Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 29 Agustus 2022 | 21.34 WIB

Putra Mbah Moen dan Majelis PPP Desak Suharso Mundur dari Ketum

Ketua Umum DPP PPP Suharso Monoarfa bersama para kader saat pendaftaran Partai Politik Calon Peserta Pemilu tahun 2024 di Gedung KPU, Jakarta, Rabu (10/8/2022). Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang terdiri dari Partai Golkar, PAN dan PPP telah resmi menda - Image

Ketua Umum DPP PPP Suharso Monoarfa bersama para kader saat pendaftaran Partai Politik Calon Peserta Pemilu tahun 2024 di Gedung KPU, Jakarta, Rabu (10/8/2022). Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang terdiri dari Partai Golkar, PAN dan PPP telah resmi menda

JawaPos.com - Konflik internal PPP makin memanas. Sang Ketua Umum Suharso Monoarfa terus didesak untuk mundur dari jabatannya. Desakan itu muncul dari tiga majelis partai dan KH Abdullah Ubab Maimoen Zubair, putra almarhum KH Maimoen Zubair.

Desakan mundur terhadap Suharso Monoarfa tertuang dalam surat tertanggal 24 Agustus 2022. "Permintaan pengunduran ini kepada saudara Suharso Monoarfa ini semata hanya untuk kebaikan kita bersama sebagai pengemban amanah dari pendiri PPP," begitu petikan dari isi surat tersebut.

Petikan lainnya berbunyi, "Selanjutnya mekanisme akan diatur sesuai peraturan organisasi yang ada pada AD/ART Partai Persatuan Pembangunan (PPP)."

Surat itu ditandatangani Ketua Majelis Syariah KH Mustofa Aqil Siroj, Ketua Majelis Kehormatan KH Zarkasih Nur, dan Ketua Majelis Pertimbangan Muhamad Mardiono. Selain itu terdapat juga tanda tangan KH Abdullah Ubab Maimoen Zubair, putra almarhum KH Maimoen Zubair, dan dua petinggi PPP lainya. Yakni, KH Ahmad Haris Shodaqoh, KH Muhyidin Ishaq, KH Fadlolan Musyaffa'.

Surat itu dibenarkan oleh salah satu anggota Majelis Pertimbangan PPP, Usman M Tokan. Dia mengatakan, surat itu dilayangkan karena Suharso tidak menggubris surat pertama. Suharso bahkan terus bermanuver untuk mendekati ulama secara personal.

"Karena surat pertama dianggap angin lalu, Sumo (Suharso) mencoba membangun komunikasi ke masing-masing pribadi para kiai tapi sama prinsipnya karena itu hasil kesepakatan bersama para majelis," kata Usman kepada media, Senin (29/8).

Adapun konflik ini dipicu oleh pernyataan Suharso Monoarfa yang menyebut amplop kiai sebagai bentuk politik uang.

Sementara itu, hingga berita ini ditulis Suharso Monoarfa belum memberikan tanggapan.

Photo

Surat desakan mundur untuk Suharso Monoarfa. (ISTIMEWA)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore