JawaPos.com - Istri Calon Presiden nomor urut 3 Ganjar Pranowo, Atikoh Supriyanti bertemu dengan salah satu penyandang disabilitas, Nayla, 18. Pertemuan ini terjadi saat Atikoh memenuhi undangan Komunitas Disabilitas Tunarungu Indonesia (KDTI) di BUMI Pospera, Cipinang, Jakarta Timur, dalam kegiatan peringatan Hari Disabilitas Internasional.
Nayla bahkan menyempatkan diri menyiapkan lukisan khusus untuk Atikoh sejak malam hari. Selain Nayla, para anak-anak lain juga antusias atas kehadiran Atikoh. Hal itu terlihat saat para anak menarikan tarian daerah.
Atikoh tampak akrab dan meladeni tiap teman tuli yang menghampirinya untuk berfoto. Ia tampak tak kesulitan dan menyesuaikan diri dengan bahasa isyarat.
Usai melihat penampilan tari, Atikoh diajak berkeliling melihat berbagai kegiatan yang dikerjakan oleh penyandang disabilitas di komunitas tersebut. Di situlah momen Atikoh bertemu Nayla, pelajar tuna rungu yang pandai melukis.
Nayla yang telah menantikan kedatangan Atikoh, tak henti melompat dan menunjukkan antusiasmenya. Di belakangnya, terpampang dua lukisan gambar Ganjar dan Atikoh.
Nayla dengan bahasa isyarat, memberitahu Atikoh bahwa dia senang bertemu Atikoh. Lukisan di kanvas besar bergambar Atikoh, dibuat mulai pukul 22.00 WIB, semalam sebelum kegiatan.
"Jadi, dia ini ngelukis semalaman bu, tapi lukis Pak Ganjar dulu karena katanya mau datang. Tapi tadi dikasih tahu yang datang ibu, dia langsung bikin di sini," ujar Nayla diterjemahkan sang ibunda, Nayla yang tak disebutkan namanya.
Atikoh spontan memeluk Nayla usai mendengar penjelasan sang ibunda. Usai saling balas peluk, Nayla menyodorkan lukisan lain bergambar Atikoh, Ganjar, dan Alam di kanvas berukuran lebih kecil.
"Terima kasih lukisannya ya, nanti disampaikan juga ke Mas Ganjar soalnya ini lagi di luar kota. Terima kasih ya Nayla, lukisannya bagus banget," ucap Atikoh dengan bahasa isyarat.
Atikoh mengatakan, setiap individu punya potensi yang bisa dikembangkan. Sehingga dia berjanji, kedepan, pembangunan yang ada di Indonesia tidak akan meninggalkan siapapun.
"Jadi, pembangunan yang ada di Indonesia itu memang seharusnya no one left behind, ada kesetaraan semua memiliki hak yang sama untuk mengakses pendidikan, infrastruktur, dan bagaimana mereka bisa melakukan aktivitas ekonomi dan sosial," tegasnya.