Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 11 Juli 2017 | 03.44 WIB

Belajar Usaha dari Mantan Bupati Lamongan H.R. Mohammad Faried

MESRA SAMPAI AKHIR: Faried mencium istrinya, Tri Wahyuni, saat merayakan ulang tahun pernikahan ke-50, Sabtu (8/7) di Hotel Santika Gubeng, Surabaya. - Image

MESRA SAMPAI AKHIR: Faried mencium istrinya, Tri Wahyuni, saat merayakan ulang tahun pernikahan ke-50, Sabtu (8/7) di Hotel Santika Gubeng, Surabaya.


Nama Faried pernah beken di Jawa Timur. Maklum, dia adalah bupati Lamongan periode 1989–1994 dan 1994–1999. Namanya kini melambung di dunia bisnis. Pria 75 tahun tersebut kemarin merilis buku tentang perjalanan hidupnya.

DWI WAHYUNINGSIH, Surabaya





MENJADI tua bersama pasangan adalah cita-cita setiap pernikahan. Itu pula yang diimpikan pasangan Mohammad Faried dan Tri Wahyuni. Sabtu (8/7) pasangan tersebut merayakan ulang tahun pernikahan yang ke-50. Acara yang dihadiri beberapa mantan bupati seangkatannya di Jawa Timur itu juga dimanfaatkan untuk meluncurkan buku tentang kisah hidup Faried. Penulisnya adalah Maksum dan Abd. Sukkur Rahman.



Buku tersebut menceritakan kisah perjuangan Faried semasa kecil hingga kesuksesannya membangun kerajaan bisnis dalam berbagai bidang. Faried tidak berasal dari keluarga berada. Dia lahir di keluarga sederhana yang berasal dari Kauman, Ponorogo. Kesuksesannya sekarang ini didapat berkat kerja keras dan kegigihan untuk mengubah nasib.



’’Sedari kecil saya memang dididik menjadi pribadi tangguh. Orang tua selalu mengajarkan kalau saya harus hidup,’’ ujar Faried saat ditemui di Hotel Santika kemarin. Ajaran orang tuanya itulah yang dijadikan dasar untuk menjalani hidup.



Sebelum menjalankan bisnis seperti sekarang, anak kelima dari sepuluh bersaudara tersebut sempat meniti karir sebagai pegawai negeri sipil di kantor pemerintahan kota Surabaya. Karirnya sebagai PNS dimulai dari staf di Dinas Tanah dan Rumah Kota Madya Surabaya pada 1966. Pelan tapi pasti, jabatan Faried terus meningkat hingga menjadi kepala Biro Humas dan Protokol Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada 1985–1989.



Mapan sebagai PNS, Faried akhirnya memberanikan diri menikahi sang istri yang tak lain adalah anak ibu kosnya. Pernikahan membahagiakan itu berlangsung pada 28 Juni 1967. Semenjak itu, putra pasangan almarhum H Abdurrahim dan Hj Nafsiyati tersebut tidak lagi berjuang sendiri. Bersama dengan sang istri, dia berusaha menjalankan amanah orang tua untuk menjaga dan mendidik adik serta saudara-saudaranya yang ikut ke Surabaya.



’’Habis nikah langsung istri saya tanya, dia bisa apa. Karena bisanya menjahit, akhirnya kami membuka Firly Boutique. Pengelolaannya saya juga libatkan anak. Mereka biasanya yang jadi model. Ini untuk melatih kemandirian dan rasa percaya diri mereka,’’ lanjutnya.



Sebagai modal awal, dia menggadaikan sertifikat rumah mertuanya. Karena pengembalian ke bank berjalan dengan baik, Faried pun ditawari untuk melanjutkan pinjaman. Merasa ada kesempatan, dia lantas mengambil pinjaman lagi untuk membeli angkot. Angkot tersebut kemudian dicarikan sopir. Namun, ketika angkot tersebut nganggur, Faried tidak segan mengemudikan sendiri. Sang adik pun turut serta diajak menjadi kernet. Terkadang, putrinya juga diajak dalam perjalanan antarkota dari Surabaya hingga Malang atau Probolinggo. ’’Ya, pokoknya saya selalu menerapkan ke anak dan saudara, kalau mau hidup, ya harus bergerak. Kalau diam, ya mati. Saya nggak pernah membiasakan mereka untuk minta. Kalau mau sesuatu, harus berusaha,’’ tegasnya.



Meski sudah memiliki bisnis yang cukup maju kala itu, Faried tidak lantas meninggalkan kepegawaiannya begitu saja. Bahkan, dia bersedia mengampu jabatan bupati Lamongan pada 1989–2000. Pengalaman sebagai humas sangat berguna baginya. Kemampuan komunikasi yang baik membuat dia mampu memangku jabatan tersebut tanpa menemui banyak kendala, termasuk dalam menutup lokalisasi. ’’Kalau dengan komunikasi yang baik, bahkan lokalisasi pun bisa ditutup sendiri oleh germonya. Tidak harus ada bentrokan dan rame-rame,’’ ungkap Faried.



Menjadi pegawai negeri yang memiliki usaha tentu menyita banyak waktu. Meski begitu, dia tidak pernah lupa untuk menyempatkan diri makan bersama keluarga. ’’Apa pun yang terjadi, setiap magrib saya selalu pulang untuk makan malam bersama keluarga. Waktu libur pun sepenuhnya untuk keluarga,’’ lanjutnya.



Selesai menjabat sebagai bupati, Faried berfokus pada usahanya yang sudah merambah di berbagai bidang. Mulai bisnis fashion, perkebunan, penyelenggara haji dan umrah, pembangunan tempat istirahat di Km 25 tol Gempol–Surabaya, hingga usaha tambang batu. Usahanya pun tidak selalu mulus. Naik turun. Pasang surut. Bahkan, kadang Faried harus menanggung kerugian miliaran. Misalnya yang terjadi ketika sebuah maskapai penerbangan yang membawa 88 calon haji gagal terbang pada 2003. Tetapi, beban psikologis dan materi itu tidak menjadi halangan.



Hal tersebut tentu tidak lepas dari dukungan dari keluarga tercinta, terutama sang istri yang sudah menemaninya selama 50 tahun. ’’Pokoknya, apa yang diinginkan Bapak (Faried, Red) selalu saya dukung penuh. Beliau ini figur bapak dan suami yang penyayang, sabar, toleransi tinggi, jarang marah, dan memiliki kepanutan yang baik dalam hal ibadah,’’ ujar Tri, disambut senyum Faried.



Selain dukungan keluarga, orang tua adalah panutan yang menjadikan sosok Faried seperti sekarang ini. ’’Orang tua sangat berperan dalam kehidupan saya. Selain itu, saya juga punya resep 5 T untuk bisa menjadi pengusaha yang berhasil,’’ terang Faried. Lima T yang dimaksud adalah titi, toto, tatak, tutuk, dan tuntas.



Titi berarti segala sesuatu harus dilakukan dengan penuh ketelitian. Dianalisis kelebihan dan kekurangannya. Toto berarti direncanakan bagaimana pengoperasiannya, sumber dayanya. Sedangkan tatak, artinya berani menghadapi apa pun yang menghadang di depan mata. Termasuk kerugian yang mungkin terjadi. Tutuk berarti menyelesaikan segala sesuatu hingga sampai tujuan. Jangan sampai berhenti di tengah jalan. Tuntas memiliki arti, setelah sampai tujuan, karya harus bisa diterima masyarakat. (*/c19/oni)


Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore