Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 24 September 2023 | 23.54 WIB

Sukses Ciptakan Seribu Embung di Jateng, Ganjar Ingin Indonesia Jadi Lumbung Pangan Dunia

 

Ganjar Pranowo tak kuasa menahan tangis saat melepas jabatannya sebagai Gubernur Jawa Tengah pada Selasa (5/9). (Istimewa)

 
JawaPos.com - Provinsi Jawa Tengah sukses melakukan Gerakan Seribu Embung, khususnya dalam membantu perairan pertanian. Bahkan, sejak 2015 sudah terbangun 1.135 embung yang banyak berperan dalam mengairi sawah, khususnya sawah tadah hujan saat kemarau.
 
Keberadaan embung, besar manfaatnya untuk masyarakat, lantaran Jawa Tengah kerap dilanda bencana kekeringan saat musim kemarau, dan banjir saat musim hujan. Sehingga, air yang ditampung dalam embung dapat dimanfaatkan untuk mengairi sawah saat musim kemarau, dan menyediakan sumber air baku untuk warga. 
 
Apalagi, sebagai salah satu lumbung pangan di tanah air, Jawa Tengah harus menjaga produktivitas pertaniannya. Sementara, saat musim hujan embung berfungsi sebagai penampung air dan pengendali banjir.
 
Manfaat Gerakan Seribu Embung itu kini mulai dirasakan para petani, Sadiman  seorang petani di Desa Guwerejo, Kecamatan Karangmalang, Sragen, Jawa Tengah mengaku manfaat kehadiran embung di wilayahnya sangat bermanfaat bagi petani. Pasalnya, air irigasi menjadi melimpah sehingga para petani bisa menikmati panen tiga kali dalam satu tahun.
 
"Petani yang wilayahnya sudah ada embung kondisinya sekarang makmur dan senang. Karena embung itu sudah dirasakan manfaatnya oleh petani," ujar Sadiman, seorang petani Desa Guworejo, dikutip dari Humas Jateng, Minggu (24/9).
 
 
Sadiman mengutarakan, sejak ada embung petani tidak pernah kesulitan mendapatkan air irigasi. Karena itu, ia bersyukur dalam satu tahun dapat mengalami tiga kali panen.
 
"Dulu cuma dua kali panen, karena masa tanam ketiga kesulitan air. Sekarang dengan adanya embung, petani bisa menikmati panen tiga kali," ungkap Sadiman.
 
 
Tak hanya itu, kata Sadiman, ketersediaan air tersebut menjadikan kualitas dan kuantitas hasil panen. 
 
"Hasilnya lumayan. Dan, kalau sebelum ada embung itu 1 hektare hanya menghasilkan 5 ton, sekarang bisa sampai 7 ton per hektare," ujar Sadiman. 
 
Manfaat positif dari Gerakan Seribu Embung tak hanya dirasakan Sadiman, tapi juga Mustaqim, warga Desa Danasrilor, Kecamatan Nusawungu, Cilacap. Mustaqim mengutarakan bahwa hasil panen dari pertaniannya kini sangat baik.
 
"Dengan adanya embung program Pak Ganjar sangat bermanfaat. Biasanya tidak tanam palawija sekarang bisa tanam palawija di sekitar embung, menambah ekonomi masyarakat," ucap Mustaqim.
 
Sementara itu, mantan Gubernur Jawa Tengah dua periode Ganjar Pranowo mendorong Indonesia bisa menjadi lumbung pangan dunia. Ganjar tak menginginkan Indonesia selalu mengandalkan impor dari luar negeri.
 
Menurut Ganjar, India kini tidak lagi mau mengekspor pangan. Begitu juga dengan Thailand dan Vietnam yang mulai menahan diri. 
 
Karena itu, Ganjar menekankan perlunya aktivasi birokrasi untuk pantau ketersediaan penawaran (supply) dan permintaan (demand), menggenjot sentra produksi bahan pokok serta menyeimbangkan neraca ekspor-impor pangan.
 
"Soal pangan yang musti dipenuhi," kata Ganjar dalam acara '3 Bacapres Bicara Gagasan' di Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta, Selasa (19/9).
 
Saat masih menjabat Gubernur Jateng, Ganjar juga menyampaikan gagasan terkait dengan skema harga padi dan gabah kering yang dapat menguntungkan petani.
 
"Skema dan simulasi itu dapat mendukung mimpi Indonesia menjadi lumbung pangan dunia," ucap Ganjar saat mendampingi Presiden Jokowi melakukan panen raya padi di Desa Lajer, Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen, Jateng beberapa waktu lalu.
 
Selain skema harga panen padi, Ganjar juga mendukung adanya simulasi untuk menentukan harga padi hingga beras. Bahkan, usulan itu sempat disampaikan oleh Badan Pangan Nasional agar harga di pasaran, khususnya untuk beras, tidak melambung tinggi.
 
"Badan Pangan Nasional juga menyampaikan untuk dibuatkan satu simulasi. Simulasi inilah yang nantinya akan dipakai untuk penentuan berapa sebenarnya harga di tingkat petani yang layak agar masyarakat nanti tidak merasa berat untuk membeli harga berasnya," pungkas Ganjar.

Editor: Dimas Ryandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore