosial meski sebenarnya ia memiliki kebajikan juga: media sosial memudahkan saya memahami aspek-aspek psikopatologis dalam kehidupan sehari-hari manusia. Itu penting bagi penulis fiksi.
Seseorang menelepon tepat ketika saya baru menghidupkan laptop, di hari pertama setelah saya membebaskan diri dari media sosial. Tidak ada nama di layar, hanya deretan nomor. Selamat siang, katanya, boleh saya minta waktunya sebentar. Saya menanyakan untuk kepentingan apa, dia balik bertanya apakah saya ada waktu dalam minggu ini untuk dia datangi ke rumah. Kita mau mengajak kerja sama, Pak, katanya.
Syukurlah. Saya pikir dia ingin datang ke rumah dan mengajak berdiskusi tentang apa arti hidup ini. Jika itu terjadi, kami bakalan berkutat dalam percakapan panjang yang tidak akan pernah rampung hingga seratus tahun kemudian.
Dalam cara yang sulit saya pahami, dia kemudian menjelaskan apa yang dia ingin presentasikan di rumah saya, ialah sebuah urusan yang saat itu juga saya putuskan bahwa saya tidak berminat. ”Karena itulah Bapak perlu mendengar presentasi saya, mungkin nanti berminat setelah kita ketemu,” katanya.
Dia masih menanyakan hari apa saya bisa menerima kunjungannya. Saya katakan, untuk saat ini tidak bisa, urusan saya sedang sangat banyak. Kami mengakhiri pembicaraan. Kapan-kapan saya boleh menelepon lagi ya, Pak, katanya. Saya jawab, silakan.
Saya keliru menjawab, mestinya saya jawab tidak.
Beberapa minggu kemudian dia menepati janjinya menelepon saya lagi dan menanyakan apakah sekarang saya punya waktu untuk menerima kedatangannya. Orang ini masih tetap ingin melakukan presentasi di rumah saya. Dia ingin didengar meskipun saya tidak tertarik mendengarnya dan sudah berterus terang mengatakan tidak berminat dengan urusan yang dia tawarkan. Dia mengulangi pernyataan yang sudah pernah saya dengar sebelumnya: Mungkin nanti Bapak akan berminat setelah mendengarkan presentasi saya.
”Boleh saya menanyakan satu hal?” tanya saya.
”Silakan, Pak,” katanya.
”Dari mana tahu nomor saya?”
”Ya, Pak. Nomor Bapak sudah tercatat.”
Beberapa waktu sebelum presenter yang gigih itu, seorang perempuan menelepon saya, mengucapkan selamat siang dan minta diberi waktu lima menit untuk menyampaikan sesuatu. Silakan, kata saya. Maka, dia menggunakan waktunya untuk memperkenalkan produk terbaik bagi anak-anak balita, sesuatu yang tidak saya perlukan, juga tidak diperlukan istri maupun anak-anak saya, sebab kami semua sudah bukan balita. Bisa untuk kado, Pak, katanya.
Perempuan itu berbicara sangat cepat. Kata-katanya menyerbu telinga saya seperti kawanan laron menyerbu nyala lampu di teras rumah. Saya gelagapan. Dia bicara sekitar 15 menit, begitu deras, dan saya yakin akan menjadi 49 halaman folio spasi satu jika seluruh ucapannya direkam dan diketik.
Sebelumnya lagi, pada pukul sebelas siang, telepon rumah saya berdering dan saya mengangkatnya. Seorang lelaki di ujung sebelah sana memberi tahu bahwa anak saya jatuh dari lantai 2 sekolahnya. Astaga, kata saya, kenapa anak saya sering jatuh dari lantai 2?
Sudah beberapa kali saya menerima telepon yang mengabarkan seperti itu. Kata istri saya, Nabila –teman sekolah anak saya– juga pernah dikabarkan jatuh dari lantai 2 sekolah. Dan ayahnya kehilangan 15 juta rupiah pada hari itu untuk membiayai operasi yang tidak pernah ada karena anaknya baik-baik saja.
Telepon-telepon tersebut hanya gangguan kecil bagi orang yang memutuskan menepi dari keriuhan. Hanya gerimis yang mudah diatasi dan bukan banjir celoteh sebagaimana yang terjadi di media sosial, yang sekarang saya hindari sejauh mungkin.
Saya ingin lebih banyak membaca buku dan, jika sanggup, menulis saja. Saya ingin menikmati hari-hari soliter, menikmati percakapan dengan diri sendiri, membangun persahabatan dengan diri sendiri, sebelum membangun persahabatan dengan orang-orang lain.
Untuk hal yang pertama, yaitu membaca buku, saya bisa melakukannya. Ketika membebaskan diri dari media sosial, saya memiliki waktu yang khusyuk untuk membaca buku. Namun, tidak untuk yang kedua, yaitu menulis. Menulis fiksi tidak pernah benar-benar mudah. Kebanyakan orang sering salah menilai, dan karena itu juga sering membuat anggapan yang keliru, bahwa menulis fiksi lebih mudah karena orang hanya perlu mengarang, dan mengarang adalah tindakan yang semata-mata berdasarkan khayalan. Pada kenyataannya tidak, setidaknya menurut saya, justru karena ia fiksi.
Sekarang saya semakin tidak yakin apakah saya memiliki kecakapan yang memadai, juga daya tahan, untuk menulis fiksi. Jangan-jangan, selain pemalas, saya memang tidak berbakat mengarang. Jika sampai hari ini saya terus memaksakan diri, itu karena sudah telanjur, sudah tidak bisa mundur lagi. (*)
*) Cerpenis, tinggal di Jakarta

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
