
Photo
JawaPos.com – Pelaku bisnis properti berharap isu sosial politik dapat segera dikendalikan pemerintah. Sebab, situasi yang tak kondusif membuat sejumlah investor dan buyer menunda keinginan untuk membelanjakan dana di sektor properti.
Ditambah lagi, hingga lepas pertengahan 2019 ini, kinerja properti belum menanjak. "Kami sangat berharap hal tersebut bisa reda. Investor hanya mau masuk ketika situasi benar-benar aman,” ujar Ketua Umum Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) Lukas Bong saat berbincang dengan media.
Lukas menilai sebenarnya dengan berbagai stimulus yang diberikan pemerintah, sektor properti sudah harus take off akhir tahun ini. "Sekarang sebenarnya sudah bagus, sejumlah pengembang besar mulai merilis proyek-proyek hunian baru. Market, baik primary maupun secondary, juga potensial," tambah Lukas.
Ketua Umum Real Estat Indonesia (REI) Soelaeman Soemawinata mengaku, peluang tersebut memang ada. Terutama saat dikabarkan terdapat pelonggaran ketentuan rasio pinjaman terhadap aset (LTV) dan pembiayaan terhadap aset (FTV) 5 persen.
Kebijakan baru yang rencananya berlaku mulai 2 Desember 2019 itu dinilai menunjukkan keseriusan Bank Indonesia mendorong penjualan properti. "Apalagi, pelonggaran itu dibarengi dengan pemangkasan suku bunga acuan BI ke level 5,25 persen," ujarnya.
Di sisi lain, ancaman resesi ekonomi kian terasa. Konsensus ekonom memperkirakan resesi ekonomi terjadi 1,5–2 tahun ke depan. Hal itu terutama disebabkan ketidakpastian ekonomi. Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Ahmad Erani Yustika mengungkapkan, dirinya tak cemas soal ancaman resesi. Sebab, Indonesia masih berpeluang untuk menarik investor.
Penyediaan infrastruktur dilakukan dengan lebih baik sejak lima tahun lalu. Peningkatan produktivitas tenaga kerja juga sedang diupayakan agar daya saing Indonesia menguat dari negara-negara lainnya.
"Ada banyak pelatihan, deregulasi, dan infrastruktur yang akan lebih memadai. Setahun lagi akan ada dampaknya yang bisa kita rasakan secara signifikan," katanya kemarin.
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menambahkan, penyederhanaan regulasi diyakini menjadi salah satu stimulus agar iklim investasi lebih cerah. Pihaknya mengedepankan deregulasi sebagai dukungan era Industri 4.0.
"Kami terus melakukan penyederhanaan regulasi dan peningkatan layanan publik melalui Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas)," ujarnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
