Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 1 Juni 2017 | 22.58 WIB

Penjaga Kelestarian Ampo, Makanan dari Tanah Liat yang Terancam Punah

TRADISI: Warli saat membuat ampo di kediamannya di Desa Jamblang, Cirebon. - Image

TRADISI: Warli saat membuat ampo di kediamannya di Desa Jamblang, Cirebon.

Pertahanan terakhir ampo di Cirebon kini berada di pundak dua perempuan sepuh. Bertahan sebagai penganan hajatan, bukan konsumsi sehari-hari.



FOLLY AKBAR, Cirebon



PADA gigitan pertama, aroma yang menguar dari kue berbentuk lonjong itu adalah sangitnya. Seperti umumnya makanan yang dimasak dengan cara dibakar.


Tapi, tetap kriyes, kriyes. Renyah, mirip keripik. Semakin dikunyah, baru pahitnya camilan dengan lubang menganga di tengah itu terasa.


’’Bagaimana, enak kan makan tanah? Nggak ada campuran apa pun,’’ kata Warli yang menyaksikan Jawa Pos mencicipi penganan buatannya pada Selasa (30/5).


Di rumah perempuan 70 tahun yang terletak di Desa Jamblang, Kabupaten Cirebon, itu, tanah liat bertebaran di banyak sudut. Nodanya juga menempel di tembok, kusen, hingga pintu dapur.


Maklum, nyaris sepanjang usianya dia bergelut dengan tanah liat. Mengolahnya menjadi kue hitam legam yang baru saja dicicipi Jawa Pos: ampo.


Itulah camilan yang identik dengan Cirebon, meski juga bisa ditemukan di beberapa kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur, khususnya Tuban. Penganan itu sempat populer, terutama sebagai sajian hajatan atau untuk oleh-oleh.


Tapi, belakangan popularitasnya kian merosot. Memasuki awal 1990-an, jumlah produsen ampo juga terus berkurang. Baik karena tidak ada regenerasi maupun karena beralih profesi. Memasuki abad milenium, jumlahnya anjlok drastis.


Bahkan, kini di Desa Jamblang yang dikenal sebagai sentra ampo, hanya tersisa dua orang yang masih bertahan. Dan, keduanya sudah sangat sepuh. Selain Warli, ada Naziri, perempuan berusia 69 tahun yang juga masih kerabatnya.


’’Kalau saya berhenti, ya bisa selesai (punah),’’ tuturnya.


Maka, dengan sisa-sisa tenaga dan kegigihannya, Warli dan Naziri bertahan. Sebab, bagi mereka, ampo bukan melulu soal pekerjaan. Namun juga tradisi yang harus dijaga. Juga, sebuah jalan hidup.


Padahal, proses membuatnya tak bisa diperingkas. Dan, bahan pembuatannya kian tak gampang dicari.


Warli menceritakan, tanah yang digunakan untuk membuat ampo bukanlah tanah liat sembarangan. Melainkan harus tanah lempung sawah yang padat dan empuk.


Itu pun mesti yang berwarna merah. ’’Kalau yang hitam, buat bikin gerabah,’’ jelasnya.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore