
LIPI: Politik Identitas Menguat di Pemilu 2019
JawaPos.com - Politik identitas atau politisasi agama diprediksi menguat pada Pilkada serentak 2018 dan Pemilu 2019. Adapun isu itu berangkat dari penyelenggaraan Pilkada DKI Jakarta 2017.
"Kita akan lihat dalam Pilkada 2018 maupun Pemilu 2019. Pemanfaatan agama dan politik identitas akan tetap menguat," ujar Peneliti Senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris, Rabu (3/5).
Mengapa bisa menguat? Haris menjelaskan bahwa salah satu faktornya karena tidak ada keseriusan pemerintah dalam melakukan pembangunan bangsa. Itu berlangsung sejak pemerintahan lalu.
Fokus pemerintah saat ini hanya pada pembangunan negara yakni dengan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Dampaknya, pada level ke-Indonesiaan dengan basis keberagaman dan pancasila tidak bisa diwujudkan sampai sekarang.
Dampak selanjutnya bahwa yang tumbuh subur adalah nasionalisme berbasis komunitas baik etnik atau agama dan sebaliknya tidak kunjung tumbuh nasionalisme berbasis kewarganegaraan. "Ini akibat kelalaian pemimpin kita atau pemerintah kita dalam melakukan pembangunan bangsa," sebut Haris.
Dia menambahkan, Pilkada DKI Jakarta adalah Pilkada yang menggunakan isu identitas dan agama yang melampaui batas. Padahal basis dari demokrasi adalah rasionalitas yang mengukur kepasitas calon yang dipilih berdasarkan kemampuan bukan atas dasar kesamaan agama atau etnik.
"Kalau kemudian Pilkada basisnya lebih kepada sentimen promordial, tentu kualitas demokrasinya mengalami penurunan sebab kinerja seseorang menjadi tidak bernilai," ucapnya.
Kenyataannya, politik identitas tidak bisa dilarang. Namun dari segi demokrasi, itu sebuah kemunduran. Karena itu, Haris menilai perlu ada penyeimbangnya. Yakni dengan pendidikan politik kebangsaan dan kewarganegaraan supaya pengaruh politik identitas tidak terlalu besar.
Memang jangka waktunya cukup pendek untuk mengantisipasi hingga Pilkada 2018 dan butuh waktu lama untuk menanamkan nilai-nilai tersebut. Akan tetapi, menurutnya itu harus diupayakan.
"Supaya referensi pemilih tidak pada identittas caleg atau paslon tapi lebih pada gagasannya, ide yang ditawarkannya. (Ini jadi) tanggung jawab negara, pemerintah. Sebab penting pendidikan pemilih untuk mencerdaskan kehidupan politik, bangsa kita," pungkas Haris. (dna/JPG)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
