Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 1 Mei 2019 | 06.40 WIB

Pakar Bahas Pemilu 2019: Dipandang Terbaik, Paling Rumit di Dunia

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Pemilu Serentak 2019 dipandang oleh sejumlah kalangan sebagai yang terbaik sepanjang sejarah Indonesia. Salah satunya berhasil menyelenggarakan Pemilu terumit di dunia dan angka partisipasinya mencapai 82 persen.


Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini mengatakan, Pemilu 2019 pada 17 April lalu patut diapresiasi melihat antusiasme warga dan ekspresi politik dari sejumlah kalangan. Terlebih, warga juga terlibat dalam mencoblos di lima surat suara berbeda.


"Maka Pemilu 2019 bukan hal yang mudah," kata Titi dalam diskusi Menakar Kedewasaan Demokrasi Indonesia yang diselenggarakan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (30/4).


Menurut Titi, setidaknya ada dua poin penting yang membuat nilai Pemilu 2019 Ini tinggi. Pertama Indonesia berhasil menyelenggarakan Pemilu Serentak terbesar di dunia. Kemudian menyelenggarakan sistem pemilu paling rumit di dunia.


Setelah itu, kata Titi, pemilu ini juga membuktikan bahwa umat muslim sebagai penduduk mayoritas Indonesia bisa menyelenggarakan proses demokrasi. Menurut Titi, hal ini tidak mudah, mengingat di Timur Tengah muslim dan demokrasi tidak bisa jalan beriringan.


"Kita jadi negara muslim demokratis terbesar dunia. Mematahkan (argumen) Islam dan demokrasi tidak kompatibel," jelas Titi.


Meski demikian, Titi menyesali ada pihak-pihak yang kurang mengapresiasi penyelenggaraan pemilu ini. Ada upaya membangun delegitimasi terhadap penyelenggara pemilu.


"Padahal ada hukum. Tapi ada bahasa-bahasa people power dan sebagainya," kata Titi.


Sementara itu, Sekretaris Tim Kampanye Nasional Joko Widodo - Ma'ruf Amin (TKN Jokowi - Ma'ruf) Hasto Kristiyanto sependapat dengan Titi bahwa pemilu ini patut diapresiasi. Apabila ada pihak-pihak yang merasa dirugikan dalam Pemilu 2019, maka bisa ditempuh dengan jalur hukum.


"Sengketa pemilu lewat konstitusi bukan jalanan. Ini sudah teruji," jelas Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan ini.


Hasto menyadari setiap penyelenggaraan pemilu ada kekurangan dan kelebihannya. Oleh karena itu, semua pihak harus terlibat untuk menyempurnakannya, bukan mendelegitimasinya.


Siapa pun pemenang dalam pemilu 2019 ini, bukan berarti membuat pihak yang kalah menjadi rugi. Hasto mencontohkan, PDIP pernah berjuang di luar pemerintahan selama 10 tahun, tetapi semangat untuk memajukan Indonesia harus menjadi yang utama.


"Pemilu siapa yang kalah bisa memperbaiki diri, yang menang tidak boleh euforia. Karena ke depannya ada janji kampanye yang harus direalisasikan. Hal-hal yang kurang baik diperbaiki bersama. Tanpa itu politik kehilangan jati dirinya," jelas Hasto.


Di tempat yang sama, Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto - Sandiaga Uno (BPN Prabowo - Sandi) Ferry Juliantono membeberkan ada beberapa catatan sehingga pihaknya merasa dirugikan dalam Pemilu 2019 ini. Ferry melihat ada dugaan penggunaan institusi negara di Pemilu 2019 ini.


"Kami juga menemukan dugaan sumber daya keuangan negara. Kami menemukan dugaan pelanggaran netralitas aparatur sipil negara. Kami menemukan dugaan pelanggaran kebebasan pers," kata Ferry.

Editor: Imam Solehudin
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore