Sejumlah saksi memotret layar yang menampilkan jadwal rapat pleno rekapitulasi penghitungan suara Pemilu 2024 tingkat nasional di Kantor KPU, Jakarta, Rabu (28/2/2024).
JawaPos.com - Kompleksitas Pemilu 2024 memunculkan fenomena menguatnya split- ticket voting di Indonesia. Hal itu diungkap oleh The Strategic Research and Consulting (TSRC) berdasarkan pada hasil penelitian di dua daerah pemilihan yakni Jawa Timur V dan DKI Jakarta III.
Peneliti TSRC, Erry Setiawan menjelaskan, kekuatan politik yang terkanalisasi pada 3 (tiga) poros ini berlangsung sengit dan dinamis. Menurutnya, ada empat faktor yang dapat menjelaskan penyebab dari menguatnya split-ticket voting.
Pertama, ialah efek kontaminasi. Erry menjelaskan dari hasil riset TSRC di dua dapil itu memperlihatkan bahwa tidak linier-nya pemilih partai politik dan pemilih Pilpres disebabkan karena efek kontaminasi.
"Setiap caleg di semua tingkatan pemilihan selalu mempertimbangkan aspek kontaminasi apabila mengampanyekan pasangan capres-cawapres yang diusung oleh partai politiknya," kata Erry saat launching hasil riset "Menguatnya Split-Ticket Voting dalam Pemilu 2024- Tinjauan Strategis dan Dinamika Pemilu 2024 di Daerah Pemilihan Jawa Timur V dan DKI Jakarta III” secara daring, Jumat (17/5).
Erry juga menjelaskan, jika capres-cawapres tersebut unggul di daerah pemilihannya, caleg tersebut cenderung masif mengampanyekan dengan harapan mendapatkan efek kontaminasi positif pada perolehan suara.
"Namun sebaliknya, apabila capres-cawares tidak unggul, caleg cenderung menghindar," tuturnya.
Menurutnya, hal ini kemudian memicu terjadinya perolehan suara yang tidak linier antara suara partai dengan suara capres-cawapres yang diusung. Faktor kedua, lanjut Erry, ialah komposisi daftar pasangan calon juga memengaruhi terjadinya split-ticket voting.
"Makin banyak calon yang ditawarkan partai politik, semakin rentan terjadinya split-ticket voting," tuturnya.
Faktor ketiga ialah pengaruh kefiguran dan rendahnya identitas partai. Erry menyebutkan menguatnya politik kefiguran dan rendahnya identitas partai di Indonesia membuat pemilih mulai menempatkan preferensi politiknya pada faktor sosok atau kefiguran daripada partai politik.
"Meski demikian, fenomena ini hanya terjadi pada ranah pemilihan eksekutif, namun pada pemilihan legislatif, temuan penelitian di dua daerah pemilihan masih memperlihatkan loyalitas pemilih kepada partai politik," tuturnya.
Faktor keempat yang dijelaskan Erry ialah economic voting yang terjadi pada konstelasi pemilihan presiden 2024. Dia menyebutkan hal ini ditandai dengan tingginya kepuasan terhadap pemerintahan Jokowi dan liniearitas dukungan pemilihnya terhadap pasangan Prabowo-Gibran.
"Artinya, para pemillih yang merasa bahwa tingkat ekonominya membaik pada era Presiden Jokowi cenderung akan mendukung pasangan capres-cawapres yang diasosiasikan dengan Jokowi," pungkas Erry.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
