
Ilustrasi: Akun Kaskus Fufufafa yang diduga punya Gibran Rakabuming kedapatan menghapus banyak posting-annya. (Platform X).
JawaPos.com - Selama sepekan ini, netizen media sosial mulai dari X, Facebook, Instagram, dan Tiktok dikejutkan oleh akun Fufufafa. Pasalnya, akun Kaskus Fufufafa bersifat kontroversial karena kerap melontarkan komentar-komentar bersifat ad hominem, misoginis dan rasis.
Sebagai contoh, fufufafa melecehkan perceraian antara Prabowo Subianto dengan Titiek Soeharto.
Netizen X dengan ketangkasan dan kekritisannya menganalisis bahwa akun Kaskus Fufufafa adalah milik Gibran Rakabuming Raka, putra Presiden RI Joko Widodo yang notabene menjadi Wakil Presiden RI Terpilih mendampingi Prabowo Subianto.
Dengan adanya dugaan Gibran Rakabuming sebagai pemilik Fufufafa, maka opini publik semakin liar dengan realitas politik hari ini.
Meski demikian, Gibran masih bungkam dengan dengan kontroversi Fufufafa. Alih-alih membantah atau mengafirmasi bahwa akun Fufufafa adalah miliknya, ia malah bersikap ambigu terhadap kontroversi itu.
"Lha embuh, takono sing duwe akun.(Nggak tahu, tanya ke yang punya akun)," kata Gibran Rakabuming yang dicecar awak media saat mengunjungi Kelurahan Sondakan, laweyan, Solo, pada Selasa (10/9) lalu.
Terlepas dari itu, kontroversi Fufufafa dan Gibran Rakabuming menyadarkan publik bahwa pada dasarnya politik dan demokrasi Indonesia hari-hari ini berbasis pada sentimentalitas. Fufufafa adalah simbol normalisasi brutalitas verbal dalam ruang publik. Oleh sebab itu, opini dengan sifat ad hominem, misoginis dan rasis eksis secara normatif dan masif.
F. Budi Hardiman dalam Demokrasi dan Sentimentalitas (2018) mengatakan bahwa sentimentalitas adalah rasa komunitas isolatif sehingga minim penalaran dan intelektualitas. Selanjutnya, F. Budi Hardiman mengatakan bahwa sentimentalitas adalah kanopi dari brutalitas.
Oleh sebab itu, komentar dan opini dengan sifat ad hominem, misoginis, dan rasis kerap dilontarkan oleh para pendengung (buzzer) dan kelompok fanatis subyek atau identitas politik partikular. Sebagai contoh, sekitar 4 tahun yang lalu Ambroncius Nababan menyamakan Natalius Pigai dengan gorila melalui media foto karena menolak vaksinasi Covid-19.
Herry Priyono dalam Menyelamatkan Ruang Publik (2010) menuturkan, perspektif budaya ruang publik berpijak pada paradigma, etika, wacana, dan corak keberadaban. Artinya, media sosial sebagai bagian dari ruang publik harus berpijak pada intelektualitas agar tercipta suasana keberadaban.
Baca Juga: Tanggal Pendaftaran Wajib Militer Jeonghan Seventeen Telah Dirilis Pledis Entertainment
Dengan tersingkapnya kontroversi Fufufafa ke ruang publik, maka ini menjadi pertanda kepada masyarakat, khususnya netizen untuk meninggalkan sentimentalitas. Masyarakat sipil perlu kembali kepada intelektualitas untuk membangun kembali politik secara beradab.
Soedjatmoko dalam Etika Pembebasan (1984) mengatakan, sejarah adalah suatu alat utama untuk manusia dan bangsa guna menyadari diri dan menghadapi masa depan dalam kebebasan dan etika. Dengan demikian, kembali kepada sejarah bangsa Indonesia adalah pergulatan etis masyarakat untuk mencari nilai-nilai intelektual pada Ibu dan Bapak bangsa.

Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
13 Rekomendasi Tempat Liburan di Malang dengan Pilihan Wisata Alam, Hiburan, dan Spot Santai yang Membuat Pikiran Lebih Fresh
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
