Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 30 Januari 2019 | 06.41 WIB

PSI Sebut Puisi Fadli Zon Jahat dan Membodohi Publik

Wakil Ketua Umum Gerindra, Fadli Zon. PSI mengkritik puisi Fadli Zon yang dinilai tak mendidik. - Image

Wakil Ketua Umum Gerindra, Fadli Zon. PSI mengkritik puisi Fadli Zon yang dinilai tak mendidik.

JawaPos.com - Juru bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Dedek Prayudi, menanggapi puisi yang ditulis Wakil Ketua Umum Gerindra,
Fadli Zon, yang diberi judul 'Ahmad Dhani'. Dalam puisi tersebut, Fadli Zon menyebutkan bahwa pentolan Dewa 19 tersebut adalah korban
rezim.


"Saya kira beliau sedang berupaya membodohi rakyat agar rakyat menyalahkan Presiden Jokowi atas vonis hakim kepada Ahmad Dhani.
Tujuannya adalah untuk memenangkan pilpres. Ahmad Dhani sudah divonis, sekarang dijadikan alat membodohi rakyat untuk kepentingan
Prabowo," kata Dedek kepada JawaPos.com, Selasa (29/1).


Dedek menerangkan bahwa Indonesia menganut paham asas trias politicas yang dianut oleh Indonesia dalam berdemokrasi.


"Di sini kekuasaan dipisah antar lembaga tinggi negara, yakni eksekutif, legislatif dan yudikatif. Yudikatif yang dalam hal ini
menentukan putusan vonis, bersih dari campur tangan eksekutif yang dikepalai Presiden," terang Dedek.


Anggota TKN Jokowi-Ma'ruf ini justru menduga bahwa Capres no urut 02 ini justru akan mendikte hukum apabila terpilih. Pasalnya dalam
debat capres-cawapres perdana lalu, Prabowo mengatakan Presiden adalah Chief Officer of law enforcement.


"Jadi itu mengindikasikan bahwa beliau percaya Presiden berkedudukan tertinggi dalam penegakan hukum, bukan hakim," ujarnya.


Dedek menghimbau Fadli Zon untuk mencontoh Ahok yang secara lapang dada menghormati dan menjalani vonis hakim.


"Contohlah pak BTP yang menerima keputusan hakim tanpa harus framing opini dengan statement subjektif yang menyesatkan. Berikanlah
edukasi dan contoh baik kepada anak muda," pungkasnya.


Berikut puisi Fadli Zon tentang Ahmad Dhani:


AHMAD DHANI


kau telah bersaksi
tentang zaman penuh persekusi
kau melihat dengan mata kepala sendiri
teater kebiadaban rezim tirani
kini kau korban kriminalisasi
ruang gerakmu makin dibatasi
kau telah didzalimi


mereka cemas kata-katamu
melahirkan kesadaran
mereka gentar dengar lagumu
membangunkan perlawanan
menabuh genderang kebangkitan


mereka bungkam kalimatmu
sambil menebar teror ketakutan
mereka hentikan nyanyianmu
sambil mencari-cari kesalahan


mereka ingin kau tunduk tersungkur
tapi kau berdiri tegak pantang mundur
mereka ingin kau berkhianat
tapi kau kokoh menjunjung amanat
membela umat
membela rakyat


perjalananmu kini menentukan
kau bukan sekedar musisi pemberani
kau penghela roda perubahan
rezim ini harus segera diganti
dan dimusnahkan

Editor: Imam Solehudin
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore