Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 15 Mei 2019 | 05.15 WIB

Isu Koalisi Pecah, Gerindra: Kalau Mau Pisah ya Pamit Dulu lah

Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (kiri) saat menerima kunjungan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Selasa (25/7/18). Pertemuan antara SBY dengan Zulhas bertujuan untuk membahas rencana koalisi di Pilpres 20 - Image

Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (kiri) saat menerima kunjungan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Selasa (25/7/18). Pertemuan antara SBY dengan Zulhas bertujuan untuk membahas rencana koalisi di Pilpres 20

JawaPos.com - Koalisi Adil Makmur yang diisi oleh parpol pendukung Prabowo - Sandi dikabarkan sudah retak. Bahkan, Juru Bicara BPN Prabowo-Sandi, Andre Rosiade mengaku sudah mengikhlaskan PAN dan Partai Demokrat keluar dari koalisi.

"Kami tidak akan pernah melarang-melarang. Bagi yang ingin bertahan maupun yang ingin pindah silakan. Karena itu haknya koalisi. Kami menghormati apa pun keputusan dari teman-teman koalisi," ujar Andre saat dihubungi, Selasa (14/5).

Namun demikian, Andre berharap bila nantinya PAN dan Demokrat tidak bersama dengan koalisi. Maka perlu menjunjung tinggi etika yang ada. Misalnya, saat akan memilih berpisah maka sudah sewajarnya memberitahu lebih dulu.

"Prinsipnya datang tampak muka, pergi tampak punggung. Anda mau pindah kami hormati. Tapi bergabung baik-baik, pisahnya juga baik-baik. Pamitan dulu lah," kata politikus Gerindra itu.

Diketahui, akhir-akhir ini muncul kabar yang menyebukan, dua partai itu akan bergabung ke koalisi Jokowi-Ma'ruf Amin lantaran adanya pertemuan antara Presiden Jokowi dengan Ketua Umum PAN Zulikifli Hasan, dan Komandan Kogasma Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar alias Cak Imin mempersilakan apabila nantinya dua partai tersebut bergabung. Intinya adalah punya visi misi besar untuk membantu pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin ke depan.

"Ya tentu saja welcome selama bergabung kalau memang punya kemampuan meyukseskan pemerintahan 2019-2024," kata Cak Imin.

Namun demikian, Cak Imin mengaku sampai saat ini belum ada pembicaraan mengenai dua partai itu bakal bergabung. Sehingga perlu ada dialog lebih dahulu, apakah partai lain bisa menerimanya.

"Ya semua kan bisa dibicarakan (PAN dan Demokrat bergabung ke koalisi). Sampai saat ini belum ‎ada pembicaraan sama sekali," katanya.

Terpisah, pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Ujang Komarudin mengatakan dua partai itu buka peluang bakal meninggalkan Prabowo karena adanya keinginan yang didapat di 2019, misalnya soal jatah kursi menteri.

"Berpoitik itu untuk mendapatan kekuasaan. Oleh karena itu jika partai yang kemarin kalah dan menyebrang itu adalah hal yang wajar. Memang yang menang perlu merangkul yang kalah, dan yang kalah juga membutuhkan yang menang," katanya.

Ujang juga menilai, menjelang proses pengitungan KPU rampung. Partai-partai pendukung Prabowo-Sandi sudah jalan sendiri-sendiri. Contohnya adalah Demokrat dan juga PAN.

"Ingat kalau menjadi oposisi ini harus siap menderita, harus siap susah. Ini persoalannya PAN dan Demorat siap untuk itu‎," tuturnya.

Editor: Dimas Ryandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore