Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 25 Januari 2024 | 02.10 WIB

Disinggung Saat Debat Keempat Cawapres di Pilpres 2024, Apa itu Greenflation? Simak Pengertiannya

Tangkapan layar cawapres nomor urut 2 saat debat keempat cawapres kemarin (21/1) (sumber foto : Youtube KPU RI ) - Image

Tangkapan layar cawapres nomor urut 2 saat debat keempat cawapres kemarin (21/1) (sumber foto : Youtube KPU RI )

Jawapos.com – Saat debat keempat cawapres pada minggu (21/1) lalu, sempat disinggung
oleh calon wakil presiden nomor urut 2 menanyakan perihal cara mengatasi greenflation
kepada calon wakil presiden nomor urut 3.

Dijabarkan oleh Gibran Rakabuming Raka saat debat keempat cawapres di pilpres 2024,
bahwasannya greenflation itu inflasi hijau, "kita kasih contohnya itu demo rompi kuning
di Perancis itu bahaya sudah memakan korban," dilanjut kembali "Harus kita antisipasi
dan intinya transisi menuju Indonesia hijau harus super hati-harus jangan sampai malah
membebankan transisi yang mahal pada rakyat yang kecil".

Istilah greenflation menjadi trending topik usai debat cawapres kemarin (21/1), dimana
rakyat mempertanyakan apa itu arti dari greenflation.

Dikutip jawapos.com dari mediaperkebunan.id (24/1), melansir dari kamus Collins, bahwa
greenflation atau inflasi hijau adalah perubahan siklus ekonomi hijau yang mempengaruhi
kenaikan tajam harga bahan-bahan alami.

Greenflation mengacu pada perubahan yang terjadi, perubahan ini terkait dengan kenaikan
biaya bahan baku dan energi.

Perubahan iklim dan perubahan energi juga dapat mengubah masyarakat. Mulai dari produk ramah lingkungan dan standar lingkungan yang lebih ketat hingga kenaikan permukaan air laut, perubahan-perubahan ini dapat mengubah lanskap ekonomi dan keuangan yang kita kenal sekarang.

Hal ini juga dapat menyebabkan inflasi hijau, yaitu ketidakseimbangan dimana permintaan melebihi pasokan, sehingga menaikkan harga.

Dikutip dari nordsip.com, menurut 'Era baru inflasi energi: inflasi iklim, inflasi fosil, dan
inflasi hijau', pidato tahun 2022 yang disampaikan oleh Isabel Schnabel, Anggota Dewan Eksekutif ECB, inflasi hijau adalah bagian dari inflasi yang dapat dikaitkan dengan pergeseran dalam perekonomian menuju peningkatan penggunaan teknologi ramah lingkungan.

Menurut agenda Net-Zero 2050 dari Badan Energi Internasional (IEA), pangsa energi terbarukan diperkirakan akan meningkat dari 10 persen dari bauran energi kita saat ini menjadi 60 persen dalam 27 tahun ke depan.

Meskipun ini bukan merupakan daftar lengkap alat-alat yang menjadi ciri transisi ramah lingkungan, baterai, panel surya, dan turbin angin mungkin merupakan teknologi paling penting yang mendominasi pemahaman kolektif kita tentang masa depan yang ramah iklim.

Teknologi lain dalam kategori ini mencakup LED, jaringan pintar, dan pompa panas. Untuk mencapai tujuan ini diperlukan investasi yang lebih besar pada energi terbarukan dan paparan terhadap bahan mentah terkait.

Di dunia yang ditandai dengan ketidakstabilan harga yang ekstrim, mekanisme lelang harus dapat disesuaikan sehingga harga dasar lelang dapat disesuaikan dengan tingkat inflasi yang berlaku.

Untuk mencapai hal ini, organisasi teknis harus bertanggung jawab mengelola dan mengkaji sistem lelang.

Greenflation merupakan tantangan yang sulit bagi sektor energi terbarukan.

Untuk memastikan pertumbuhan dan keberhasilan yang berkelanjutan, penting untuk memperbarui sistem lelang, menjadikannya fleksibel dan kompetitif, dan menyerahkan pengelolaan lelang kepada lembaga teknis.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore